Mencintai YESUS Seperti Maria Magdalena

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XV, 22 Juli 2023
Pesta S. Maria Magdalena

Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Yoh. 20:1,11-18

Pada hari ini Gereja merayakan pesta St. Maria Magdalena. Penginjil Lukas memberikan beberapa catatan mengenai St. Maria Magdalena. Lukas menampilkannya sebagai salah satu dari wanita-wanita yang menemani Yesus dan kedua belas Rasul-Nya dalam pelayanan mereka (Luk. 8:2); seorang wanita berdosa yang “membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan mengeringkannya dengan rambutnya” (Luk. 7:38); dan yang diampuni dosa-dosanya(Luk. 7:47-50). Tradisi berpendapat bahwa wanita berdosa yang tidak disebutkan namanya ini mungkin adalah Maria Magdalena meskipun para ahli Kitab Suci tidak yakin dengan pandangan ini. Penginjil Yohanes juga mencatat tentang sosok Maria Magdalena, yang berdiri di dekat salib Yesus (Yoh. 19:25) Terlepas dari perdebatan tentangnya, sosok Maria Magdalena adalah seorang wanita yang sangat dekat dengan Yesus.

Apa yang dapat kita refleksikan dari perayaan hari ini? Pertama, yang benar-benar kita lihat dalam diri Maria Magdalena adalah seorang wanita yang sangat mencintai Tuhan dengan tulus dan mendalam. Perjumpaannya dengan Yesus telah mengubah seluruh pandangan dan cara hidupnya. Dibebaskan dari dosa-dosanya, Maria mampu memberikan hidupnya sepenuhnya untuk mengikuti dan melayani Yesus. Ia tidak hanya mengikuti Yesus di saat senang tetapi juga di saat susah. Dia adalah salah satu dari sedikit wanita yang berdiri di samping Yesus di bawah salib ketika para rasul dan murid-murid-Nya yang lain melarikan diri dari tempat kejadian. Dia setia kepada Tuhan bahkan ketika Dia dikutuk oleh rekan sebangsanya dan otoritas agama resmi. Begitu setianya dia sehingga dia menjadi orang pertama yang mencari tubuh Yesus di kuburan. Dia mengerti apa arti kesetiaan dalam persahabatan. Perjumpaan kita dengan Tuhan juga hendaknya mengubah kita dalam mengikuti Yesus secara lebih mendalam. Maria Magdalena mengajarkan kepada kita arti kesetiaan kita pada Tuhan yang kita cintai!

Kedua, Maria Magdalena adalah seorang rasul dengan cinta dan pengabdian total kepada Tuhan. Dia mencintai Yesus lebih dari siapa pun dan apa pun di bumi ini. Seperti yang diungkapkan oleh kitab Kidung Agung, “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemukan dia. Peronda-peronda yang berkeliling di kota menemukan aku. “Apakah kamu melihat jantung hatiku? Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemukan jantung hatiku” (Kid. 3:1,3-4a) Inilah yang dirasakan Magdalena setelah kematian Yesus. Cintanya kepada Tuhan begitu kuat sehingga dia tidak sabar untuk melihat tubuh Yesus pada cahaya pertama di pagi hari. Ketika dia tidak dapat menemukan-Nya, dia putus asa dan tidak ada jaminan yang dapat menghiburnya. Bisakah kita benar-benar mengatakan bahwa ‘Yesus adalah Dia yang dikasihi hatiku’? Dalam kenyataan, kita mencintai teman-teman kita, pasangan kita, anak-anak kita lebih dari kita mencintai Yesus. Ada yang melepaskan imannya kepada Kristus hanya untuk menikah dengan seseorang yang dikasihi, terutama jika orang itu berbeda agama. Ada yang mengorbankan waktu untuk berdoa dan beribadah, untuk orang yang dicintai atau bahkan untuk hal-hal yang bersifat hiburan. Atau, menempatkan pekerjaan dan ambisi sebagai prioritas utama daripada Tuhan. Dengan jujur kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah Yesus yang dikasihi hatiku?

Bagi kita, siapapun yang telah mengalami kasih dan kemurahan Tuhan akan sangat mengasihi Dia. Cinta tidak pernah malu membiarkan dunia tahu siapa yang dicintainya. Cinta memberi kita visi baru. Ketika kita mencintai, kita melihat hidup dengan sangat berbeda, dan juga orang-orang yang kita cintai. Ketika kita mencintai, kita menjadi sehati dengan Yesus dalam mencintai Tuhan dan sesama. Namun, kita tidak boleh mereduksi cinta hanya menjadi hubungan emosional. Kita harus bertumbuh dalam hubungan kita dengan Yesus dari pengalaman kasih-Nya yang emosional dan nyata menjadi perjumpaan mistik. Kehidupan rohani yang kuat adalah kehidupan yang tetap teguh dan kokoh bahkan di saat kita tidak merasakan kehadiran Tuhan. Inilah arti cinta sejati, bukan hanya cinta sentimental. Inilah yang terjadi pada Maria Magdalena. Kita berdoa agar Tuhan mengangkat cinta kita dari keterikatan emosional dengan tubuh duniawi Yesus ke perjumpaan mistik dengan-Nya.

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Studentat Redemptoris, Yogyakarta)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Kehidupan Ekaristi– Kita berdoa semoga umat Katolik menempatkan perayaan Ekaristi sebagai jantung kehidupan, yang mengubah hubungan antar sesama secara mendalam, dan terbuka pada perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.

Ujud Gereja Indonesia: Kesadaran berpolitik – Kita berdoa, semoga banyak orang muda Katolik terpanggil untuk terjun dalam dunia politik dan menjadi pejabat-pejabat di pemerintahan, agar mereka bisa turut ikut membuat kebijakan demi pembangunan bangsa dan penyelesaian persoalan sosial.

Amin

Tinggalkan komentar