Misionaris dalam Relasi dengan Allah & dengan Sesama

Renungan Harian Misioner
Selasa Prapaskah III, 26 Maret 2019
Peringatan S. Ludgerus & S. Ireneus
Dan. 3:25,34-43; Mat. 18:21-35

Renungan Harian dari Yung-Fo

Seorang misionaris diutus oleh Allah untuk memberitakan Rancangan Hidup dan Keselamatan dari Allah kepada umat-Nya. Karena itulah seorang misionaris harus memelihara dan merawat dengan baik, hubungan antara dirinya dengan Allah dan dengan sesamanya.

Firman Tuhan pada hari ini mempertemukan kita dengan Azarya dalam Bacaan Pertama dan dengan Petrus dalam Bacaan Injil.
Dari Azarya kita belajar tentang bagaimana seorang misionaris mengelola dan mengembangkan hubungannya dengan Allah, dan dari Petrus kita belajar tentang bagaimana seorang misionaris mengelola dan merawat hubungannya dengan sesama.

1. Azarya & hubungan manusia dengan Tuhan Allahnya
Azarya adalah satu dari tiga pemuda yang dibawa sebagai tawanan dari Yerusalem oleh Nebukadnezar ke istananya di Babel. Azarya bersama Daniel dan Misael serta Hananya selanjutnya oleh Nebukadnezar diberikan identitas baru. Daniel disebutnya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh, dan Azarya dinamainya Abednego (Daniel 1 : 1. 6-7).

Teks kita dalam Bacaan hari ini konteksnya adalah bahwa orang-orang muda dari Yehuda ini disuruh raja untuk menyembah berhala tetapi karena mereka menolaknya, maka mereka dihukum (Daniel 3 : 12-19). Namun harus kita ketahui, bahwa Kitab Daniel Bab 3 hanya mempunyai 30 ayat. Ternyata teks kita diambil dari Doa Azarya, yang ada pada Tambahan Kitab Daniel di bagian Deutrokanonika (Daniel 3 : 25. 34-43).

Setting-place untuk Doa Azarya ini adalah di tempat pembuangan, di Babel. Pembuangan itu terjadi sebagai hukuman karena para raja Israel dan Yehuda berpaling dari Tuhan, Allah yang sesungguhnya adalah Raja mereka. Maka pembuangan diterima sebagai penolakan oleh Allah karena umat-Nya tidak setia (T Dan 3 : 34-40). Atas nama Umat Allah, Azarya memohon pembaruan hidup. Dari sikap hidup “meninggalkan Allah,” berbalik menjadi sikap hidup “mencari wajah Allah & belas-kasihan-Nya” (T Dan 3 : 41-43).

Doa Azarya menyingkap peran seorang misionaris, yakni ketika hubungan manusia dengan Allah tercederai oleh ketidak-setiaan dan dosa, seorang misionaris melalui doa-doanya :
✓ memohonkan pengampunan Allah bagi Umat,
✓ mengarahkan umat untuk berdamai dengan Allah, mencari wajah dan belas kasih Allah supaya beroleh hidup dan pembebasan dari pembuangan.

2. Petrus & hubungan manusia dengan sesamanya
Teks kita dalam Injil menghadirkan Petrus dalam dialog dengan Yesus tentang pengampunan, yang seharusnya ada di antara manusia. Petrus menyebutkan tentang suatu angka (jumlah, kuantitas) dan meminta pendapat Yesus. Jawaban Yesus tidak menegaskan tentang kuantitas atau jumlah tertentu, melainkan menegaskan tentang kualitas dari pengampunan itu sendiri, yakni “tanpa batas tertentu” (Matius 18 : 22).

Selanjutnya, dengan menggunakan perumpamaan, Yesus menegaskan satu point lagi tentang pengampunan, yakni ketika seseorang mendapatkan pengampunan dan belas-kasih Allah, apa yang dia terima dari Allah itu pada gilirannya harus menjadi bagian dari hidupnya. Pengampunan dan belas-kasih Allah yang dialaminya, harus berulang dalam dirinya dan dalam hubungannya dengan sesama. Allah mengampuni kita supaya kitapun saling mengampuni satu sama lain (Matius 18 : 24-35).

Demikianlah, dalam hubungan dengan sesama, seorang misionaris adalah seorang pendoa dan pencari belas-kasih Allah bagi dirinya dan bagi Umat Allah seperti Azarya. Dan dalam hubungan dengan sesama, seorang misionaris adalah seorang pengampun dan pembagi rahmat pengampunan atau belas-kasih Allah.

Terima kasih ya Tuhan Allah, atas rahmat pengampunan yang Engkau sediakan secara berlimpah pada Masa Prapaskah ini. Amin. (rmg)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…

 Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran. Kami mohon…

 Amin

Tinggalkan komentar