Keduanya Sama-Sama Membutuhkan Pertobatan

Renungan Harian Misioner
Sabtu Prapaskah II, 23 Maret 2019
Peringatan S. Alfonsus Toribio dr Mongroveyo
Mi. 7:14-15,18-20; Luk. 15:1-3.11-32

Sahabat-sahabat Tuhan yang terkasih,
Kita sudah menjalani 18 hari dari 40 hari Masa Tobat. Sabda Tuhan terus mengajak kita merenungkan hidup dan kekristenan kita selama ini. Tiga hari terakhir ini, Gereja mengajak kita merenungkan hidup kita melalui metode perumpaan bermakna ala Yesus untuk menyampaikan pesan berhikmah-Nya kepada kita.

Melalui perumpamaan tentang Anak Yang Hilang, Yesus mau menyadarkan dua kelompok pendengar-Nya akan kedosaan mereka. Kelompok pemungut cukai mewakili kaum hina-dina yang sering dicap pendosa atau si bungsu yang hilang. Dan kelompok si sulung yakni kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mewakili golongan elit masyarakat yang sering dianggap dan menganggap diri sebagai penjaga kebenaran, keadilan dan kemakmuran sosial.

Yang mengesankan dari perumpamaan ini yakni Yesus dengan bijak menyadarkan kedua kelompok ini bahwa mereka sama-sama berstatus anak hilang yang butuh pertobatan. Yesus memakai Anak Bungsu untuk menyadarkan kelompok pemungut cukai; yang suka mengikuti keinginan manusia-duniawi mereka, yang hanya mau mengejar materi dan kenikmatan duniawi sehingga mereka hilang menjauh dari hadirat Bapa yang penuh kasih dan perhatian.

Sedangkan atribut Anak Sulung dipakai Yesus untuk menyadarkan kaum Farisi dan ahli-ahli taurat yang sering merasa diri kaum penjaga moral publik, panji kebenaran dan teladan kebaikan masyarakat. Yesus mau menyadarkan mereka bahwa mereka pun menjauh dari jalan kehendak Bapa karena sikap sok tahu, sok benar, dan sok suci padahal mereka juga tidak mendengarkan Bapa dan tidak taat pada-Nya. Mereka lupa diri bahwa mereka juga berstatus anak seperti si bungsu yang mesti hidup dalam tuntunan kehendak Bapa bukan bertindak sesuka hati mereka bahkan bersikap seolah-olah lebih tahu dari Bapanya dan mau mengatur Bapanya dan adiknya seturut kehendaknya.

Di sini bahayanya kalau mereka mengklaim pandangan dan tindakan mereka itu sebagai kehendak Tuhan demi kebenaran, kebaikan dan keadilan. Menurut Paus Fransiskus sikap demikian akan mengurangi kebahagiaan sekaligus mengikis kemampuan dalam diri untuk mengalami kasih yang sesungguhnya –kepada Tuhan dan sesama– (when a person puts an object or a philosophy above God, it not only destroys happiness, it hinders the ability to experience the real love).

Situasi kedosaan ini sebenarnya lebih berat karena bukan hanya berkaitan dengan dosa personal seperti si bungsu, tetapi berkaitan juga dengan nasib pihak lain. Kisah penyaliban Tuhan sebenarnya terkait dosa sok suci, sok tahu dan sok benar kaum Farisi dan Ahli Taurat yang mau memerankan peran Tuhan menjadi pengadil bagi sesama. Mereka menggangap diri sebagai sauh kebenaran sehingga ajaran dan tindakan Yesus, Putra Allah dipersalahkan bahkan menciptakan isu menghojat Allah sebagai ‘senjata’ untuk melumpuhkan ajaran kebenaran Kristus. Padahal yang benar adalah mereka harus mendengarkan dan mengikuti ajaran Tuhan. Karena itu Yesus mau menyadarkan mereka bahwa mereka juga anak hilang yang disimbolkan pada si sulung.

Para pencinta Sabda Allah,

Kalau kita mau meringkas situasi kedosaan si sulung dan si bungsu dalam konteks ketidaktaatan pada kehendak Bapa karena lebih suka mengikuti kehendak sendiri, maka sebenarnya kita semua, jika kita realistis, sebenarnya melakoni dosa si sulung dan si bungsu dalam hidup. Dan sama membutuhkan pertobatan entah dalam konteks si sulung maupun si bungsu.

Kita membutuhkan sikap SADAR DIRI (self-awareness) seperti si bungsu akan ketidaktaatannya pada Bapanya yang penuh kasih berlimpah dan KEMAUAN untuk kembali ke Bapa. Kita juga perlu menyadari sifat si sulung dalam diri kita yang suka bertindak menurut keiginan kita. Hal ini bisa saja terjadi karena kita kurang punya ruang dan waktu untuk mendengarkan Bapa, sumber kebenaran dan kebaikan sejati sehingga kita akhirnya lebih suka bertindak menurut kehendak-pikiran kita dan diklaim sebagai kehendak Tuhan.

Sebab itu mari kita menggunakan masa Tobat ini untuk merenungkan diri guna memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki entah dalam konteks si sulung maupun si bungsu. 14 Stasi yang kita renungkan dalam Upacara Jalan Salib selama Masa Tobat ini kiranya membantu kita juga merenungkan si sulung dan si bungsu dalam diri, serta meningkatkan kemampuan kita mendengarkan Tuhan melalui kerelaan meluangkan waktu dan ruang bertemu Tuhan Sang Penuntun hidup kita.

Tuhan selalu memberkati kita sekalian dalam ziarah batin kita ini.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…

 Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran. Kami mohon…

 Amin

Tinggalkan komentar