Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa VI, 17 Februari 2019
Yer. 17:5-8 & 1Kor. 15:12, 16-20 & Luk. 6:17, 20-26
KITA BACA: Yesus dengan para murid “turun”: artinya sebelum itu Ia dan para murid hening di gunung berdoa kepada Bapa. Mereka turun menjumpai orang banyak dari mana-mana yang punya beraneka harapan: ada yang harapannya fisis tetapi juga ada yang harapannya psikis. Bagaimana pun juga sikap dasar mereka adalah “percaya pada Yesus, tempat tumpuan berbagai sikap dasar mereka.” Yesus menjawab harapan-harapan itu dengan mulai mengajarkan beberapa sikap dasar yang istimewa. Yesus menyentuh hal yang bermacam-macam: materiil, fisis, suasana hati dan sekitar relasi dengan sesama.
REFLEKSI KITA: Yesus tahu bahwa mereka menantikan terpenuhinya keperluan yang mendesak untuk fisik, pribadi maupun relasi. Itu akan dipenuhi-Nya. Namun Ia menyiapkan hati orang banyak itu dengan sikap batin yang penting, supaya nantinya mereka menangkap, bahwa sembuh fisis atau kepuasan afektif itu hanyalah “tanda dan sarana” dari “karunia sejati” yang lebih dalam lagi. “Dalamnya karunia” itu nampak apabila orang banyak itu dipaparkan pada “paradoks-paradoks kepuasan hidup” yang sering lebih menggegerkan indera daripada batin manusia, seperti mukjizat.
KITA MOHON: agar doa dan renungan kita tentang perjumpaan kita dengan Yesus dalam Kitab Suci dan kontemplasi atau meditasi, memang mensyukuri hal-hal yang teraba dan terasa secara harian; namun juga merasuki sukma kita sampai cinta Tuhan yang terdalam, jamahan Allah yang paling intim serta penjiwaan hidup yang termesra. Kasih Allah yang dicurahkan kepada kita dengan menjadikan kita sebagai Sahabat Yesus, melampaui kulit dan daging belaka.
“Kulit dan daging” dapat berarti urusan kesehatan fisik atau kepentingan materiil (yang bisa dimengerti; tetapi tidak memadai) untuk menjadi sahabat Yesus yang sejati. Diperlukan dalamnya relasi afektif antara kita satu sama lain dan antara kita dengan Yesus. Relasi afektif itu perlu dijiwai lebih mesra dengan hembusan Roh Kudus, supaya tidak goyah oleh rasa galau atau goyah karena stress, yang juga amat manusiawi.
Paus Fransiskus dapat menjadi teladan: bagaimana ia bereaksi terhadap aneka ‘serangan atas langkah-langkahnya, yang verbal maupun nonverbal dalam pengabdian sebagai Provinsial, Uskup, Kardinal dan Paus. Teladan terdalam adalah Tuhan Yesus sendiri, yang mengalami stress panjang dan berat; namun mengakhiri segalanya dengan bersembah: “Bapa kuserahkan nyawaku kepadaMu.” Maka “Mau menyambut Sang Sabda sebagai Karunia paling Mesra” adalah inti dalam pengalaman iman yang kita mohon.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…
Amin
