Hari Studi KKI “Berkatekese Digital, Yuuuuk…”

Karya Kepausan Indonesia Regio Jawa mengadakan Hari Studi dengan tema “Katekese Digital.” Kegiatan dilaksanakan di Eco Spirit Center Puspanita, Bogor dari tanggal 20-22 Oktober 2023, dan akan berakhir pada perayaan Pekan Misi Nasional, sekaligus Hari Pangan Sedunia, yang diadakan di Keuskupan Bogor. 

Kegiatan yang diikuti oleh 7 Keuskupan di Regio Jawa dengan kurang lebih 50-an peserta, dibuka dengan misa konselebrasi, yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Bogor, RD. Yohanes Suparta. 

Setelah misa, masing-masing keuskupan memberikan sharing terkait kegiatan pastoral yang telah dilakukan sebagai evaluasi dari pembekalan katekese digital pertama, yang diadakan di Prigen, Malang yang diadakan tahun lalu, pada tanggal 16-18 September 2022, dengan tema “Bermisi dengan Media Digital”.

RD. Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono mewakili Keuskupan Agung Jakarta, mengakui bahwa beberapa program yang direncanakan tidak dijalankan, karena harus mengadakan Jambore KAJ (30 Juni – 02 Juli). Beberapa katekese digital yang berhasil dilakukan antara lain: membuat seminar Jesus the Influencer yang menghasilkan konten tentang panggilan secara singkat dan padat, lalu kursus misiologi 2 angkatan ke-6, dan novena panggilan serta rosario misioner secara daring. 

Dirdios Keuskupan Surabaya, Ratna Tjandrasari yang biasa dipanggil Kak Ratna mengatakan bahwa K. Surabaya berencana membuat sekolah misi. Sementara sampai saat ini kegiatan yang telah berjalan: kisah Santa-Santo yang ditayangkan Youtube dan pemahaman misi secara digital (tahun depan akan mengangkat tema Misi dalam Gereja yg satu kudus, katolik dan apostolik). Khusus untuk empat serikat KKI, sudah ada perayaan rutin. Hari Anak Misioner dirayakan di semua paroki dan untuk Hari Minggu Misi diadakan lomba bercerita mengenai misi, tujuannya agar anak dan remaja semakin giat mengenal arti misi. 

RD. Yunarvian Dwi Putranto, Dirdios Keuskupan Agung Semarang, yang akrab dipanggil Romo Yuyun mengakui bahwa satu tahun terakhir kegiatan terkait katekese digital di KAS kurang terlaksana. Pertama, karena persiapan Jamnas 2023. Kedua, saat ini KAS lebih fokus menggunakan kevikepan sebagai pusat penggerak pastoral, meskipun saat ini konten juga masih lebih bersifat informatif karena banyak kegiatan sudah dilakukan secara offline. Kegiatan digital yang telah dilakukan antara lain: membuat Digi Sekami dan Rosario misioner. Sementara untuk kegiatan Hari Anak Misioner dilakukan secara bersama-sama di keuskupan. 

Sementara itu Keuskupan Purwokerto juga mengalami kondisi serupa, namun dikarenakan saat ini tengah menggiatkan program paroki mengajar, yaitu belajar mengenai syahadat. RD. Markus Juhas Irawan, Dirdios K. Purwokerto mengatakan pengajaran katekese pada anak saat ini lebih banyak menggunakan bahan dari Youcat. 

KKI Keuskupan Bandung baru saja membentuk  tim medsos KKI dan meng-upload setiap kegiatan. Menurut Dirdios K. Bandung, RP. Petrus Maman Suparman, OSC subscribe mereka telah mencapai 2000-an. Mereka juga menciptakan beberapa lagu Sekami, salah satu di antaranya adalah Salam Misioner. 

