Berbahagia Karena Mencintai

Renungan Harian Misioner
Senin, 12 Juni 2023
P. S. Yohanes Fakundus

2Kor. 1: 1-7; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 5:1-12

Semua manusia selalu menginginkan kebahagiaan. Ada pelbagai cara manusia untuk mengupayakan kebahagiaan. Namun, apa arti kebahagiaan itu dalam perspektif iman Kristiani? Yesus, dalam khotbah-Nya di bukit mengajarkan para murid-Nya arti kebahagiaan. Yesus dengan jelas menunjukkan perbedaan antara kebahagiaan yang ditawarkan-Nya dengan kebahagiaan yang ditawarkan dunia. Apa yang membedakan keduanya? Bagi dunia, kebahagiaan itu identik dengan kesuksesan, popularitas, kekuasaan, kekayaan, dan bebas dari penderitaan. Namun, bila kita merefleksikan secara lebih mendalam Sabda Bahagia, Yesus tidak menjanjikan kita kehidupan yang bahagia tanpa rasa sakit atau penderitaan. Bagi Yesus, orang yang berbahagia adalah mereka yang mengorbankan hidup mereka untuk Tuhan dan sesama!

Untuk memahami ajaran Yesus ini, kita hendaknya memiliki semangat dan pikiran Yesus. Dalam perspektif ini kita dapat memahami dengan lebih baik ketika Yesus berbicara tentang haus akan kebenaran dan murah hati, bersikap lemah lembut dan berdukacita. Namun, inti dari proses kita mengidentifikasi diri kita dengan Tuhan dan sesama adalah semangat kemiskinan. Semangat kemiskinan yang terungkap dalam sabda bahagia yang pertama, menjadi kunci dari semua ucapan bahagia yang diajarkan Yesus!

Apa arti ajaran Yesus hari ini bagi umat Kristiani? Kita hendaknya merenungkan dan memandang Sabda Bahagia itu sebagai bentuk kesaksian kita bagi Kristus, pewartaan kita tentang Kerajaan Allah, dan identifikasi kita dengan orang miskin atau mereka yang berada di luar kehidupan Kerajaan Allah. Yesus secara jelas mengatakan, “Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”; dan, “Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah karena upahmu besar di sorga…” Dalam perspektif inilah, kita tidak boleh memandang ucapan bahagia ini di luar konteksnya dan mereduksinya menjadi pedoman yang dikhususkan untuk mengejar kesucian pribadi dan gagal memahami dimensi injilinya. Sebaliknya, ucapan bahagia ini membawa kita untuk melihat secara lebih luas tentang pendirian Kerajaan Allah dan pembentukan komunitas kasih.

Sebagai konsekuensinya, kebahagiaan Kristiani akan selalu disertai penderitaan sampai Kerajaan Allah ditegakkan. Yesus telah memberi contoh bagi kita, bahwa melalui penderitaan-Nya, Ia mengungkapkan cinta sejati-Nya bagi manusia, demi keselamatan manusia. Maka, kita hendaknya memahami penderitaan yang dimaksudkan Yesus dalam ajaran-Nya dalam konteks cinta! Saat ini kita diajak untuk mempraktikan belas kasihan dan cinta melalui pengorbanan yang kita lakukan demi kebahagiaan sesama; misalnya melalui tindakan kita untuk memaafkan (pembawa damai), melepaskan apa yang yang menjadi keterikatan duniawi kita demi orang-orang yang membutuhkan, dan berbelas kasih. Cinta sejati selalu mengandung penderitaan! Jika kita takut menderita, maka kita takut mencintai. Jika tidak ada penderitaan dalam hidup kita, maka kita lebih mencintai diri kita sendiri dari orang lain. Karenanya, ketika kita merasakan penderitaan orang lain, kita merasakan apa yang mereka alami. Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan orang lain, merasakan dan berpikir dengannya, maka kita dapat menerima rasa sakitnya sebagai milik kita sendiri. Dengan demikian kita tidak mudah menghakimi mereka karena kita menyelami pergumulan batin mereka, dan motivasi di balik setiap tindakan mereka.

Akhirnya, ketika kita menderita demi Kerajaan Allah, kita dapat menemukan sukacita dan kekuatan karena kita menderita demi kebaikan umat manusia dan pada gilirannya menjadi inspirasi bagi orang lain. Santo Paulus menginsipirasi dan mendorong kita melalui penderitaannya demi misi apostolik yang ia lakukan. Mencontohi Rasul Paulus, kita menjalani apa yang menjadi puncak dari pesan Yesus dalam Sabda Bahagia, “Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacia dan bergembiralah karena upahmu besar di surga.”

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Studentat Redemptoris, Yogyakarta)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan praktik penyiksaan – Kita berdoa semoga komunitas internasional berkomitmen dengan cara-cara konkret untuk memastikan penghapusan praktik penyiksaan dan menjamin adanya dukungan bagi para korban dan keluarganya.

Ujud Gereja Indonesia: Hati Yesus – Kita berdoa, semoga kita dianugerahi rahmat untuk menghormati dan mencintai Hati Yesus, dan percaya, bahwa dalam Hati-Nya yang Maha Kudus kita boleh menemukan kekuatan dan penghiburan, lebih-lebih ketika kita dicekam oleh beban hidup dan krisis yang tak tertanggungkan.

Amin

Tinggalkan komentar