Usia Bukan Alasan untuk Menolak Tugas Perutusan TUHAN

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Adven III, 20 Desember 2023
P. S. Filigon

Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 1:26-38

Pembaca Ren-Har KKI yang terkasih, Shalom!

Firman Tuhan pada hari ini, Rabu Pekan III Adven, tanggal 20 Desember 2023, mempertemukan kita dengan “seorang perempuan muda,” pertama dalam “Nubuatan Nabi Yesaya,” dan kemudian dalam “Penggenapannya di dalam Injil.” Selain perempuan muda ini, ada juga “seorang perempuan lanjut usia”, yang Tuhan pertemukan dengan kita lewat Firman-Nya. Siapa perempuan muda ini dan siapa perempuan tua itu, dan apa pesan yang mereka bawa untuk kita dalam masa persiapan peringatan kelahiran Tuhan ini? 

Perempuan muda yang melahirkan Imanuel

Perempuan muda yang dihadirkan kepada kita dalam Nubuat Nabi Yesaya, adalah sosok seorang yang telah dipersiapkan Tuhan dalam karya-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa mereka. Perempuan muda ini hadir dengan tugas, untuk “mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan diberi nama ‘Imanuel’”(Yesaya 7:14).

Peneguhan dari perempuan yang lebih tua

Ketika menerima tugas untuk menjadi Bunda bagi Sang Imanuel, perempuan muda itu masih belum percaya diri, masih perlu tanda tanya sesuai perhitungan manusiawi mengenai soal kelahiran seorang anak manusia, yang secara alamiah harus melewati jalan pernikahan. Jalan itu belum jelas, karena Perempuan muda itu belum bersuami, dan karena itu tentu saja belum saatnya untuk menjadi ibu (Lukas 1:34).

Menjawab kegalauan perempuan muda yang mendapat tugas untuk menjadi ibu tersebut, akhirnya Malaikat Gabriel, yang membawa tugas perutusan kepada perempuan muda itu, menegaskan tentang apa yang telah dilakukan Allah bagi seorang Perempuan yang lebih tua, yakni Elisabet, saudaranya: “Dan sesungguhnya Elisabet sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:36-37).

Setelah diyakinkan bahwa panggilannya untuk menjadi Bunda Imanuel ini adalah sepenuhnya ditentukan oleh kuasa Allah, kuasa yang melampaui daya nalar manusia, seperti yang dialami Elisabet, si perempuan tua itu, akhirnya Maria, perempuan muda ini, dengan sepenuh hati berserah diri kepada rencana Tuhan, katanya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

“Usia bukan alasan untuk menolak tugas & tanggung jawab dari Tuhan”

Bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin. Dan kemungkinan itu telah menjadi nyata dalam perkandungan Elisabet, si perempuan tua itu. Maka sekalipun “tidak/belum bersuami” sang perempuan muda ini menyerahkan diri kepada Tuhan, untuk taat setia sebagai seorang hamba yang siap melakukan kehendak tuannya. 

Soal usia antara yang tua dan yang muda ini, sering menjadi tempat sembunyi ketika ada tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan. Di dalam pertemuan doa misalnya, ketika kita meminta seorang yang muda untuk memimpin doa, sering kita dengan jawaban ini, “Ah, saya masih muda, belum berpengalaman, biarlah yang tua saja yang memimpin doa!” Sementara ketika kita beri kesempatan kepada yang lebih senior untuk memimpin doa, sering kita dengan alasan ini, “Waduh, saya sudah tua. Biar saja yang lebih muda memimpin doa!

Kita belajar dari kedua perempuan dalam Firman Tuhan ini, yakni bahwa ketika Tuhan memberi tugas dan tanggungjawab untuk dilakukan demi keselamatan umat-Nya, Santa Elisabet dan Bunda Maria tidak menggunakan usianya sebagai “alasan untuk menolak tugas yang diberikan kepada mereka”. Keduanya menerima apa yang ditugaskan Tuhan, dan karena itu Yohanes dan Yesus Kristus, bisa hadir dalam Sejarah Keselamatan Umat Manusia.”

Santa Elisabet dan Bunda Maria, doakanlah kami supaya dapat menerima dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang Tuhan Yesus berikan kepada kami. Amin!

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Untuk mereka yang berkebutuhan khusus – Kita berdoa untuk mereka yang hidup dalam berkebutuhan khusus, semoga mereka menjadi pusat perhatian masyarakat dan lembaga-lembaga dapat memberikan program-program bantuan inklusif yang menghargai partisipasi aktif mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaPerubahan iklim – Kita berdoa, semoga kita bersyukur bahwa Tuhan telah berkenan menjadi manusia yang hidup di dunia, dan karena rasa syukur itu kita terdorong untuk secara individual maupun kelompok ikut mengatasi masalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang kini mengancam bumi sebagai rumah kita bersama. 

Amin

Tinggalkan komentar