Renungan Harian Misioner
Selasa, 07 November 2023
P. S. Willibrordus
Rm. 12:5-16a; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:15-24
Ketika membuat renungan ini, tiba-tiba saja saya teringat akan kejadian puluhan tahun silam. Sebagai seorang yang baru tiba di negeri lain, saya merasa sangat asing dan tidak mempunyai kenalan seorang pun. Bahasa, budaya dan iklim yang sangat dingin membuat saya harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru. Tetapi malam itu terasa lain. Sepasang suami-istri yang tidak saya kenal sebelumnya mengundang saya untuk makan malam. Makan bersama inilah yang menjadi awal dari persahabatan kami. Sejak saat itu kami pelan-pelan mulai mengenal satu sama lain dan mulai sering berbagi cerita perjuangan hidup masa lalu, entah suka maupun duka. Saya masih menjalin hubungan persahabatan dengan mereka sampai sekarang ini. Betapa indah kenangan akan persahabatan kami dan semua ini bermula dengan peristiwa yang sangat sederhana, makan malam bersama. Saya hanya membayangkan bagaimana jadinya kalau saya menolak undangan mereka waktu itu!
Perumpamaan tentang perjamuan seringkali dipakai Tuhan Yesus untuk lukiskan betapa indah hidup dalam Dia. Perjamuan bukan lagi sekadar makan minum dan berbagi cerita tentang suka duka kehidupan ini, melainkan saat di mana para tamu undangan menjadi saudara satu sama lain dan ikut ambil bagian dalam hidup Yesus sendiri. Inilah persaudaraan yang sejati yang dibangun bukan saja karena ikatan darah, melainkan karena “mendengar sabda-Nya dan melakukannya”.
Tidak mengherankan jika menjelang wafat-Nya di kayu salib, Yesus mengundang para murid-Nya untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya dengan makan bersama-Nya. Inilah kenangan yang paling agung dalam sejarah hidup manusia. Yang dihidangkan-Nya bukan lagi roti dan anggur, melainkan secara “trans-substansi” menjadi tubuh dan darah-Nya sendiri. Perjamuan ini bukan lagi perjamuan duniawi melainkan perjamuan surgawi.
Kita semua adalah tamu undangan dan diharapkan untuk datang memenuhi rumah-Nya, seperti apa yang diharapkan oleh Tuhan sendiri: “Rumah-Ku harus penuh”. Sebagai tamu undangan, barangkali saat ini secara rohani kita merasa miskin dan cacat, buta dan lumpuh, atau berada di persimpangan jalan sebagai pencari iman. Namun, apa pun yang terjadi, kita tetap dicintai-Nya dan dianggap sangat berharga di mata-Nya.
(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Untuk Bapa Suci – Kita berdoa untuk Bapa Suci, semoga dalam menjalankan tugas perutusannya, Beliau dapat terus menemani umat yang dipercayakan kepadanya dengan pertolongan Roh Kudus.
Ujud Gereja Indonesia: Kekerasan seksual – Kita berdoa, semoga institusi-institusi gerejani dapat menciptakan suasana dan rasa aman serta mampu menegakkan protokol yang bisa menjauhkan dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap mereka-mereka yang lemah dan rentan.
Amin
