Hukum Kasih

Renungan Harian Misioner
Jumat, 25 Agustus 2023
P. S. Ludovikus, S. Yosef dr Calasanz

Rut. 1:1,3-6,14b-16,22; Mzm. 146:5-6,7,8-9a,9bc-10; Mat. 22:34-40

Bagi anak cucu Abraham-Ishak dan Yakub, hukum Musa amat mengikat hati mereka. Israel amat menjunjung tinggi Taurat. Sebab semuanya disambut sebagai anugerah Allah. “Hukum Kasih” itu merangkum semua bangsa sedunia. Segala kasih sayang memeluk bangsa-bangsa, makhluk dan bahkan seluruh alam semesta. Pelukan itu sedemikian, sehingga kehidupan bersaudara mempersatukan seluruhnya: tanpa batas. Meskipun demikian, ada juga perselisihan, peperangan dan penghancuran satu sama lain. Itulah sebabnya, dalam kehidupan anak cucu Abraham Ishak dan Yakub, cinta kasih disebut sebagai HUKUM KASIH. 

Refleksi kita: apakah dalam diri dan keluarga kita, cinta kasih benar-benar meresapi seluruhnya? Ataukah hanya tinggal dalam kebiasaan dan kesenangan? Usahakanlah menyisihkan permusuhan. 

Bacaan I: Pilihan bacaan yang diambil oleh Komisi Liturgi menunjukkan, betapa cinta kasih merupakan sikap dasar manusia; yang melampaui suku dan bangsa. Kitab RUT (1:1.3-6.14b-16.22) memberikan Kisah, yang mengalir sampai ke Perjanjian Baru. Arus itu menyentuh orang-orang, yang berasal dari bangsa di luar Yahudi. Mereka membuahkan anak, yang menjadi junjungan Israel selanjutnya (Rut dst). Pelbagai krisis, yang dialami suatu keluarga, tidak membatalkan “Hukum Kasih”. Melalui Hukum Kasih itulah Perjanjian Lama dilanjutkan sampai ke Perjanjian Baru. 

Refleksi kita: pantas direnungkan, apakah dalam keluarga dan pergaulan kita, warna Hukum Kasih lebih mempererat paguyuban kita, ataukah terdesak oleh nafsu-nafsu lain? Apabila kita melakukan relasi dan hubungan satu sama lain, kepentingan cinta bersamakah? Ataukah egoisme? 

Bacaan Injil: Mat. 22:34-40, memaparkan Kehendak Yesus, bahwa dalam lubuk hati setiap umat Allah, tersimpan sesuatu, yang melampaui kemesraan relasi manusiawi dan lambang kasih segala budaya serta simbol persahabatan. Oleh sebab itu, “ikatannya juga mengatasi segala simpul persatuan”. “Hukum Ilahi” menjadi lambang cinta kemurahan hati Ilahi dan memeluk setiap jiwa: Roh Cinta kasih menjadi “energi” Penyelenggaraan Ilahi bagi semua. Alam semesta dan setiap ciptaan tersatukan dengan manusia dalam Kerajaan Cinta kasih Ilahi. Ungkapan-ungkapan cinta kasih mewarnai seluruh Pengutusan Tuhan Yesus Kristus, sedemikian, sehingga Ia mengorbankan hidup-Nya sendiri untuk menjadi Saksi Cinta Bapa karena daya Roh Cinta kasih. Bentuknya dapat berubah, tetapi intisarinya adalah Kasih Sayang Ilahi demi kita umat-Nya semua. Marilah kita mengucapkan doa Bapa Kami dengan sepenuh jiwa: menyambut Kasih Sayang Bapa Surgawi, berkat Daya Roh yang menghadirkan Sang Putra dalam semua manusia. 

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalHari Orang Muda Sedunia – Kita berdoa semoga perayaan hari Orang Muda Sedunia di Lisbon dapat membantu orang muda untuk menghidupi dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaCita-cita kemerdekaan – Kita berdoa, semoga pemerintah, anggota DPR, para elit politik, dan kaum cendikiawan bersama-sama serius memperjuangkan cita-cita kemerdekaan dan keutuhan bangsa, dan tidak saling bertengkar serta saling mencari kesalahan, yang membingungkan masyarakat dan memecah belah kesatuan serta kerukunan. 

Amin

Tinggalkan komentar