Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXI, 30 Agustus 2023
P. Beato Ghabra Mikael
1Tes. 2:9-13; Mzm. 139:7-8,9-10,11-12ab; Mat. 23:27-32
Kecaman Yesus pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam bacaan hari ini, merupakan bagian dari litani kecaman Yesus, mengkritik kemunafikan dan kelaliman mereka. Aturan-aturan agama yang ditetapkan bertentangan dengan inti ajaran agama itu sendiri. Praktik kesalehan dilakukan mereka hanya sebagai pameran atau tontonan untuk mendapatkan pujian. Mereka tidak menjadi teladan dalam perbuatan mereka. Agama disalahgunakan sebagai alat bagi egoisme dan kepentingan diri sendiri. Unsur keadilan, belas kasih, kejujuran dan kesetiaan dalam ajaran agama diabaikan.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat diibaratkan Yesus seperti kubur yang dilabur putih. Tampak bagus dan indah, namun di dalamnya penuh dengan tulang belulang dan kotoran. Hipokrisi atau kemunafikan memang terjadi di mana-mana. Bukan di zaman Yesus saja, di zaman sekarang pun dapat kita lihat hilangnya unsur kesakralan agama. Sisi gelap agama terlihat dari maraknya ketidakadilan, korupsi, ketidaksetiaan dan kekerasan, yang bahkan dapat terjadi di bawah atap Gereja.
Kecaman Yesus juga berlaku bagi kita saat ini. Godaan yang ada di zaman dulu masih ada di zaman sekarang. Bahkan godaan itu lebih besar lagi dengan adanya dukungan teknologi. Medsos bisa menjadi arena “pamer kesalehan”. Perbuatan-perbuatan baik dan karya amal yang dilakukan, dipamerkan untuk publikasi diri dan keuntungan pribadi. Lalu dibungkus dengan alasan demi menginspirasi dan mengajak orang lain agar semakin banyak yang terlibat. Panggung dunia maya memang ujian yang sulit untuk dilewati. Orang-orang mengejar tepukan dan follower, lupa akan tugasnya untuk menjadi pengikut sejati Kristus. Kerendahan hati dan ketulusan menjadi barang langka dan ketinggalan zaman. Padahal itulah keutamaan yang diperlukan dalam pewartaan Kerajaan Allah.
Jangan peralat agama demi kepentingan diri sendiri. Agama merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita harus menanggalkan pakaian kemunafikan dan mengosongkan diri. Kita hanya dapat menemukan Tuhan dalam praktik keagamaan yang tersembunyi dan di dalam batin yang sunyi. Di mana hanya ada Tuhan dan aku saja. Jangan terjerat godaan masa kini. Jaga terus kebeningan hati. Jadikan pelayanan kita terhadap sesama sebagai tanggapan murni akan kasih Allah di jalan kesunyian publikasi. Cukup hanya diketahui oleh Allah saja.
(Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Hari Orang Muda Sedunia – Kita berdoa semoga perayaan hari Orang Muda Sedunia di Lisbon dapat membantu orang muda untuk menghidupi dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan mereka.
Ujud Gereja Indonesia: Cita-cita kemerdekaan – Kita berdoa, semoga pemerintah, anggota DPR, para elit politik, dan kaum cendikiawan bersama-sama serius memperjuangkan cita-cita kemerdekaan dan keutuhan bangsa, dan tidak saling bertengkar serta saling mencari kesalahan, yang membingungkan masyarakat dan memecah belah kesatuan serta kerukunan.
Amin
