Free Will – The Choice is Up to Us

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XXX, 31 Oktober 2019
Peringatan S. Bruder Alfonsus Rodriguez
Rm. 8:31b-39; Mzm.109:21-22, 26-27, 30-31; Luk.13: 31-35

“Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk. 13:34b).

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan menggunakan gambaran induk ayam yang melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya sangat menyentuh. Saya pernah membaca cerita dimana pada saat sulit/bahaya, tidak semua anak ayam akan langsung lari ke ibunya, ada yang lumpuh karena panik atau mencoba mencari cara untuk menyelamatkan diri agar mereka selamat. Induk ayam tidak bisa berlarian mengumpulkan mereka secara individu, anak-anak ayam harus datang padanya. Tetapi anak-anak ayam yang berlari mencari perlindungan kepada induknya pasti akan selamat. Analogi ini untuk mengingatkan dan mengajarkan kita tentang sifat dan kondisi sejati dari hubungan perjanjian kita dengan Tuhan. Tidak hanya menyampaikan jaminan tentang keinginan Kristus untuk melindungi umat-Nya, tetapi juga menggarisbawahi fakta bahwa kita harus menginginkan perlindungan-Nya.

Analogi tersebut sama dengan kita, kita punya kehendak bebas (free will) untuk mencari perlindungan Allah atau mengandalkan diri sendiri, untuk mengikuti-Nya atau menolak-Nya. Dia menyerahkan keputusannya di tangan kita. Pada awal mula Tuhan menjadikan manusia serta menyerahkannya kepada keputusannya sendiri (Sir. 15:14), supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan (Gaudium et Spes 17).

St. Ireneus pernah mengatakan “Manusia itu berakal budi dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya” Seperti tertera dalam Bacaan I (Rm. 8:31b-39), tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan tanpa persetujuan kita. Kita adalah tuan bagi nasib kita sendiri. Jika kita memilih untuk setia kepada Allah, maka kita dapat mengandalkan Roh Kudus untuk mendukung kita dalam panggilan kita. Jika kita meninggalkan iman kita dan menyerah pada pencobaan, dosa, atau dunia, maka hal buruk apa pun yang dapat terjadi mungkin akan terjadi.

Di dalam hidup ini, Allah memanggil kita dan berseru, “Larilah kepada-Ku!”. Mungkin pada saat tertentu, ada sebuah masalah yang terus membuntuti kita. Sejauh atau secepat apa pun kita berusaha menghindar, masalah itu terus mengejar dan mendekati kita. Kita tidak dapat melepaskan diri darinya. Kita terlalu takut untuk berbalik dan menghadapi masalah tersebut sendirian. Namun pada kenyataannya, kita tidaklah sendirian. Allah senantiasa hadir, siap menolong dan menghibur kita. Yang harus kita lakukan hanyalah berbalik dari apa pun yang menakutkan kita itu, dan berlari ke arah Tuhan. Jika kita memilih mengikuti Allah dan memohon perlindungan-Nya, maka keselamatan Dia janjikan. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu (Ul. 30:19). Nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat (Ams. 18:10).

Kita pasti banyak melihat dan membaca begitu banyak baik orang kudus maupun orang awam yang memberikan inspirasi dan terang bagi orang lain. Mereka mengorbankan segala sesuatu buat Tuhan dan tidak pernah mundur walaupun mengalami banyak penderitaan di dalam perjalanan hidupnya. Salah satu contoh adalah St. Alfonsus Rodriguez yang kita rayakan hari ini di mana usahanya mengalami kesulitan, salah satu puterinya meninggal dunia di usia muda, disusul istrinya dan satunya lagi pada saat St. Alfonsus berusia 40 tahun. Selama hidupnya dia juga harus menaklukkan pencobaan-pencobaan yang berat dan penderitaan jasmani yang menyakitkan. Meskipun banyak penderitaan berat yang harus ditanggunggnya dan dia tidak mengerti rancangan Tuhan, St. Alfonsus tetap setia berdoa, memohon karunia percaya dan berpegang teguh pada harapan serta kepercayaannya kepada Tuhan. Dia tidak pernah membenamkan diri dalam kesedihan.

Pertanyaan refleksi:
Apakah saya termasuk dalam kategori anak ayam yang akan berlari ke dalam perlindungan induknya pada saat ada masalah/bahaya? Apakah saya sudah melakukan tugasku sebagai murid misioner yang dipilih dan diutus Tuhan untuk mewartakan dan menyatakan Injil belas kasih Allah dan menjadi salah satu dari mereka yang digunakan Tuhan sebagai alat untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan agar mereka bisa merasakan aman mencari Tuhan, tidak khawatir dan tidak berlari panik pada saat berhadapan dengan masalah/bahaya?

(Helen Romli – Ketua Komisi Penyebaran & Pemasaran Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

 

Tinggalkan komentar