ALLAH Hadir

Renungan Harian Misioner
Kamis, 11 Jan 2024
P. S. Aleksander

1Sam. 4:1-11; Mzm. 44:10-11,14-15,24-25; Mrk. 1:40-45

Sejak kisah penciptaan, perjalanan, pembuangan dan ‘pemberontakan’ sangat jelas isi utama iman Israel, yaitu bahwa Allah yang memberi hidup, yang memberi daya gerak, yang mengisi ruang lingkup serta memulihkan segala masa kosong pribadi maupun kehidupan bersama mereka. Apabila Allah hadir, maka segala sesuatu dalam diri, keluarga, suku, bangsa maupun segala sesuatunya akan terisi penuh kebahagiaan. Mutu hidup mereka terletak dalam kehadiran Allah. 

Refleksi kita: dalam hidup kita sekarang demikiankah juga prasyarat kebahagiaan kita? Adakah kaitan antara kebanggaan dan keindahan hidup kita dengan pengakuan KEHADIRAN ALLAH dalam hati kita semua? 

Bacaan I: 1 Sam. 4:1-11: melukiskan dengan simbolik politik, keyakinan batin itu. Dalam sejarah anak cucu Abraham-Ishak-Yakub sangat sering terjadi malapetaka politik, yang tergambarkan dalam hancur leburnya masyarakat Israel ditindas bangsa lain. Hal itu sering kali terlihat, baik dalam peristiwa militer, perdagangan, ekonomi, politik yang tidak jarang memuncak dalam dirusaknya pusat kehidupan Israel: khususnya peristiwa itu mencuat dalam rusaknya “tempat suci” dan binasanya “tenda suci”, sehingga Allah tidak mempunyai tempat suci dalam keluarga Israel. Kondisi itu bukan sekadar kerusakan materiil salah satu rumah mereka, tetapi membuat mereka sadar, bahwa “bagi keturunan Umat Beriman itu, Allah tidak mempunyai arti lagi.”

Refleksi kita: bagi umat Allah di masa kini, kehadiran Allah benar-benar berdampak dalam sikap batin manusia ataukah tidak? Perlu direnungkan, jangan-jangan Allah tidak lagi terasa dalam batin perseorangan atau keluarga Umat Allah? 

Mazmur Tanggapan: Mazmur 44:10 dst dimadahkan untuk mengajak umat merenung: sejauh manakah ibadah dan hidup doa mencerminkan sikap dasar kita, untuk memberi tempat kepada Yang Mahakudus dalam Umat Beriman? Ataukah sebenarnya tidak lagi ada hubungan antara hidup sehari-hari pribadi, keluarga, masyarakat sampai dunia kita? Jadi iman kita tidak dicerminkan dalam kehidupan kepercayaan orang beriman? Kalau demikian, iman memang tidak lagi mewarnai kehidupan kita dalam “jalan bersama” sebagai bangsa Tuhan yang sungguh beriman? Ataukah ritus dan pelbagai lambang dalam doa tidaklah mencerminkan satunya iman dan kehidupan sehari-hari? Perlukah bertobat? 

Bacan Injil: Mrk. 1: 40-45 menggambarkan peristiwa perlunya berpadu: “hidup beriman, kesehatan yang menghidupkan dan keyakinan batin dalam hidup umat”. Sebab, sakit kusta itu sedemikian berat, sehingga amat dekat dengan kematian: dan mati adalah “tidak memiliki hidup”seperti ketika orang tidak atau belum diciptakan. Murid Kristus diajak untuk meyakini terpadunya iman dengan kepenuhan hidup, ya karena iman yang kuat. Dengan keyakinan itu, penyembuhan dari sakit maupun pemulihan dari penderitaan, bukanlah sekadar baiknya kulit atau daging dari sakit, seberapa pun sakit yang diderita. Makna terdalamnya adalah “bahwa Tubuh Manusia merupakan tempat ALLAH HADIR”. Refleksi kita: sejauh manakah kita membuka hati yang sadar akan Allah yang Hadir dalam hidup pribadi, keluarga maupun masyarakat kita? 

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Karunia keberagaman dalam Gereja – Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk mengenali anugerah berbagai karisma dalam komunitas Kristiani dan menghargai kekayaan berbagai tradisi dan ritus dalam Gereja Katolik. 

Ujud Gereja Indonesia: Keluarga muda – Semoga keluarga-keluarga muda menemukan ruang pribadi yang intim dan penuh cinta Ilahi di tengah kesibukan kerja, rumah tangga dan peran dalam Gereja dan masyarakat. 

Amin.

Tinggalkan komentar