Renungan Harian Misioner
Kamis, 18 Januari 2024
Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Kristiani
1Sam. 18:6-9; 19:17; Mzm. 56:2-3,9-10a, 10b-11, 12-13; Mrk. 3:7-12
Kisah tenggelamnya kapal Titanic adalah kisah abadi yang terus dikenang oleh banyak orang. Tepatnya pada dini hari tanggal 15 April 1912, RMS Titanic dinyatakan tenggelam dan menewaskan lebih dari 1.500 orang. Kapal buatan Harland and Wolff di Belfast itu menabrak gunung es saat pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York City, Amerika Serikat. Meski telah tenggelam lebih dari satu abad, kisah tentang Titanic tak pernah usang ditelan waktu. Perusahaan penciptanya sangat bangga dengan kelahiran Titanic yang langsung menyandang gelar kapal terbesar dan termegah di dunia. Siapapun akan mengakui RMS Titanic adalah pencapaian intelektual terbesar pada saat itu. Pelayaran perdananya pun dihadiri oleh lebih dari 100.000 orang. Para pembuatnya merasa hebat bahkan yang terbaik dari yang lainnya. Bahkan konon dalam kisahnya ada seorang penumpang bertanya kepada salah satu kru dari kapal ini, “seberapa kuat dan tangguh kapal ini berlayar di Atlantik?” Awak kapal itu menjawab, “Oh yes sir, sedemikian kuatnya kapal ini, sampai-sampai Tuhan pun tidak sanggup menenggelamkannya”. Namun ada yang mereka lupakan dari semua ini. Tidak cukup jika hanya memiliki intelektual yang hebat saja. Tanpa nilai-nilai spiritualitas, tanpa nilai-nilai kerohanian, manusia akan kehilangan jati dirinya, dan arah tujuan dirinya kelak, sehingga tanpa nilai itu manusia akan jatuh dalam kesombongan. Ini juga yang terjadi pada Saul yang dalam beberapa hari ini kita baca kisahnya dalam Kitab Samuel.
Saul adalah raja pertama Israel yang dipilih oleh Allah. Namun, karena ketidaktaatannya, ia mengalami kejatuhan dan akhirnya ditinggalkan Tuhan. Saul juga menjadi raja yang iri hati kepada pelayannya, Daud. Saking iri hatinya, ia tega berulang kali mencoba menghabisi Daud. Tapi karena Daud juga adalah pilihan Allah dan ia taat, Daud mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Saul memulai tugasnya dengan baik akan tetapi ketidaktaatannya memelesetkan apa yang seharusnya menjadi suatu kepemimpinan yang luar biasa atas bangsa Israel, yang dilandasi penghormatan kepada Allah berakhir dengan tragis.
Bagaimana bisa seseorang yang dekat pada Allah pada awalnya berakhir dalam kondisi kehilangan kendali dan tidak menyenangkan Allah? Jawabannya tentu karena kesombongan diri. Kehebatan dan pencapaian yang luar biasa tanpa diisi dengan nilai-nilai kerohanian dapat membuat orang mudah untuk menjadi sombong, merasa lebih hebat dari yang lain, menjadi lebih otoriter dan mudah untuk menjadi marah dan iri hati bila ada orang lain yang lebih hebat dari dirinya sendiri. Ketika wanita-wanita Israel menyanyi sambil menari-nari dengan memukul rebana sambil berbalas-balasan, katanya, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Maka bangkitlah amarah Saul dengan amat sangat. Perkataan itu sungguh menyebalkan hatinya dan menaruh dendam kepada Daud (1 Sam. 18:6-9).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Orang yang selalu mengisi hidupnya dengan nilai-nilai spiritualitas akan senantiasa menjadi rendah hati dan selalu mengingat Penciptanya. la akan senantiasa sadar bahwa seluruh dirinya, kemampuan yang dimilikinya dan segala yang telah diraihnya adalah semata-mata karena anugerah Allah, karena Allah berkenan dan memberkatinya. Mengejar pencapaian akan kesuksesan hidup di dunia ini kadang membuat kita terlalu sibuk dan melupakan bahwa ada hal yang juga penting untuk selalu diberi makan pada jiwa kita yaitu spiritualitas. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita, di setiap karya-Nya dan di tengah-tengah “kesibukan-Nya” mengajar dan menyembukan banyak orang, la selalu menyingkir dari keramaian bersama murid-murid-Nya (Markus 3:7) tidak lain untuk hening sejenak dan masuk dalam hadirat bersama Bapa untuk men’charge‘ kembali hidup spritualitas agar tidak mudah digoyangkan oleh popularitas dan akhirnya jatuh pada kesombongan.
(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Karunia keberagaman dalam Gereja – Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk mengenali anugerah berbagai karisma dalam komunitas Kristiani dan menghargai kekayaan berbagai tradisi dan ritus dalam Gereja Katolik.
Ujud Gereja Indonesia: Keluarga muda – Semoga keluarga-keluarga muda menemukan ruang pribadi yang intim dan penuh cinta llahi di tengah kesibukan kerja, rumah tangga dan peran dalam Gereja dan masyarakat.
Amin
