Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XXIX, 20 Oktober 2019
HARI MINGGU MISI SEDUNIA
Kel. 17:8-13; Mzm. 121:1- 2,3-4,5-6,7-8; 2Tim. 3:14 – 4:2; Luk. 18:1-8
Hakim vs Janda: duel yang tidak seimbang! Setidaknya itu kesan awal. Apalagi, sang Hakim diperkenalkan sebagai seorang yang “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati manusia”. Padahal, sikap “takut akan Allah” itu dasar untuk menilai secara bijak (Mzm. 111:10). Sebaliknya, “tidak takut akan Allah” selalu berkaitan dengan ketidakadilan (Im. 25:17,36,43). Seperti Allah, seorang hakim itu idealnya “tidak memihak dalam perkara melawan orang miskin, dan doa orang yang diperlakukan tidak adil didengarkan-Nya. Ia tidak mengabaikan permohonan anak-anak yatim dan keluh kesah yang dicurahkan oleh para janda.” (Sir. 35:16-17). Akan tetapi defacto, baik dalam PL (bdk. Amos 2:6-7; 5:10-13) maupun PB, kejahatan dan korupsi para hakim memang terkenal.
Janda adalah simbol manusia lemah. Posisinya rentan dalam masyakat yang dominan pria. Ketiadaan suami berarti kehilangan pembela dan sandaran. Tampaknya juga tidak ada anak yang memperjuangkan nasibnya. Ia berjuang sendirian. Hukum Taurat menuntut perlindungan terhadap janda, anak yatim dan orang asing (Kel. 22:22; Ul. 10:14-19). Akan tetapi, apalah artinya rumusan hukum di tangan hakim yang lalim dan tidak peduli? Di titik inilah muncul kejutan. Ternyata, janda ini bukanlah tipe manusia yang diam saja menerima nasibnya. Ia juga tidak mau menyuap untuk menangkan perkara. Dia yang lazimnya menjadi korban para pria, pejabat dan penguasa, justru tampil ngotot dan perkasa. Dia yang biasanya membisu, ternyata tampil tanpa ragu dan berulang-ulang meneriakkan haknya. Ia menantang kuasa dan kesewenangan. Kehadirannya mengganggu kenyamanan penguasa. Cerita Yesus ini membalikkan stereotip janda sebagai pihak yang lemah, diam dan tidak berdaya. Itulah pesan pertama: Yesus mengajak kita untuk masuk dalam cara pandang baru: cara melihat Allah, dunia, manusia, dan diri sendiri secara baru. Jemaat-Nya harus menjadi tempat di mana “para korban” berani tampil dan bersuara untuk memperjuangkan hak dan keadilan. Kehadiran para pengikut-Nya harus “mengganggu” kebiasaan dan gaya-hidup lalim, korup dan sewenang-wenang di manapun!
Kedua, Allah yang kita imani sungguh dapat diandalkan. Jika Hakim yang jahat saja akhirnya mengabulkan permohonan si janda, apalagi Bapa yang baik: Dia pasti akan membenarkan umat-Nya. Dia sungguh akan memperjuangkan dan membela kita. Kendatipun dalam hidup sehari-hari tampaknya Allah mengulur-ngulur waktu, namun Ia pasti akan datang menyelamatkan umat-Nya. Kebenaran pasti menang, perlindungan-Nya pasti datang!
Ketiga, ketekunan si janda menjadi teladan untuk selalu berdoa: senantiasa memohon pembelaan dari Allah (ay. 1). Doa seharusnya sering dan teratur, seperti doa Yesus (Luk. 3:21, dstnya) dan jemaat perdana (Kis. 1:14, dstnya). Tentu doa kita bukanlah demi mengubah hati Tuhan. Hati-Nya tidak pernah berubah: kita sudah dan tetap menjadi “orang pilihan-Nya!” (ay. 6) Doa adalah sarana untuk mengungkapkan dan memelihara iman kita kepada Allah dan Anak Manusia (ay. 8b). Doa itu ungkapkan hati dan jati-diri kita sebagai orang beriman, yang bergantung sepenuhnya pada Dia, satu-satunya Hakim dan Pembela kita.
(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…
Amin
