Berjumpa dengan TUHAN dalam Doa

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XXXIV, 02 Desember 2023
P. S. Bibiana

Dan. 7:15-27 ; MT Dan. 3:82-87; Luk. 21:34-36

Lukas menyampaikan nubuatan akhir zaman sebagai lanjutan akan penjelasan keruntuhan Bait Allah dan penghancuran kota Yerusalem. Lukas menggambarkan tanda-tanda kosmis yang mengiringi kedatangan Tuhan yang akan mengadakan perombakan atas segalanya yang ada sekarang. Kuasa para bangsa yang selama ini memegang kekuasaan di bumi akan berakhir dengan kedatangan Tuhan yang digambarkan datang di atas awan dalam kuasa dan kemuliaan. Kerajaan Allah akan digenapi, murid-murid boleh mengangkat kepala, sebab penyelamatan mereka sudah dekat. Mereka akan dibebaskan dari penganiayaan dan diberi bagian dalam kemuliaan-Nya. Tetapi Tuhan mendorong agar para murid perlu tetap waspada terhadap kedatangan-Nya. Ia mengingatkan bahwa tanda-tanda pada pohon-pohon pun akan menyatakan bahwa penggenapan Kerajaan Allah dan kedatangan Anak Manusia sudah dekat. Mereka tidak boleh lengah (Luk. 21:5-33). Hari ini kita mendengar wejangan penutup tentang akhir zaman tersebut yang ditandai dengan peringatan-peringatan untuk berjaga-jaga.

Peringatan pertama dengan nada negatif, kita diingatkan kepada dua keadaan yang menyebabkan pengikut Yesus tidak siap untuk menyambut hari kedatangan-Nya: pertama, bila berada dalam keadaan terbuai dalam dunia hiburan, pesta pora dan mabuk minuman. Keadaan kedua adalah kekhawatiran akan hal-hal duniawi: makanan, minuman, pakaian serta kekayaan. Kedua keadaan ini dapat menjadi penghalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka yang mengikuti arus dunia ini akan terperanjat dalam jerat ketika hari kedatangan Tuhan datang.

Kata-kata peringatan Yesus ini dimaksudkan bagi seluruh umat Allah dari segala zaman, bukan hanya mereka yang hidup pada hari-hari akhir zaman sengsara itu. Allah menuntut kesetiaan rohani, yang adalah sangat penting mengingat pengajaran Yesus bahwa Ia akan kembali bagi semua orang yang percaya dan setia. Kapan kedatangan-Nya nanti, saatnya tidak disangka-sangka. Bagi Gereja, waktu ini tidak dapat ditentukan, karena itu orang-orang percaya harus selalu siap.

Peringatan kedua yang bernada positif, mengandaikan berjaga-jaga dengan senantiasa berdoa. Sebagai murid-murid Tuhan, kita hanya dapat bertahan sampai Tuhan datang bila hidup kita dalam keadaan berjaga-jaga dan berdoa. Kedua hal ini harus berjalan bersama. Berjaga-jaga adalah sadar untuk hidup benar dan layak di hadapan Tuhan. Bukan suatu usaha ‘meramal’ dengan menghitung-hitung kapan tepatnya kedatangan Yesus, melainkan percaya dan taat penuh kepada firman-Nya.

Para pengikut Kristus, adalah orang-orang yang percaya, yang harus waspada terhadap dosa dan terus berdoa agar kasih mereka kepada Kristus tidak luntur serta kuat untuk menghadapi pencobaan. Berdoa juga berarti menyadari diri tidak sanggup jika harus berjaga-jaga dengan kekuatan sendiri; kita harus bergantung pada kekuatan dari Allah. Berdoa juga berarti mempercayakan hidup kita dengan keyakinan bahwa Allah seantiasa menjaga dan mencukupkan kebutuhan kita. Berdoa menyebabkan kita tidak tergoda untuk menyangkal iman kita ketika menghadapi persoalan selama penantian. Dengan demikian, kita akan menerima kekuatan Allah untuk bertekun serta bertahan dalam iman dan kebenaran dalam Yesus Kristus. Dengan ketekunan ini, sebagai murid-murid, kita tidak akan ketakutan di tengah segala hal yang menimpa bumi saat kedatangan-Nya.

Marilah kita menata dan menjaga hidup serta doa kita dengan baik. Menjaga diri dengan baik, berarti menjaga hati dari kesenangan duniawi dan kemabukan akan kepentingan hidup yang dapat membuat kita berpaling dari kehidupan sesuai iman. Perhatian berlebihan kepada kepentingan hidup seperti: keluarga, pekerjaan, rekreasi, masalah, penyakit, dll dapat membuat kita tidak peduli lagi terhadap masalah rohani kita. Fokus hanya kepada kepentingan hidup dapat membuat kita tidak lagi mendengarkan Allah, atau mencari kehendak-Nya bagi hidup kita. Siap siaga setiap waktu dengan berdoa, bercakap-cakap dengan Allah dan mendengarkan Dia melalui pembacaan Kitab Suci akan menjaga hati kita. Mengapa kita perlu menjaga hati? Karena hati adalah pusat perjumpaan kita dengan Tuhan di dalam doa. Dengan terus-menerus memelihara relasi dengan-Nya melalui setiap perjumpaan dengan-Nya, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya sehingga kita selalu siap sedia menghadapi setap penyelenggaraan hidup yang telah disediakan-Nya bagi kita. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Untuk mereka yang berkebutuhan khusus – Kita berdoa untuk mereka yang hidup dalam berkebutuhan khusus, semoga mereka menjadi pusat perhatian masyarakat dan lembaga-lembaga dapat memberikan program-program bantuan inklusif yang menghargai partisipasi aktif mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaPerubahan iklim – Kita berdoa, semoga kita bersyukur bahwa Tuhan telah berkenan menjadi manusia yang hidup di dunia, dan karena rasa syukur itu kita terdorong untuk secara individual maupun kelompok ikut mengatasi masalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang kini mengancam bumi sebagai rumah kita bersama. 

Amin

Tinggalkan komentar