Panggilan untuk Menghadirkan Rekonsiliasi

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XIV, 12 Juli 2023
P. S. Yohanes Gualbertus

Kej. 41:55-57; 42:5-7a,17-24a; Mzm. 33:2-3,10-11,18-19; Mat. 10:1-7

Misi: Membentuk sikap batin yang tulus dalam  memaknai panggilan dan penderitaan sebagai rencana dan cara Tuhan untuk menyelamatkan dan mendamaikan.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Kitab Kejadian hari ini, berkisah tentang perjumpaan mengharukan antara Yusuf dan kesebelas saudaranya, ketika peristiwa kelaparan melanda seluruh negeri Mesir dan sekitarnya. Banyak penduduk yang datang membeli gandum di Mesir termasuk saudara-saudara Yusuf. Kisah penderitaan dan pembelian gandum oleh penduduk yang menderita kelaparan,  juga menghadirkan peristiwa perjumpaan Yusuf dengan saudara -saudaranya.  Maka sejarah Yusuf yang dijual saudara-saudaranya, kini mulai terkuak. Peristiwa ini menjadi awal sebuah rekonsiliasi yang menyatukan dan menyelamatkan.

Sementara dalam Injil suci menurut Matius  berkisah tentang panggilan kedua belas Murid Yesus. Mereka dipanggil untuk merekonstruksikan suatu rekonsiliasi, memulihkan semua derita, serta mewartakan Kerajaan Allah.

Sesama sahabat  misioner yang terkasih.

Kisah perjumpaan Yusuf dengan  kesebelas saudaranya,  tidak berhenti pada transaksi jual-beli gandum. Kisah haru di tengah rebutan gandum untuk menyambung hidup, Yusuf memulai langkah rekonsiliasi yang bermuara pada pelepasan dari berbagai penderitaan. Pada titik inilah, Kitab Kejadian mengajak kita untuk menemukan kekuatan, kebaikan, berkat serta keselamatan di balik  penderitaan yang menimpa kita.

Penderitaan, sejatinya dialami sebagai suara tangisan minta pertolongan. Dalam konteks ini, panggilan  kedua belas Murid Yesus dipahami serta diterima sebagai sebuah misi rekonsiliasi dan pelepasan yang membawa sukacita. Yesus dengan tegas menampilkan peran kedua belas Murid-Nya,  untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya, menata kembali suatu ruang rekonsiliasi, memastikan suatu  misi untuk mencari  yang hilang, serta tekun mewartakan Kerajaan Allah. Yesus juga menegaskan bahwa panggilan dan misi pewartaan akan berhasil jika para murid berada pada jalan lurus, membuka diri pada kuasa Tuhan serta tidak menyimpang.

Gema Sabda Tuhan melalui Kitab Kejadian dan Injil suci menurut Matius, mengajak kita untuk menyelami nilai terdalam dari penderitaan, bertekad untuk menemukan sesama  yang tersesat,  membangun ruang rekonsiliasi agar menyatukan kita untuk mewartakan  Kerajaan  Allah.

Sesama sahabat misioner yang terkasih.

Sebagai pengikut Kristus, kita sepatutnya menyadari bahwa gerakan iman kita adalah gerakan pewartaan untuk menggaungkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Panggilan agar bertekun dalam pewartaan justru mendorong kita untuk memastikan bahwa setiap penderitaan pasti memuat suatu peristiwa  sukacita.

Tugas perutusan kita tidak sekadar  menempatkan sukacita rohani sebagai suatu tempelan meterai belaka. Kita semestinya menggiatkan suatu gerakan mencari yang tersesat, serta bertindak kreatif untuk mengembangkan rekonsiliasi guna menggeser jauh sikap balas dendam.

Yesus telah memanggil kita dan memercayakan pada kita tanggung jawab demi mengubah penderitaan menjadi kesempatan menghadirkan sukacita. Sukacita sejati terjadi karena adanya tekad untuk menemukan yang hilang sehingga terjadilah perjumpaan yang membuahkan rekonsiliasi sejati.

Namun panggilan kemuridan kita hanya akan bisa  berjalan  sesuai kehendak Yesus mana kala, kita menaati titah Yesus Sang Guru: “Jangan menyimpang …”, tetaplah di tengah jalan  lurus dan  jangan menciptakan persimpangan sendiri. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Kehidupan Ekaristi– Kita berdoa semoga umat Katolik menempatkan perayaan Ekaristi sebagai jantung kehidupan, yang mengubah hubungan antar sesama secara mendalam, dan terbuka pada perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.

Ujud Gereja Indonesia: Kesadaran berpolitik – Kita berdoa, semoga banyak orang muda Katolik terpanggil untuk terjun dalam dunia politik dan menjadi pejabat-pejabat di pemerintahan, agar mereka bisa turut ikut membuat kebijakan demi pembangunan bangsa dan penyelesaian persoalan sosial.

Amin

Tinggalkan komentar