Sabat yang Menyembuhkan

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XXIII, 11 September 2023
P. S. Protus dan Hyasintus

Kol. 1:24 – 2:3; Mzm. 62:6-7,9; Luk. 6:6-11

Yesus sudah beberapa waktu lamanya berkarya di Galilea. Semakin hari semakin banyak orang yang menggabungkan diri sebagai murid-Nya. Orang-orang yang memusuhi-Nya pun tidak tinggal diam, mereka terus berusaha mencari cara untuk menjerat Yesus dan mencari-cari kesalahan-Nya. Hari ini, lagi-lagi kita melihat Yesus berurusan dengan mereka tentang hari Sabat. Sebenarnya Yesus lebih menekankan mengenai hukum moral yang tidak akan dihapuskan-Nya, melainkan digenapi dan dilengkapi melalui Injil-Nya. Kisah pertama perikop ini, ketika murid-murid-Nya memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat sudah pernah kita bahas beberapa waktu yang lalu. Dan pada hari ini kita melihat Yesus sendiri, menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya pada hari Sabat lain. Kedua cerita ini kejadiannya tidak bersamaan, tetapi keduanya dirancang untuk meluruskan kekeliruan para ahli Taurat dan orang Farisi terkait dengan hari Sabat yang mereka persyaratkan dengan ketat.

Yesus masuk ke dalam rumah ibadat, lalu mengajar. Ini adalah teladan kegiatan yang sesuai dengan kewajiban kita dalam upaya menguduskan hari Sabat, yaitu menghadiri pertemuan kudus. Pada masa kini, kita wujudkan dalam Ekaristi. Di rumah ibadat itu Yesus mengajar, sebagaimana kita dalam mengikuti Ekaristi, juga mendengar dan menerima pengajaran dari Yesus. Bagi Yesus, dalam setiap kesempatan, bukan hanya di rumah ibadat, Ia selalu mengajar. Juga bukan untuk murid-murid-Nya saja, melainkan kepada orang banyak yang ada di sana.

Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Inilah gambaran orang yang ‘sakit’ dan mau datang ke hadapan Kristus, duduk di antara orang-orang yang belajar dari Yesus. Orang-orang yang setia mempelajari ajaran-ajaran-Nya, akan beroleh anugerah ‘kesembuhan.’ Mereka yang letih-lesu dan berbeban berat, akan dipulihkan dalam Ekaristi yang menyembuhkan. Sebagian dari mereka yang datang dan mendengarkan pengajaran-Nya, berharap memperoleh kesembuhan dari-Nya. Tetapi ada juga orang-orang yang hanya datang untuk berseteru dengan-Nya, mengamat-amati kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tujuan mereka hanya untuk menemukan alasan yang dapat mempersalahkan Dia.

Yesus mengetahui pikiran mereka, dan tahu apa yang mereka rencanakan. Maka Yesus menyuruh orang yang sakit itu bangun dan berdiri di tengah. Yesus ingin melihat dan menguji iman dan keberanian dari orang itu, sekaligus ingin agar para lawan-Nya ini mengakui anugerah kebaikan Allah yang dilakukan pada hari Sabat. Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan yang menantang keyakinan hati nurani mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat?” Maksud dari pertanyaan Yesus ini sebenarnya ingin mendapat jawaban langsung apakah benar peraturan Sabat yang mereka terapkan itu, untuk mencegah orang berbuat baik pada hari Sabat? Hal mana bertentangan dengan Yesus yang selalu mengajarkan bahwa untuk berbuat baik itu harus dilakukan setiap ada kesempatan dan tidak ditunda-tunda. Maka Yesus pun menyembuhkan orang itu, serta memulihkan tangan kanannya dengan satu perkataan saja, tanpa menunggu jawaban dari para musuh-Nya.

Melihat penyembuhan itu, lawan-lawan Yesus semakin marah. Mereka tidak dapat melihat bahwa melalui mukjizat itu, Yesus menunjukkan bahwa Dia-lah Tuan atas hari Sabat. Mereka dipenuhi amarah karena kesal atas kegagalan mencegah Yesus berbuat baik dan mengasihi orang sakit itu. Kemarahan yang terpendam sekian lama dapat menjadi sebuah kedengkian yang tidak dapat mereka kuasai, sehingga yang mereka lakukan kemudian adalah berunding untuk memikirkan cara apa lagi yang dapat mereka lakukan untuk menjatuhkan-Nya.

Dengan menyembuhkan orang sakit itu, Yesus telah mengungkapkan tujuan dan makna hari Sabat yang sesungguhnya, yaitu pemulihan bagi segala ciptaan Allah kepada hakikatnya sebagai ciptaan yang sungguh amat baik dan indah. Untuk itu Allah memberikan hari Sabat kepada manusia demi memenuhi kebutuhan manusia untuk beristirahat, untuk beribadah dan untuk bersekutu dengan-Nya. Semua hari diciptakan Tuhan untuk kebaikan manusia. Namun hari Sabat diciptakan agar dapat kita gunakan untuk memuliakan Dia serta menikmati kebersamaan dengan-Nya. Menghormati hari Sabat harus diwujudkan dengan tindakan berbuat baik dan menyelamatkan jiwa siapa saja yang perlu mendapatkan pertolongan, bukan sekadar mengikuti aturan yang dibuat manusia. Jadi, aturan Gereja juga harus diterapkan dengan memegang makna kebenaran yang lebih penting daripada sekadar mentaati tata-tertibnya saja. Semoga kita semakin bijak dan benar dalam beribadat. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalMereka yang terpinggirkan – Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan, dan berada dalam situasi yang tidak manusiawi, semoga mereka tidak diabaikan oleh lembaga-lembaga masyarakat dan tidak dipandang lebih rendah dan kurang diperlukan. 

Ujud Gereja IndonesiaInspirasi pengampunan – Kita berdoa, semoga kita rajin membaca dan menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang pertobatan, sehingga kita disadarkan, bahwa manusia siapa pun mempunyai hak untuk diampuni, jika mau menyesali kesalahannya, dan mohon pengampunan dari Tuhan yang Maha Rahim. 

Amin

Tinggalkan komentar