RD. Yosef Irianto Segu, Dirdios Keuskupan Bogor mengatakan di KKI K. Bogor sendiri katekese digital belum optimal. Belum ada program-program yang secara khusus dieksekusi. Peserta Hari Studi pertama di Pringen merupakan pengurus yang fokus untuk mendampingi para peserta Jamnas 2023. Namun rencananya setelah Hari Studi kali ini dan berakhirnya Pekan Misi, mulai akan dilakukan persiapan-persiapan. 

KKI Keuskupan Malang baru saja mendapatkan Dirdios baru, yaitu: RD. Fransiskus Antonius Dimas Satyawardana. Menurut Romo Dimas, ia masih mencoba belajar dan membentuk tim baru, berupaya untuk konsolidas mengakrabkan diri dan memikirkan apa yang harus dikerjakan. 

Setelah evaluasi berakhir, sesi pertama dari Hari Studi Karya Kepausan Indonesia dibuka oleh Adriana Amalia Herviany, M.Psi., Psikolog dengan mengangkat topik “Pengaruh Digitalisasi terhadap Kondisi Psikologis”.

Para peserta diajak mengenali anak-anak dan remaja dengan memakai kacamata anak kecil. Dijelaskan mengenai tahap-tahap perkembangan anak, terutama di tahap 3 sampai 5, memakai teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Ketika anak/remaja berhasil mencapai tugas perkembangannya maka mereka akan bahagia. Sebaliknya jika tidak, maka akan memperngaruhi periode atau fase berikutnya. 

Para pendamping diberitahu bahwa anak pada umumnya ingin tahu dari jawaban empat pertanyaan berikut: apakah aku terlihat? Apakah aku dicintai? Apakah aku didengarkan? Apakah aku berarti dan bernilai? Menurut Adriana dalam berhubungan dengan anak-anak dan remaja, kita perlu memberikan empat hal tersebut sebagai fondasi untuk mengadakan koneksi dengan mereka. Koneksi bukan sekadar komunikasi, tapi adanya keterhubungan secara emosi. 

Penting untuk mengenali emosi anak dan mengisi emotional bank anak sehingga muncul rasa aman. Selain itu juga penting membangun habit di antar anak, dengan mengapresiasi mereka untuk saling menyetorkan emosi-emosi positif. Anak harus diapresiasi, diberikan kesempatan untuk berekplorasi, sehingga memiliki keberanian untuk berinisiatif, mencoba, belajar bekerjasama dan berkolaborasi dengan orang lain, sehingga memiliki kepercayaan diri karena punya pengalaman berhasil. Jika terlalu banyak pembatasan pada anak, maka anak tidak akan memiliki ruang untuk menjelajah, apalagi jika orang dewasa mengambil alih. Anak akan menjadi bingung dan tidak memahami bahwa tantangan hidup memang ada yang sulit. 

Menekankan pentingnya pertemanan pada anak-anak dan remaja maka Adriana mengatakan bahwa pengaruh hubungan sosial ini dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan pesan positif atau pun untuk mengajak anak-anak/remaja terlibat dalam kegiatan. Para pendamping diingatkan untuk bisa mendampingi anak dan remaja zaman now untuk membantu anak menemukan apa yang mereka cari di dunia digital, membantu mereka menyusun prioritas dan berlatih memahami digital foot-print. Adriana juga mengingatkan mengenai bahaya alogaritma, yang bisa muncul terus di layar anak, yang kemudian dapat mengarahkan identitas anak. Anak perlu tuntunan orang dewasa untuk memberi feed back akan informasi yang sudah di dapatkan anak di medsos, dan memberi masukan bijaksana yang belum dimiliki anak. 

Sesi kedua diisi oleh seorang influencer muda, yang sharing mengenai pengalaman suka dukanya berkatekese di dunia digital. Hari pertama kegiatan Hari Studi kemudian ditutup dengan doa rosario misioner bersama yang dipimpin oleh tim dari Keuskupan Agung Semarang. 

(Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Tinggalkan komentar