Memetik Kehidupan di Hari Sabat

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XV, 21 Juli 2023
P. S. Laurensius dr Brindisi

Kel. 11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc, 17-18; Mat. 12:1-8

Injil hari ini mengajak kita memandang hari Sabat yang diterapkan oleh bangsa Israel pada zaman itu. Sabat mingguan yang dimaksud adalah hari ketujuh dalam setiap minggu yang dibedakan dari hari-hari lain. Hukum Taurat menjadikan hari itu sebagai hari ‘perhentian’ – hari untuk beristirahat dari semua pekerjaan sehari-hari. Membedakannya dari hari lain berarti juga menguduskan hari itu dengan berhenti bekerja, supaya dapat beristirahat, melayani dan menyembah Allah. Perhatian dipusatkan kepada hal-hal yang menyangkut keabadian, kehidupan rohani dan kemuliaan Allah. Bagi orang Israel, pada hari itu mereka diharapkan mengatur perilaku mereka sesuai dengan pekerjaan Allah dalam penciptaan. Sekaligus menjadi pengingat bahwa mereka adalah milik Allah dan juga pengingat akan pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir.

Bagi orang Kristiani, ada beberapa alasan yang membuat kita percaya bahwa prinsip hari Sabat itu dapat diterapkan pada kehidupan kita, dengan mengkhususkan satu hari dari tujuh hari yang ada sebagai hari perhentian dan penyembahan. Yang utama adalah, kita mengingat bahwa perhentian kudus dilakukan Allah sejak penciptaan alam semesta dengan menetapkan satu hari khusus, yang diberkati dan dikuduskan-Nya. Allah menetapkan hari perhentian ini untuk kesejahteraan rohani dan jasmani manusia (Mrk. 2:27).

Maksud rohani di hari ketujuh digunakan oleh orang Kristiani untuk beristirahat dari semua pekerjaan dan mempersembahkan diri kepada Allah: seluruh ciptaan Allah dengan syukur yang melimpah, menyembah dan menghormati Allah Sang Pencipta; menghayati kehadiran-Nya melalui Firman-Nya, menikmati persekutuan dengan saudari-saudara seiman serta merayakan dengan meriah pesta rohani dalam pujian dan doa. Penyembahan dalam Ekaristi setiap hari Minggu sekaligus merupakan ungkapan di hadapan dunia bahwa kita adalah milik Kristus. Serta juga pernyataan iman bahwa Dia adalah Tuhan kita. Seperti para murid yang berjalan bersama Yesus pada hari Sabat di ladang gandum, mereka memakan gandum, yang adalah Anak Manusia yang telah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Roti hidup. Dalam perjamuan kudus, kita juga menyambut Tuhan dalam rupa roti, yang berarti menyambut kehidupan yang dianugerahkan-Nya kepada kita oleh karena kasih Bapa kepada makhluk ciptaan-Nya.

Orang-orang Farisi mempermasalahkan apa yang dilakukan para murid. Mereka memang orang bijak dan pandai, mereka juga mengenal dan melaksanakan hukum dengan baik, tetapi mereka belum mengenal kasih Bapa, sehingga tidak dapat merasakan perhentian dalam kasih Bapa itu. Mereka terus saja melelahkan diri dalam mewujudkan puluhan bentuk kegiatan yang dilarang dilakukan pada hari Sabat. Para murid dipersalahkan karena memetik bulir gandum pada hari Sabat, bukannya karena memetik gandum di ladang orang lain! Perbuatan para murid itu oleh orang-orang Farisi disamakan dengan menuai, pekerjaan yang dilarang oleh hukum Sabat itu.

Yesus menjelaskan penerapan hukum ini kepada mereka dengan ilustrasi yang diambil dari Kitab Suci. Dia ingin menunjukkan bahwa setiap hukum, termasuk hukum mengenai Sabat dimaksudkan demi manusia. Ilustrasi tentang Daud dan roti sajian dimaksudkan agar mereka mengerti bahwa sekalipun hukum membatasi bahwa roti sajian hanya diperuntukkan bagi para imam, namun bila ada kebutuhan manusia (kelaparan) sangat mendesak, maka peraturan ini dapat dibatalkan. Ilustrasi berikutnya mengingatkan bahwa di Bait Allah, setiap hari Sabat domba-domba disembelih dan roti-roti dibuat untuk persembahan; altar dibersihkan dan segala persiapan lainnya untuk menyelenggarakan ibadah. Ini dilakukan oleh para imam, yang berarti mereka juga melanggar hukum beristirahat pada hari Sabat itu. Jadi hukum Sabat itu tidak mutlak pelaksanaannya, jika para imam tidak dapat disalahkan karena bekerja untuk persiapan di Bait Allah, apalagi para murid yang bekerja bagi Kristus, mereka tidak dapat disalahkan juga. Kebenaran menyatakan bahwa Kristus jauh lebih besar daripada Bait Allah itu sendiri.

Akhirnya pesan Kristus itu mengingatkan jika Sabat seharusnya menghidupkan, bukan mematikan. Inti dari peraturan dan hukum adalah mengutamakan hidup. Sejenak berhenti bekerja merupakan pengakuan iman bahwa hidup kita bergantung pada kemurahan Allah, bukan pada materi dan karir saja. Dengan menyatakan bahwa yang dikehendaki Allah adalah belas kasihan dan bukan persembahan, ini berarti Allah menghendaki hati yang benar, jauh melebihi tindakan-tindakan lahiriah yang merupakan formalitas dan ritual agama belaka. Karena Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat, maka selayaknya kita sebagai murid-Nya menggunakan hari Sabat untuk mengikuti Dia dan memanfaatkan perhentian kita dengan cara yang benar yaitu dengan mewujudkan kasih Allah yang menguduskan dan menghidupkan. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Kehidupan Ekaristi– Kita berdoa semoga umat Katolik menempatkan perayaan Ekaristi sebagai jantung kehidupan, yang mengubah hubungan antar sesama secara mendalam, dan terbuka pada perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.

Ujud Gereja Indonesia: Kesadaran berpolitik – Kita berdoa, semoga banyak orang muda Katolik terpanggil untuk terjun dalam dunia politik dan menjadi pejabat-pejabat di pemerintahan, agar mereka bisa turut ikut membuat kebijakan demi pembangunan bangsa dan penyelesaian persoalan sosial.

Amin

Tinggalkan komentar