Dipanggil untuk Menyatakan Keagungan ALLAH

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XI, 24 Juni 2023
HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS

Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80

Para Pembaca Ren-Har KKI yang terkasih: Shalom!

Pada hari ini, kita menyatukan diri dengan seluruh Gereja yang satu, yang kudus, yang katolik, dan yang apostolik,- untuk merayakan Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Bacaan-bacaan kita pada Hari Raya ini menghadirkan berbagai “Kisah Panggilan”. Ada panggilan Yesaya, kemudian panggilan Daud dalam refleksi Rasul Paulus, dan tentu saja panggilan Yohanes Pembaptis.

Dalam Kisah Panggilan Yesaya, kita menemukan tentang tujuan untuk apa seseorang dipanggil oleh Tuhan, yakni “untuk menyatakan keagungan Tuhan,” dan “untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya” (Yes. 49: 3-5). Panggilan dengan tujuan serupa, dalam refleksi Rasul Santo Paulus tentang Saul dan Daud, ternyata bisa berubah. Saul tidak mampu menyataka keagungan Tuhan, karena panggilannya untuk menjadi raja atas umat Israel beralih kepada Daud (Kis. 13:22-23). Paulus juga berbicara tentang panggilan yang Tuhan berikan kepada Yohanes yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus (Kis. 13:22-26).

Panggilan Yesaya dan panggilan Yohanes telah ditetapkan bagi mereka sebelum kelahiran mereka. Panggilan Yohanes ini juga, terutama melalui kelahirannya, menjadi tanda kemaha-kuasaan Allah: membangkitkan keturunan dari mereka yang sudah “mati pucuk” seperti hanya Sara, isteri Abraham (Luk. 1:13-25; bdk. Kej. 11:30; 18:10-14). Kelahiran Yohanes Pembaptis ini sendiri merupakan “karya agung Allah yang dilakukan-Nya bagi keluarga Zakharia” (Luk. 1:13-25) dan sebagai ungkapan syukur atas apa yang dilakukan Allah kepada mereka, kedua orang tua Yohanes Pembaptis: Elisabet dan Zakharia, akhirnya memilih untuk lebih tunduk dan taat-setia kepada Tuhan dari pada tunduk dan taat-setia kepada adat-kebiasaan mereka dalam hal memberi nama kepada anak-anak yang diberikan Tuhan (Luk. 1:50-66).

Demikian kuasa dan kasih Tuhan yang besar terhadap Elisabet dan Zakharia, menjadikan mereka bertekad untuk tetap lestari dalam hubungan mereka dengan Tuhan, dengan memberi nama Yohanes kepada anak mereka (Luk. 1:59-64). Demi mengenang dan melestarikan kebaikan Tuhan yang telah memberi seorang anak di masa tua mereka, maka Elisabet dan Zakharia berani melepaskan diri dari tradisi, dengan lebih memilih mengikuti apa yang dirancang oleh Tuhan untuk mereka. Semoga kita juga menjadi orang-orang lebih taat-setia dan takwa kepada Tuhan sebagaimana tokoh-tokoh alkitabiah yang Tuhan pertemukan dengan kita hari ini: mulai dari Yesaya hingga Daud, lanjut ke Keluarga Bunda Maria dan Keluarga Elisabet, terus ke Rasul Paulus danakhirnya sampai kepada Yohanes dan Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga kitapun taat-setia seperti para tokoh alkitabiah seputar kelahiran Yohanes Pembaptis dan Tuhan kita Yesus Kristus ini, sehingga berkat yang mereka terima boleh menjadi berkat untuk kita juga. Amin!

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan praktik penyiksaan – Kita berdoa semoga komunitas internasional berkomitmen dengan cara-cara konkret untuk memastikan penghapusan praktik penyiksaan dan menjamin adanya dukungan bagi para korban dan keluarganya.

Ujud Gereja Indonesia: Hati Yesus – Kita berdoa, semoga kita dianugerahi rahmat untuk menghormati dan mencintai Hati Yesus, dan percaya, bahwa dalam Hati-Nya yang Maha Kudus kita boleh menemukan kekuatan dan penghiburan, lebih-lebih ketika kita dicekam oleh beban hidup dan krisis yang tak tertanggungkan.

Amin

Tinggalkan komentar