Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XVII, 31 Juli 2023
P. S. Ignasius dr Loyola
Kel. 32:15-24,30-34; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Mat. 13:31-35; atau dr Ruybs
St. Ignasius dari Loyola sangat bersyukur atas karunia Sang Putra, yang dalam Yohanes 15:15 menyebut murid-murid-Nya “tidak lagi sebagai hamba, melainkan sebagai SAHABAT JESUS, SOCIUS IESU”. Dari semangat iman itulah, persaudaraan teman-teman Ignasius mengakui sebagai “Societas Iesu” atau Serikat Jesus, atau SJ. Pengalaman hidup penting dari ex-perwira, pemuda Basque, Spanyol Utara itu, adalah dipertobatkannya dari hidup-lama penuh dosa dan lalu menyambut panggilan, sebagai orang beriman khas, yang membuka diri untuk ‘menemani teman-temannya melakukan Latihan Rohani’, agar semakin akrab dengan Sang Kristus. Dalam suasana itu, Filipi 2:10-11 sangat tepat menjadi pilihan Antiphona Pembukaan Misa 31.7.2023 demi Kemuliaan Allah, yang mengikutsertakan Inigo dalam panggilan Yesus. Dalam pilihan itu dinyatakanlah keyakinan iman, bahwa yang mulia adalah Panggilan Allah.
Selanjutnya, Bacaan I: Kel 32:15-34 dapat direnungkan sebagai mencerminkan hidup St. Ignasius dari Loyola, yang mengandung dua sayap penting, yaitu: Inigo mengalami bagian hidup, yang diakuinya sebagai sarat dengan dosa; namun juga disambutnya sebagai penuh rahmat, karena dirangkul oleh Tuhan secara amat mesra sesudah bertobat dan diutus mendampingi banyak orang BERJALAN BERSAMA mengambil bagian dalam Pewartaan Kabar Gembira selama beratus tahun di puluhan lingkungan. Dari satu sisi disyukurinya betapa Roh Kudus menyucikan dosa-dosanya dengan “penebusan yang maha-agung”. Dari sisi lain, disambutnya pengutusan, untuk mewartakan penebusan-dosa demi Kemuliaan Allah Bapa Terpuji. Oleh sebab itu, tidak henti-hentinya banyak orang diajak memandang suasana gersang kedosaan Israel, dan disyukurinya pengudusan berkat Rahmat Keluaran dari dosa, berkat Daya Roh Kudus.
Dalam semangat itu pula, Mazmur 106 didaraskan justru untuk melambungkan puji-pujian atas kasih karunia dan kesetiaan Allah, yang memenuhi hidup Ignasius dan seluruh muridnya. Hanya kasih karunia Allah yang menjadi sumber, isi dan tujuan bakti yang dipersembahkan Ignasius maupun teman-temannya.
Betapa indahnya, bahwa Gereja memilih Injil Matius 13:31-35 sebagai bacaan, yang mengajak kita mengagumi karya Allah, sebagaimana tampak dalam hidup St. Ignasius dari Loyola serta kesadaran iman dari para sahabatnya: yaitu bahwa benih iman menjadi modal berharga, baik dalam pertobatan Ignasius, pembentukan Serikat Yesus, pelayanan mereka serta pemuliaan Allah dalam bakti suci para Murid Kristus, yang bergabung karena Latihan Rohani penuh bakti. Semuanya dipersembahkan, karena Roh Suci meresapi hidup setiap pribadi, komunitas, pelayanan karya dan pertobatan tanpa henti. Dalam pasang surut persembahan perseorangan maupun paguyuban para sahabat dari Serikat Yesus, Allah berkenan mengundang Murid Kristus, yang tidak henti-hentinya selama dan di mana-mana agar Allah dimuliakan.
Refleksi: bagaimanakah kita sekarang menyambut berkah Allah untuk pertobatan kita, pelayanan dan persembahan kita? Dapatkah kita setia, seperti Sang Putra, setia kepada pengutusan Allah Bapa demi Kemuliaan Ilahi berkat Daya Roh Kristus? Selayaknyalah Roh Cinta kasih disyukuri tanpa-tepi menyambut Kedatangan Kedua Sang Putra.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Kehidupan Ekaristi– Kita berdoa semoga umat Katolik menempatkan perayaan Ekaristi sebagai jantung kehidupan, yang mengubah hubungan antar sesama secara mendalam, dan terbuka pada perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.
Ujud Gereja Indonesia: Kesadaran berpolitik – Kita berdoa, semoga banyak orang muda Katolik terpanggil untuk terjun dalam dunia politik dan menjadi pejabat-pejabat di pemerintahan, agar mereka bisa turut ikut membuat kebijakan demi pembangunan bangsa dan penyelesaian persoalan sosial.
Amin
