Pendoa yang Mengampuni dan Pengampun yang Berdoa

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XI, 22 Juni 2023
P. S. Paulinus Nola, S. Yohanes Fisher dan S. Thomas More

2Kor. 11: 1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15

Misi: Belajar menumbuhkan kerinduan akan perjumpaan dengan Allah dan sesama, melalui  doa serta saling mengampuni dalam kasih dan kesabaran.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Bacaan pertama dari Surat apostolik Paulus yang pertama kepada komunitas  beriman di Korintus   begitu tegas. Paulus menjelaskan bahwa dia sungguh melakukan segala sesuatu untuk mewartakan Kristus; dan bersabar dalam segala tindakannya. Kesetiaan pada Kristus melalui pewartaan-nya, mendorong Paulus untuk setia mengasihi dan bersabar terhadap semua jemaat Korintus.

Sementara sapaan Tuhan melalui Injil Suci menurut Matius menampilkan kerinduan para murid Yesus untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang pendoa yang baik.  Namun dalam  ajaran-Nya tentang doa yang baik, benar dan efektif, Yesus justru menambahkan satu aspek baru dalam doa yakni para murid-Nya mesti saling mengampuni.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Rasul Paulus menghendaki agar jemaat Korintus mengakui bahwa segala pengorbanan-nya, juga pengorbanan mereka harus berangkat dari gerakan iman yakni kasih dan kesetiaan pada Kristus, yang mendorong mereka untuk saling memperhatikan terutama kesetiaan dalam mewartakan Kristus.

Tetapi untuk membangun suatu sikap kesetiaan, pengorbanan, kesabaran dan kasih membutuhkan energi rohani yang prima. Para murid Yesus justru menyadari bahwa energi rohani yang prima itu hanya bisa diperoleh melalui komunikasi dan dialog yang berkanjang dengan Tuhan yakni DOA.

Yesus menanggapi kerinduan dan kebutuhan para murid-Nya, dengan mengajarkan mereka berdoa. Bagi Yesus berdoa berarti hadir di hadapan Tuhan apanya, tidak perlu bertele-tele karena Tuhan mengetahui apa yang sangat dibutuhkan, tetapi lebih dari itu Dia mengasihi kita. Maka berdoa bukan pertama-tama datang di hadapkan Tuhan dan meminta, melainkan hadir  di hadirat TUHAN apa adanya untuk menyapa Allah sebagai Bapa, seraya memuji DIA dan mengikuti kehendak-Nya.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Yesus mengajak kita untuk meminta hal-hal yang sangat kita butuhkan bukan yang kita sangat inginkan. Makanan sebagai simbol rezeki dan kebutuhan jasmani yang primer merupakan ungkapan permohonan yang penting, namun kebutuhan dan kenyamanan rohani adalah aspek utama yang tidak boleh digeser dari doa kita. Maka Yesus menempatkan tiga kebutuhan rohani sebagai rangkuman berbagai kerinduan iman kita yakni mohon diampuni Tuhan, tidak terjebak perangkap pencobaan dosa dan luput dari kuasa kejahatan.

YESUS mengajarkan dan mengingatkan bahwa berdoa bukan sekadar hadir sebagai ungkapan kerinduan akan Kerajaan Allah, tidak sebatas memuliakan Tuhan, menaati kehendak-Nya, sembari memohon apa yang kita butuhkan. Yesus menegaskan bahwa berdoa mesti memiliki denyutan KASIH, KESABARAN, KEMURAHAN HATI dan KESETIAN untuk saling mengampuni. Yesus tidak  mengajarkan kata-kata indah dalam doa melainkan suatu tindakan iman  hadir apa adanya di hadapan Tuhan sebagai pribadi yang berdosa dan rendah hati, bermurah hati dan penuh kasih untuk saling mengampuni sebagai anak-anak BAPA di Surga.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Kita sebagai pengikut Kristus tentu hadir sebagai pendoa. Namun doa kita hendaknya memiliki kekuatan utama yakni merindukan dan Mengasihi Allah yang mengasihi kita melalui pengampunan-Nya. Saling mengampuni merupakan wujud kasih kita sebagai anak-anak yang berdosa terhadap Bapa di Surga dan terhadap sesama saudara.

Dengan demikian kita semestinya berdoa agar Tuhan memenuhi kita dengan Kasih dan Kemurahan Hati-Nya, sehingga kita boleh menjadi pendoa yang mengampuni sekaligus menjadi pengampun yang tekun berdoa. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan praktik penyiksaan – Kita berdoa semoga komunitas internasional berkomitmen dengan cara-cara konkret untuk memastikan penghapusan praktik penyiksaan dan menjamin adanya dukungan bagi para korban dan keluarganya.

Ujud Gereja Indonesia: Hati Yesus – Kita berdoa, semoga kita dianugerahi rahmat untuk menghormati dan mencintai Hati Yesus, dan percaya, bahwa dalam Hati-Nya yang Maha Kudus kita boleh menemukan kekuatan dan penghiburan, lebih-lebih ketika kita dicekam oleh beban hidup dan krisis yang tak tertanggungkan.

Amin

Tinggalkan komentar