Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XVI, 23 Juli 2019
Peringatan S. Birgitta
Kel. 14:21-15:1; MT Kel. 15:8-9,10,12,17; Mat. 12:46- 50
Orang-orang Israel sudah mulai putus asa karena pengejaran dari Firaun dan orang-orang Mesir. Mereka mulai menyesali keputusan mereka pergi meninggalkan Mesir, dan kehidupan perbudakan mereka, yang kemudian mereka rindukan. Mereka berpikir lebih baik hidup menderita dan ditindas daripada mati dibunuh dalam pengejaran di padang gurun yang gersang, dan penuh dengan ujian yang seakan tiada berkesudahan. Tapi, Malaikat Allah berjalan di belakang mereka, berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel. Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tongkatnya, membelah laut. Di luar nalar dan apa yang bisa dibayangkan seorang manusia biasa, air laut pun terbelah.
Coba kita bayangkan sejenak, jika seandainya kita berada di sana saat itu. Pada tengah malam berjalan di tengah laut yang kering, menatap jauh tinggi ke samping kiri dan kanan, air laut tegak dalam diam. Air, yang kodratnya mengalir ke tempat yang lebih rendah, saat itu tunduk, patuh pada perintah, bertindak melawan kodratnya sendiri, minggir demi mempersilahkan manusia-manusia kecil dan lemah lewat. Bagaimanakah perasaan kita saat itu? Pasti sangat luar biasa! Pasti kita akan merasa sangat diistimewakan. Bahkan Malaikat Allah ada di sana, mengawal di belakang. Siapakah manusia ini sehingga Allah begitu memperhatikannya?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita masing-masing juga pernah memiliki pengalaman istimewa ketika “Allah hadir” demi menyelamatkan kita. Saat kita berada dalam situasi terpojok, tak menemukan jalan keluar, sementara di hadapan kita tak terlihat jalan lagi, hanya ada lautan bebas yang seakan siap menelan diri kita hidup-hidup. Namun, dalam situasi genting tersebut, Allah muncul, meniupkan nafas-Nya dan air laut di hadapanpun terbelah, seketika ada sebuah jalan baru dibukakan untuk kita bisa terus maju berjalan, melanjutkan kembali hidup dengan semangat yang baru, dan perasaan “dicintai” oleh Allah.
Namun sama halnya pada kisah orang Israel, pada awalnya mereka terpana, takjub, tersadar akan kebesaran Allah, dan menjadi takut pada-Nya; lalu dalam beberapa kejap saja mereka akan kembali bersungut-sungut, bertengkar, tidak tahu bersyukur. Seakan begitu mudahnya mereka lupa pada air laut yang pernah tegak berdiri, membuka jalan bagi kaki-kaki kecil mereka lewat seraya dikawal oleh Malaikat Allah dari belakang. Momen itu entah hilang ke mana… Kita pun sering seperti itu.
Kita manusia, selalu memiliki kecenderungan akan dosa. Berulang kali Allah telah hadir begitu nyata dalam hidup kita, meneguhkan, menyelamatkan dan menunjukkan cinta-Nya. Saat-saat itu kita ingat bersyukur, mengangkat madah pujian, memuji kebesaran Tuhan, lalu kemudian di saat kesulitan kembali menghampiri, kita pun kembali memalingkan wajah, meragukan penyertaan-Nya, melupakan dahsyat cinta-Nya seakan tak ada jejak-Nya yang tertinggal.
Mengapa kita perlu terus mengulang membaca kembali kisah-kisah di Alkitab? Karena kita perlu untuk selalu diingatkan kembali, untuk selalu mau “kembali” kepada Tuhan. Karena kita selalu rentan jatuh kembali dalam dosa, dan tidak ada manusia yang dikecualikan sebelum nafasnya berakhir di dunia ini. Kita perlu untuk selalu “disadarkan kembali” betapa dahsyat cinta Allah kepada manusia. Dia, Pemilik segalanya, Dia, Penguasa jagat raya, yang mau membelah laut demi tapak-tapak kaki kecil kita boleh terus melangkah dan selamat!
(Angel – Karya Kepausan Indonesia)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…
Amin
