Hamba ALLAH

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XXXII, 14 November 2023
P. S. Yosef Maria Pignatelli

Keb. 2:23-3:9; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10

Dari abad ke abad, di banyak bangsa, hubungan akrab terjadi langkah demi langkah antara Allah dengan manusia. Dalam Perjanjian Lama, sering kali hubungan itu dilukiskan seperti relasi antara Tuan dan hambanya. Di kalangan banyak suku zaman kuno, relasi itu diwarnai oleh suasana akrab dan persaudaraan: walau tetap antara Tuan dan Hamba-Nya. Singkatnya: bukan hubungan yang penuh dengan penindasan atau kekerasan. Relasi itu tumbuh dan berkembang tahap demi tahap secara berangsur-angsur, sejak Abraham sampai di Tanah Suci, sesuai Perjanjian Allah. 

Refleksi yang dapat kita lakukan dalam kerangka pengalaman hidup kita sendiri: sejauh manakah kita sungguh merasakan kedekatan hubungan batin maupun lahiriah dengan Allah dan memandang pada Allah dengan hati yang akrab, yang menyentuh budi dan hati? 

Bacaan I: Kitab Kebijaksanaan 2:23-3:9: relasi Allah dengan manusia dipaparkan sebagai relasi, yang sangat dekat dan kuat. Suasana itu melukiskan dengan sangat mendalam, bagaimanakah Allah melimpahkan Roh Kasih-Nya sedemikian, sehingga tidak serupa dengan banyak suasana religius dalam banyak suku bangsa masa itu, melainkan meresapi diri seluruh  bangsa, melalui pembentukan adat istiadat yang indah. Hal itu tidak sekali jadi, melainkan melalui pengalaman dalam sejarah dikuatkan dengan banyak pelaksanaan pembiasaan, yang dilalui sejak anak-anak, remaja, pemuda dan masa dewasa. Dalam pada itu, iman Israel diingatkan, bahwa semuanya terwujud karena karunia Illahi, bukan karena sukses manusia satu demi satu, melainkan sebagai buah dari cinta Allah. Marilah berdoa: “Tuhan ajarilah kami membuka diri pada-Mu”.

Bacaan Injil: Lukas 17:7-10: Dalam sejarah umat manusia dan bangsa-bangsa, mudahlah ditemukan, adanya hubungan penuh kekerasan dan kekejaman antara pemilik usaha dengan karyawannya. Begitulah pula yang kita alami sampai sekarang. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan  kepada para murid-Nya, agar membangun relasi saling menghargai antara atasan dan bawahan dalam hubungan kerja. Yang ada di pimpinan menunjukkan sikap baik budi; yang menjadi karyawan dalam organisasi juga bekerja baik serta menghormati sepantasnya kepada pimpinan. Perkembangan sistem organisasi di masa sekarang ternyata tidak mengubah sikap yang nampak dalam ajaran Yesus, yaitu kesediaan untuk saling menghargai. Sementara itu, Tuhan Yesus mengingatkan pula, bahwa Tuhan mau melingkupi manusia dengan daya penyelamatan-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita berdoa: “Allah Bapa kami, terimakasih bahwa kami telah kaulibatkan dalam karyaMu. Kami bersyukur atas kemurahan hatiMu untuk melimpahkan pengampunan atas kesalahan kami dan tetap menghargai relasi dengan kami. Berkatilah kami ya Allah yang baik”.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalUntuk Bapa Suci – Kita berdoa untuk Bapa Suci, semoga dalam menjalankan tugas perutusannya, Beliau dapat terus menemani umat yang dipercayakan kepadanya dengan pertolongan Roh Kudus. 

Ujud Gereja Indonesia: Kekerasan seksual – Kita berdoa, semoga institusi-institusi gerejani dapat menciptakan suasana dan rasa aman serta mampu menegakkan protokol yang bisa menjauhkan dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap mereka-mereka yang lemah dan rentan. 

Amin

Tinggalkan komentar