Tanda Salib

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XXIII, 14 September 2023
Pesta Pemuliaan Salib Suci

Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17

Kita hampir semua pernah melihat “Lambang Palang Merah Internasional”, yang dipergunakan oleh “Palang Merang Indonesia”. Bagi banyak orang namanya “Salib”. Di beberapa negara, tanda itu dianggap kurang pas. Sebab lambang itu dipakai sebagai “khas Katolik”. Bahkan ada pengikut Kristus, yang menggunakan “tanda salib” sebagai “tanda khas doanya” dan ada lainnya, yang tidak menandai dirinya dengan “tanda salib” untuk mengawali doanya. Sedangkan di kalangan serupa pula, bentuk pemakaian tanda salib Gereja Katolik Roma tidaklah sama persis dengan tanda salib pada Gereja Orthodox. 

Refleksi kita: bagaimana pun juga, para murid Kristus mengakui iman pada Kristus, dengan memakai “tanda salib”, dengan pelbagai jenis lambang salibnya; bahkan sampai menerapkannya dalam bendera negara. 

Antifon Pembuka dalam Ekaristi hari ini mengambil kutipan dari Gal. 6:14, sehingga umat diajak menyadari ulang, betapa Sang Kristus sudah sejak dini sekali menjunjung tinggi Salib, sebagai tanda dan sarana, bagaimana Sang Putra menuntaskan Pengutusan Bapa, dengan wafat di Kayu Salib. Benda berwujud ‘palang’ itu bukan lambang malang, namun merupakan ungkapan cinta kasih Guru Nasaret di puncak bakti-Nya kepada Bapa dan tanda setia-Nya pada Daya Penebusan Roh Kudus, untuk menyerahkan Diri-Nya kepada semua orang yang mengimani-Nya sampai tuntas dalam muara bakti-Nya. 

Bacaan I: Bil 21:4-9, mengajak murid Kristus sadar, bahwa sudah dalam sejarah Israel, ada ketegangan yang terpapar dalam Sejarah Keselamatan: duka derita erat berdekatan dengan TANDA CINTA yang memeluk anak-anak Israel. Umat Allah diajak menyadari, betapa kasih Allah benar-benar terwujud secara mendalam, walau pun tampaknya penderitaan yang amat berat yang ada dalam sejarah manusiawi. Kerahiman Allah tidak pernah menyerah pada dosa manusia, yang juga sering kali membebani relasi umat dengan Allahnya. Duka derita sering jelas-jelas menjadi tanda cinta kasih Allah. Simbol palang atau ular atau apa pun merupakan tanda dan sarana, betapa kasih kemurahan hari Allah melimpah terus. 

Refleksi kita: marilah kita memohon iman mendalam kepada Roh Cinta kasih Ilahi, seberapa pun pasang surut sejarahnya. 

Mazmur Tanggapan: Mazmur 78:1-2,34-35,36-37,38, mengingatkan umat, bahwa penulis Mazmur sejak Perjanjian Lama meyakini cita kerahiman Allah, di tengah lautan duka derita sejarah umat manusia. Roh Kasih Allah mengatasi segala penderitaan itu. 

Bacaan Filipi 2:6-11, memperlihatkan, bagaimana Sang Putra diutus untuk mengosongkan Diri dalam rangka untuk menyelamatkan manusia, melalui penderitaan yang amat berat. Itu semua dilakukan-Nya, ya karena taat kepada Allah Bapa, ya karena cinta kasih-Nya yang tidak berbatas kepada manusia, pendosa. Paulus mau meyakinkan para murid-Nya, betapa cinta kasih Sang Tersalib benar-benar menandakan bahwa Penebusan terwujud secara nyata, lahir dan batin dalam Sejarah Penyelamatan kita semua. 

Refleksi kita: marilah kita merenungkan dosa-dosa dan juga kasih sayang Sang Putra bagi kita ini. 

Bacaan Injil Yoh. 3:13-17, memperlihatkan bagaimana cinta kasih Roh Ilahi hadir seutuhnya dalam seluruh Sejarah Penyelamatan. Kehadiran-Nya malah mencapai puncak-Nya, ketika Allah Bapa memberikan Sang Putra habis-habisan bagi manusia yang dikasihi-Nya, walau pun diliputi dosa. Dalam seluruh peristiwa itu, Penjelmaan Sang Putra menunjukkan sampai puncak dan akhir-Nya, ketika Wafat di Salib. Sejarah Cinta kasih nampak dalam Sejarah Pengorbanan serta mewujud dalam Kisah Dukacita penuh Kasih Sayang. Betapa kita perlu menghaturkan syukur dan terima kasih sepenuh-penuhnya. 

Refleksi kita: “Allah Tritunggal kami bersyukur atas cinta kasih-Mu, yang mengampuni segala dosa dengan Salib Sang Putra-Mu. Amin”.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalMereka yang terpinggirkan – Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan, dan berada dalam situasi yang tidak manusiawi, semoga mereka tidak diabaikan oleh lembaga-lembaga masyarakat dan tidak dipandang lebih rendah dan kurang diperlukan. 

Ujud Gereja IndonesiaInspirasi pengampunan – Kita berdoa, semoga kita rajin membaca dan menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang pertobatan, sehingga kita disadarkan, bahwa manusia siapa pun mempunyai hak untuk diampuni, jika mau menyesali kesalahannya, dan mohon pengampunan dari Tuhan yang Maha Rahim. 

Amin

Tinggalkan komentar