Kesaksian dan Misi Kita Bukan Kewajiban Apalagi Paksaan

Renungan Harian Misioner
Minggu, 17 Desember 2023
HARI MINGGU ADVEN III

Yes. 61:1-2a,10-11; MT Luk. 1:46-48,49-50,53-54; 1Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8,19-28

Terang dan gelap adalah simbol yang dikenal dalam hampir semua agama dan budaya. Gelap sering dikaitkan dengan kebutaan, ketidakpastian, tanpa harapan, ketakutan dan kematian. Karena manusia tidur saat malam, maka gelap juga dikaitkan dengan ketidaksadaran dan ketidaksiapan. Di belahan bumi lain, gelap dan musim dingin berkaitan: saat matahari sangat singkat menyinggahi bumi. Bumi menjadi dingin dan tidak produktif. Maka, gelap juga dikaitkan dengan kematian, dukacita dan ratapan. 

Masuk akal jika manusia menghargai terang dan siang. Terang menjadi simbol pencerahan, harapan, hidup, masa depan dan perubahan. Bahasa semua agama dan budaya penuh dengan kosa-kota seputar terang. Terang juga sering dikaitkan dengan kemuliaan. Maka cahaya, terang, kilat, dll, sering bersamaan dengan penampakan Tuhan. Dalam injil keempat, tugas Yohanes bukanlah untuk membaptis Yesus melainkan untuk bersaksi tentang Dia sebagai Sang Terang, yang akan menuntun manusia kepada hidup sejati. Yohanes mengajak kita untuk bersaksi tentang Terang sejati, yang membebaskan manusia dari ketakutan dan ketidakpastian, dari dukacita dan kematian. Bersaksi untuk Terang Sejati itu panggilan dan misi kita semua. Seperti Yohanes, kita semua “diutus Allah” untuk bersaksi (ay. 6). Tugas itu berasal dari Allah, bukan sekadar hobi dan petualangan kita. Kesaksian dan misi kita adalah panggilan, bukan kewajiban apalagi paksaan.

Yohanes memberi kesaksian tentang Yesus, sang Terang bagi dunia. Ia sendiri bukan terang itu (ay. 8). Yohanes sendiri menegaskan bahwa ia bukan Mesias, bukan Elia, bukan juga seorang nabi (ay. 20-21). Ia hanyalah “suara” yang mewartakan Sang Terang (ay. 23). Artinya, isi kesaksian Yohanes hanyalah tentang Kristus, sang Terang, bukan hal-hal lain. Penegasan ini amat relevan. Mudah sekali kesaksian menjadi promosi prestasi rohani sendiri. Mudah sekali isi kesaksian bukan Kristus tetapi Aku, bukan untuk Yesus tetapi demi fulus.  

Tujuan kesaksian Yohanes juga jelas: “supaya melalui dia, semua orang menjadi percaya” (ay. 7b). Mudah sekali khotbah hanya menarik pendengar kepada si pembicara, bukan kepada Tuhan. Mudah sekali pewartaan dan renungan hanya membawa pendengar pada pikiran dan pendapat pribadi, bukan pada iman kepada Kristus. Mudah sekali Sharing Kitab Suci berubah menjadi ajang pamer kehebatan menafsir dan merangkai ayat-ayat suci.

Perhatikan juga cara Yohanes bersaksi: tekun dan tegas. Ia dengan tekun dan teguh menyerukan agar orang meluruskan jalan bagi Tuhan (ay. 23). Saksi bagi Kristus bukanlah misi instan dan musiman, tetap panggilan seumur hidup untuk berani dan terus-menerus mengatakan kebenaran. Yohanes harus berhadapan dengan instansi resmi yang sering mencurigai dan takut kehilangan posisi. Para saksi Kristus yang sejati pasti dicurigai dan diselidiki, dibenci dan disuruh berhenti. Akan tetapi, seperti Yohanes, mereka harus tetap bersaksi tentang Kristus: karena Dia sebenarnya sudah hadir di tengah dunia ini, dunia gelap yang masih mencari-cari sang Terang sejati.

(Hortensius Mandaru – Pembina Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Untuk mereka yang berkebutuhan khusus – Kita berdoa untuk mereka yang hidup dalam berkebutuhan khusus, semoga mereka menjadi pusat perhatian masyarakat dan lembaga-lembaga dapat memberikan program-program bantuan inklusif yang menghargai partisipasi aktif mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaPerubahan iklim – Kita berdoa, semoga kita bersyukur bahwa Tuhan telah berkenan menjadi manusia yang hidup di dunia, dan karena rasa syukur itu kita terdorong untuk secara individual maupun kelompok ikut mengatasi masalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang kini mengancam bumi sebagai rumah kita bersama. 

Amin

Tinggalkan komentar