Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XXVIII, 15 Oktober 2019
Peringatan S. Teresia dr Yesus
Rm. 1:16-25; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 11:37-41
Manusia memperoleh kekuatan batinnya bukan dari kebijaksanaannya sendiri, melainkan dari Allah, sumber kekuatan orang yang beriman. Dalam sejarah Gereja, orang lemah, seperti perempuan, yang bernama Teresia dari Avila ini, telah menjadi menonjol, bahkan disebut sebagai Pujangga Gereja. Kekuatan Teresia ditimba dari sumber yang tidak habis-habisnya, yakni Sang Kebenaran sendiri: itulah daya St. Teresia dari Yesus. Kualitas Teresia adalah dari iman yang sungguh personal dan mendalam kepada Tuhan. Jalan hidupnya mengikuti Sang Jalan, sehingga Kebenaran yang diwartakannya memang berasal dari Sang Kebenaran.
Hal itu erat sekali dengan Sang Keadilan, yang dikatakan Paulus, dalam kaitan dengan manusia, yang memperoleh Keadilan dari Allah: artinya “dibenarkan dan dipandang bebas dari tuntutan kejahatan dosa” bukan karena argumen manusiawi, tetapi karena dikaruniakan oleh Sang Putera, yang amat dicintai oleh St. Teresia. Dalam kaitan itu, kesucian Suster ini berasal bukan dari praktik manusiawi melainkan dari relasinya yang sangat kuat dengan Yesus, yang menyerahkan hidupnya habis-habisan.
Lukas mengajak umat dalam perikop ini untuk meletakkan nilai keutamaan hidupnya, bukan pada pelbagai tindakan, yang lahiriah atau manusiawi saja. Sebab sangat mudah terjadi, bahwa tata lahir orang nampaknya beres-beres saja, tetapi di dalam batin, sebenarnya orang penuh dengan noda dan dosa.
Yesus dicatat oleh Lukas sebagai Orang yang mengajarkan, bahwa persembahan sikap batin kepada Allah, yang Mahakudus, jauh lebih berharga, dibandingkan dengan bungkus lahiriah. Sebab ‘yang lahiriah dapat saja justru memancarkan kemunafikan’, sehingga tidaklah merupakan persembahan, yang berkenan kepada Allah. St. Teresia Avila mengajak para sahabatnya sekomunitas, untuk membersihkan batin dan dengan demikian membarui Ordonya, menjadi komunitas, yang mementingkan relasi penuh kasih kepada Allah. Sebab, hanyalah cara itu, yang dapat mewarnai hidup bakti, hidup membiara, yang di mana pun dan kapan pun pantas menghiasi Gereja, Sang Mempelai Kristus.
Marilah pada hari ini kita memohon, agar St. Teresia Avila mendoakan bakti kita kepada Allah, yang kita Imani dan cintai, dari lubuk hati yang terdalam sampai pada langkah bakti lahiriah setiap hari: sendiri, maupun bersama dalam komunitas kita.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…
Amin
