Utusan Selalu ‘Mengikat Pinggang’

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XXI, 29 Agustus 2019
Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis
Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29

Bacaan pertama hari ini dari salah satu Nabi Besar Perjanjian Lama. Ayat-ayat ini menunjukkan, bahwa seorang Utusan Allah, seperti Nabi Yeremia dan nantinya Yohanes Pembaptis, dipanggil untuk pengutusan amat mulia, yakni menyampaikan Sabda Allah, yang sejati. Untuk menjalankan pengutusan mulia itu, seorang nabi, juga Yohanes Pembaptis, harus siap lahir batin. Hal itu nampak dari “mengikat pinggang” dan secara manusiawi menjaga kesiapan diri, apa pun yang terjadi, sebagai konsekuensi dari kesediaannya diutus Allah. Hal itu tidak hanya ‘supaya mudah bergerak ke kiri dan ke kanan’, tetapi juga ‘untuk bersiap diri apabila ada keadaan darurat, seperti ‘hidupnya terancam oleh bahaya serangan dari luar’.

Bahkan utusan Allah yang paling sederhana, perlu menyiapkan diri seutuhnya: itu menjadi kewajiban utusan Allah di bidang intern maupun extern, seperti politis dan militer. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis dimiripkan dengan Yeremia, yang juga bercermin pada Musa, yang siap dalam segala segi pengutusan-Nya. Dalam hal Yeremia, dan Yohanes nantinya, pengutusan Allah sudah nampak dari kelahiran mereka, kelihatan dari akrabnya mereka dengan Allah (puasa, doa di gurun, dstnya) serta bahaya pengejaran dari orang yang tidak sejalan dengannya.

Merujuk pada ajaran Perjanjian Lama, Markus menggugat tidak baiknya perkawinan Herodias. Wanita inilah yang sesungguhnya marah kepada Yohanes Pembaptis, sehingga menghendaki matinya Yohanes. Sedangkan Herodes sendiri takut; tetapi dia adalah korban dari janjinya sendiri pada anak perempuannya dan dari kesombongannya di tengah publik. Rasa harga dirinya diletakkannya lebih tinggi daripada hidup Yohanes Pembaptis. Dalam hal ini tampak sekali pewarisan banyak dosa, yang mengedepankan kesombongan berdasarkan rasa harga diri yang berlebih-lebihan dari setiap orang, khususnya mereka yang menempati kursi sosial yang tinggi dengan membelakangkan keadilan dan nasib orang lain, termasuk para narapidana dan orang-orang yang kecil dan tersingkir, serta dianggap tidak berkedudukan politis dalam masyarakat.

Situasi waktu itu secara militer dan politis dapat saja berbeda dengan masa sekarang, namun sikap etis/moral pribadi seorang seperti Herodes masih serupa. Dari segi lain, seorang utusan iman, dapat saja berada dalam posisi, yang sering kali sungguh membutuhkan keteguhan hati dan keberanian; namun dasarnya tetap satu, yakni berfokus pada ‘bagaimana mewartakan Kebenaran, yang diperoleh dari iman akan Allah, Sang Kebaikan Abadi. Bagi murid Kristus, pegangan yang selayaknya menjadi penting untuk memilih sikap terbaik adalah “iman bahwa Yesus Kristuslah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dalam kondisi paling sulit kembalilah pedoman, yang diucapkan Petrus: “Kepada siapakah kami akan pergi? Engkaulah Anak Allah Yang Hidup”. Risiko yang paling total juga sudah diambil dari Guru dari Nasaret: Disalib.

Pada bagian akhir bacaan ini tersedia sikap para murid, yang berani untuk memperlihatkan diri sebagai murid dari Yohanes Pembaptis, yang dibunuh itu: mereka mengambil dan merawat sang guru. Kita juga dipanggil untuk pada posisi dan kondisi yang penuh risiko, tetap berani bertindak menunjukkan iman dan sikap etis maupun moral kita: demi Sang Kristus, “Jalan, Kebenaran dan Hidup” kita. Dalam situasi seperti itu, pegangan kita hanyalah “Allah Mulia Dan Gemilang” (AMDG) di mana pun kita diutus.

Marilah kita senantiasa memohon kekuatan Roh Kudus, untuk dikuatkan dalam iman: apa pun posisi, situasi, kondisi dan risiko kita.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan komentar