Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXVI, 02 Oktober 2019
Peringatan Para Malaikat Pelindung
Kel. 23:20-23a; Mzm. 91:1-2,3-4,5- 6,10-11; Mat. 18:1-5,10
Intisari bacaan Perjanjian Lama kali ini mau menunjukkan, betapa Allah begitu mencintai anak cucu Abraham-Isak-Yakub. Kasih itu tidak abstrak atau hanya teori saja, melainkan konkret dalam bentuk pribadi, yakni Malaikat. Selain itu, wujud nyata pendampingan Allah adalah kecukupan makan dan minum, sampai pada mendapatkan tempat tinggal tetap (“tanah warisan”), sehingga mereka boleh merasa aman serta tidak terlampau perlu merisaukan masa depan mereka.
Begitulah Gereja mewarisi “janji perlindungan” sehingga memperoleh “tradisi Malaikat Pelindung”, sebagai ungkapan “iman akan Allah Sang Mahapelindung”. Iman itu sangat kuat sampai mengalahkan kesadaran bahwa “mereka adalah pendosa”. Allah yang Mahabelaskasih, mengatasi kesalahan dan dosa manusia. Nama-nama suku bangsa lain merupakan ungkapan dari “mereka yang tidak mengimani Allah Israel” dan “tidak taat kepada Allah”. Itupun menandakan bahwa iman kepada Penyelenggaraan Ilahi itu sangat nyata: sudah sejak zaman Perjanjian Lama: tidak sebagai mitos saja, melainkan sebagai kenyataan sungguh.
Injil memperdalam iman para murid Kristus, yaitu, bahwa manusia itu begitu lemah dan memiliki daya kekuatan, seperti anak-anak kecil. Namun kelemahan dan kecilnya manusia itu dilindungi oleh Allah, yang Mahakuasa. Memang keselamatan manusia seutuhnya datang dari Allah yang Mahakuasa dan juga penuh kasih. Keselamatan manusia juga bukanlah buah dari keperkasaan dan kekuatan duniawi, melainkan dari Kebesaran dan Cinta Allah. Gambarannya adalah “setiap orang yang menyambut mereka itu (anak-anak) ya menyambut Allah sendiri”, dan karena itu mendapat keselamatan.
“Malaikat” dalam hal ini melindungi manusia yang lemah, sebagai ungkapan Allah Perkasa, yang melingkupi manusia dengan cinta kasih. Sekaligus di sini para murid Kristus diingatkan untuk tidak menjadi sombong, apabila dapat mencapai sesuatu yang ‘nampaknya besar’: sebab hal itu datang dari Allah yang berdiri di belakang setiap manusia, yang percaya kepada Allah. Oleh sebab itu, bahkan bagian masyarakat, yang biasanya tidak diperhitungkan (“yakni anak kecil”), dari sudut iman merupakan tanda kehadiran Allah, yang besar.
Hari ini kita diajak untuk mensyukuri “ALLAH YANG MAHAPELINDUNG” yang melingkupi hidup manusia senantiasa.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…
Amin
