Gadis yang Mana yang Kau Pilih?

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XXI, 01 September 2023
P. S. Pedro Armengol

1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12; Mat. 25:1-13

Kisah Injil hari ini (dan kedua perikop berikutnya), tidak bermaksud menakut-nakuti kita mengenai masa yang akan datang. Kisah ini bertujuan untuk menyadarkan kita mengenai pentingnya ‘saat ini’ – yaitu waktu yang diberikan Tuhan untuk hidup dan menyediakan ‘minyak’ yang kita butuhkan. Allah memberi kehendak bebas kepada manusia ciptaan-Nya untuk memilih masa depan dengan bertanggung jawab.

Perumpamaan ini mengingatkan kita akan pesan pada perumpamaan lalang-gandum dan jala besar (Mat. 13:24-30,36-43,47-50): supaya para murid jangan menganggap keselamatan adalah sesuatu yang otomatis diperoleh sebagai hak pengikut Yesus, melainkan sebuah perkara yang perlu diperjuangkan. Naskah ini juga menggaungkan kembali pesan penutup khotbah di bukit: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga,” yang kemudian diikuti dengan ditampilkannya dua kelompok orang: yang bijaksana, yang mendengarkan serta melakukan perkataan Yesus; dan yang bodoh, yang mendengarkan-Nya tetapi tidak melakukannya (Mat. 7:21, 24-26).

Hari ini kita melihat kembali orang yang bijaksana dan yang bodoh itu. Suatu tantangan untuk melihat diri kita sendiri melalui gadis-gadis yang bodoh, supaya dapat bersikap seperti gadis-gadis yang bijaksana itu sambil berusaha menyelami apakah arti terdalam tentang keselamatan dan kebinasaan kekal di masa depan. Jumlah sepuluh gadis melambangkan seluruh anggota komunitas Gereja, jemaat yang adalah mempelai Kristus (bdk. Ef. 5:27). Maka pesan ini berlaku bagi kita semua, tanpa terkecuali.

Masa depan kita adalah berjumpa dengan Kristus, Sang Pengantin pria, yang mana hari dan jamnya tidak kita ketahui kapan akan tiba. Tugas jemaat adalah mengasihi dan merindukan kedatangan Sang Pengantin pria, agar kemudian bersama-sama dengan-Nya masuk ke dalam ruang perjamuan. Gadis-gadis itu tidak diam saja dalam penantian, melainkan pergi menyambut-Nya. Hidup, sejatinya merupakan sebuah perjalanan pergi, menghampiri suatu kenyataan kepada kenyataan berikutnya. Kita tahu pasti, bahwa setiap hari dan setiap saat adalah suatu langkah menuju kepada Dia. Kita harus berani melepaskan serta meninggalkan masa silam, demi menggapai yang baru. Seperti digambarkan melalui para gadis itu, jemaat harus tahu apa yang harus dipersiapkan untuk memperlengkapi dirinya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Waktu kedatangan sang mempelai tidak diketahui dengan pasti. Jemaat harus terus berjaga-jaga dan siap sedia, dengan pelita dan minyaknya.

Kita diberi kehendak bebas, mau memilih menjadi gadis bodoh atau bijaksana. Dengan hikmat, mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, membangun di atas batu dan bukan di atas pasir. Tanggung jawab kita mengembangkan kebijaksanaan, bukan kebodohan. Kebodohan adalah tidak mempunyai pelita yang dapat menghasilkan terang kasih Bapa yang tercurah ke dalam hati kita. Pelita adalah gambaran orang percaya yang mampu menjadi terang di tengah-tengah masyarakat melalui perbuatan-perbuatan baik, menjadi saksi kasih Bapa. Minyak, melambangkan iman yang sejati. Kebenaran dan kasih yang terus menyala di dalam Diri Allah dan Putra-Nya yaitu Roh Kudus, dicurahkan ke dalam hati kita agar terus-menerus dimiliki dalam hidup yang bermakna, menanggapi kasih Allah dengan mengasihi sesama. 

Dengan terus-menerus mengasihi sesama dan membangun relasi dengan Kristus, maka kita dapat mengisi hari-hari kita dengan memelihara minyak kasih yang diperlukan untuk menerangi pelita kehidupan kita.  Semua itu dilakukan sambil bertekun dalam iman sambil menantikan kedatangan-Nya agar pada waktu-Nya kita beroleh keselamatan kekal. Lalai memelihara relasi pribadi dengan Yesus, menyebabkan kita kehabisan minyak kasih dan pelita kehidupan kita mati. Saat Yesus datang, kita dikucilkan dan dibuang pada kebinasaan. 

Gadis yang bodoh, terlambat sadar. Mereka tidak menumbuhkan Roh yang dihayati dengan kasih terhadap sesama. Dan mereka tidak dapat meminta minyak itu dari orang lain. Tindakan kasih tidak dapat diwakilkan oleh siapapun, karena kasih itu adalah identitas masing-masing pribadi. Mereka harus ‘mencarinya’ pada penjual minyak, yaitu kaum miskin yang harus dikasihi. Jika terlalu lama menunda untuk mengasihi sesama, maka kita sama dengan gadis bodoh yang tidak pernah mengenali siapa sesungguhnya Mempelai laki-laki itu. 

Karena itu penting untuk mengerti makna dan tujuan ‘saat ini.’ Jangan berlambat! Selagi kita masih hidup, selalu adalah saat untuk bertobat dari egoisme bodoh kepada kasih yang bijaksana yang dibagikan kepada sesama. Mau jadi gadis seperti apakah Anda? (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalMereka yang terpinggirkan – Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan, dan berada dalam situasi yang tidak manusiawi, semoga mereka tidak diabaikan oleh lembaga-lembaga masyarakat dan tidak dipandang lebih rendah dan kurang diperlukan. 

Ujud Gereja IndonesiaInspirasi pengampunan – Kita berdoa, semoga kita rajin membaca dan menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang pertobatan, sehingga kita disadarkan, bahwa manusia siapa pun mempunyai hak untuk diampuni, jika mau menyesali kesalahannya, dan mohon pengampunan dari Tuhan yang Maha Rahim. 

Amin

Tinggalkan komentar