Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XVIII, 12 Agustus 2023
P. S. Yohana Fransiska de Chantal
Ul. 6:4-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Mat. 17:14-20
Kita diajak Gereja, untuk merenungkan cinta kasih. S. Chantal memperlihatkan kepada kita, bagaimana menjawab cinta kasih Tuhan Yesus Kristus. Memang ia mencintai keluarganya dengan sepenuh hati. Namun hal itu dilakukannya untuk menjawab kasih sayang Sang Putra. Ia sedemikian menjawab kasih sayang Tuhan Yesus Kristus, sehingga hampir tanpa batas. Ia malah mencintai orang sakit dan umat manusia yang luas, sehingga mendirikan Tarekat, dan memanggil banyak orang untuk mengikuti jejaknya.
Refleksi kita: tentu sekarang pun kita berbakti kepada Allah Putra; apakah kita juga siap membagikan undangan cinta itu kepada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok lain dalam lingkungan pergaulan sehingga kasih sayang Allah dirasakan siapa pun dalam lingkungan pergaulan kita? Atau mengikuti perkumpulan kasih sosial atau kongregasi juga? Siapkan diri.
Bacaan I: Ul 6:4-13, mengasihi Allah dengan segenap hati. Dari Perjanjian Lama kita menyaksikan, betapa Allah mengatasi segala dosa manusia, dan memperlihatkan cinta kasih melampaui batas anak-cucu Abraham-Ishak-Yakub. Benar, cinta kasih Allah tidak dapat dibatasi oleh cakrawala suku bangsa, daerah, keluarga atau kepentingan pribadi kita. Allah yang Maha Rahim berkenan menjangkau kepada siapa pun yang mengalami duka derita. Banyak orang, yang ada di luar suku dan ikatan persaudaraan kita, membutuhkan tanda dan sarana cinta kasih lahir maupun batin. Sudah lama murid Kristus bersekutu untuk melaksanakan Matius 25: membagikan baju, kepada orang yang tidak memiiki, mencintai orang yang kesepian, dst.
Refleksi kita: sejauh manakah kita meletakkan harta surgawi di atas kepemilikan duniawi, demi Kemuliaan Ilahi bagi sesama kita?
Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4.47.51ab, Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, Allahku. Ungkapan yang terlukis dalam Mazmur Tanggapan ini mau menyatakan, betapa agung cinta kasih Allah yang boleh kita nikmati. Betapa wajar, kalau kita membuka hati untuk membalas kasih Allah.
Bait Pengantar Injil: 2 Tim. 1:10b, ingin mengungkapkan, bahwa kita mengucapkan kata, melagukan madah dan melakukan langkah cinta kasih itu bukanlah sekadar memenuhi hasrat manusiawi kita, melainkan sebagai tanda dan sarana menjawab kasih sayang Allah Bapa kita.
Bacaan Injil Mat. 17:14-20, Iman mengatasi segala duka-derita, karena kasih sayang Ilahi itu memberi terang kepada dukacita dunia untuk merangkul siapa pun. Kesedihan Santa Chantal tidak dapat melampaui kasih sayang Ilahi. Maka ia mengajak banyak orang untuk mempersembahkan duka derita, mengikuti dukacita Salib guna menyambut Kasih Roh Kristus. Buahnya adalah bahwa sampai sekarang pun banyak orang mengikuti jejaknya berbagi kasih dengan mereka yang papa dan mengalami duka lara, bukan demi kejayaan diri melainkan untuk menyambut kasih Allah.
Refleksi kita: siapkah kita menyambut Roh Kristus, untuk bergabung berjalan bersama dalam menyusuri lorong-lorong dunia masa kini, meringankan beban umat manusia, karena Sang Putra sudah mendahului dengan meninggalkan kemuliaan surgawi dan mengosongkan Diri-Nya menjadi manusia. Marilah berdoa: “Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan…”
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Hari Orang Muda Sedunia – Kita berdoa semoga perayaan hari Orang Muda Sedunia di Lisbon dapat membantu orang muda untuk menghidupi dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan mereka.
Ujud Gereja Indonesia: Cita-cita kemerdekaan – Kita berdoa, semoga pemerintah, anggota DPR, para elit politik, dan kaum cendikiawan bersama-sama serius memperjuangkan cita-cita kemerdekaan dan keutuhan bangsa, dan tidak saling bertengkar serta saling mencari kesalahan, yang membingungkan masyarakat dan memecah belah kesatuan serta kerukunan.
Amin
