Kegiatan hari kedua Hari Studi Karya Kepausan Indonesia Regio Jawa dibuka dengan misa pagi, kemudian dilanjutkan dengan sesi ke-3 yang dibawakan oleh RD. Salto Deodatus Simanullang dan RD. Yosef Irianto Segu dengan topik “Dunia Digital dalam Perspektif Teologi dan Pedagogi.” Setelah pembekalan, Romo Segu melanjutkan sesi ke-4 dan 5, mengenalkan dua aplikasi, yaitu: Artifical Intelligence Chat GPT yang dikembangkan oleh OpenAI untuk membuat macam-macam modul; dan Capcut untuk pembuatan video campaign.



Peserta kemudian melakukan outing misi ke Kumtum Farmfield, untuk pembuatan konten kreatif. Ada 7 tema konten yang diberikan, yang kesemuanya merupakan persoalan-persoalan yang kerap dihadapi orang muda: bunuh diri, FOMO, judi online, games, hoaks, insecurity, self-harm. Setiap keuskupan diberikan waktu sekitar 2.5 jam untuk membuat konten kreatif berdurasi pendek, yang dapat menjadi pesan inspiratif terkait tema di atas.





Malamnya kegiatan dilanjutkan dengan penayangan konten kreatif dari masing-masing keuskupan, sekaligus langsung mendengarkan komentar dan masukan dari para peserta mengenai konten-konten tersebut.
RD. Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Dirdios KAJ sekaligus Koordinator KKI Regio Jawa memberikan pemaparan benang merah Hari Studi Regio Jawa sekaligus kesimpulan. Ada beberapa hal khusus yang digarisbawahi Romo Wisnu, yaitu: pertama, adanya pandangan umum bahwa orang dewasa sulit memahami anak dan remaja, dan bahwa dinamika anak dan remaja mudah dan cepat menemukan apa yang seakan tampak benar, tanpa adanya arahan dan bimbingan orang dewasa. Maka, harapannya para pendamping dapat menyediakan bahan-bahan informasi dan pemahaman tentang dunia anak dan remaja saat ini melalui dunia yang memang dihidupi dan disenangi, yaitu media sosial.
Kedua, mengenai situasi remaja saat ini. Mereka menghadapi tantangan yang sulit, antara lain: bullying, self-harm, pornografi, bunuh diri, judi online, dstnya. Meskipun demikian, sebenarnya mereka terbuka pada dialog, mudah tersentuh dan mau mencari kebenaran. Ada empat kebutuhan mereka, yaitu: butuh dilihat, didengarkan, dicintai dan dianggap penting atau berharga. Untuk itu diperlukan media sosial sebagai sarana interkoneksi yang saling terbuka dan saling percaya, aman dan nyaman. Katekese berbasis digital dilihat penting juga untuk orang dewasa, sehingga orang dewasa dapat dengan mudah dan secara terarah mendampingi, menghantar dan membantu anak dan remaja.
RD. Markus Nur Widipranoto selaku Dirnas Karya Kepausan Indonesia mengucapkan terima kasih sekaligus mengapresiasi pemilihan topik Hari Studi yang tepat. Romo mengingatkan bahwa tugas pelayanan Karya Kepausan Indonesia adalah katekese. Melalui digital, dunia hidup saat ini, katekese yang dapat dilakukan KKI adalah katekese misioner. Secara marketing kita harus menjawab persoalan utama, yaitu bagaimana agar iman kekristenan dan Yesus Kristus laku bagi anak zaman now? Untuk itu kita perlu menyesuaikan dengan dunia saat ini, yaitu digital.

Ada dua topik yang bisa diangkat dan sebenarnya tidak harus dipisahkan, lanjut Romo. Topik pertama adalah topik sekular, seperti topik-topik konten yang dibuat dalam latihan pembuatan konten kreatif hari ini, misalnya topik bunuh diri. Lalu topik kedua adalah topik spiritual, langsung pada iman. Ini sering disebut sebagai katekese apologetik. Namun Romo juga berpesan bahwa digital hanya sebagai sarana, bukan tujuan kita. Sarana ini bisa berubah kapan saja dan bisa menjadi pedang bermata dua, tergantung ada di tangan siapa. Untuk itu dalam dunia digital, orang dewasa perlu siap mendampingi anak dan remaja yang masih mudah mengumbar tanpa membedakan mana yang layak atau tidak, apakah aman atau tidak.
Bicara mengenai orang muda dan digital, Romo mengatakan mereka mudah rapuh, tidak siap ditolak, mudah kesepian dan merasa kosong. Namun juga memiliki peluang, yaitu gampang percaya, terbuka pada hal-hal baru dan bisa berjejaring. Dari zaman dulu ataupun sekarang, kerinduan untuk dicintai, diterima dan merasa berharga selalu ada pada makhluk apapun. Tidak pernah berubah. Sama halnya seperti Yesus dahulu, sekarang, selama-lamanya tdk berubah.


Setelah dua kali mengikuti Hari Studi, Romo Nur mengatakan inilah saatnya untuk beraksi: Go Mission! Ada dua cara bisa dilakukan, yaitu: jalan struktural dengan membuat aplikasi dan jalan personal, sesuai dengan talenta masing-masing. Romo menutup pembicaraan dengan meminta para peserta bertanya pada diri mereka sendiri: Apakah kehadiranku, sapaanku, eksistensiku membuat org lain merasa diterima, dicintai, dan merasa bernilai?



Romo Wisnu mengumumkan bahwa Hari Studi KKI Regio Jawa tahun depan akan diadakan pada bulan September, di Keuskupan Bandung. Dan oleh karena Romo Wisnu telah mendapatkan penugasan baru, maka koordinator KKI Regio Jawa diserahkan kepada RD. Markus Juhas Irawan, Dirdios K. Purwokerto. Kegiatan hari kedua kemudian ditutup dengan doa rosario misioner bersama.
(Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)
