Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa II, 19 Januari 2024
P. S. Gerlakus
1Sam 24:3-21; Mzm 57:2.3-4.6.11; 2Kor 5:19; Mrk 3:13-19
Setelah menyembuhkan banyak orang dan membebaskan mereka dari roh-roh jahat (Injil kemarin), Yesus naik ke atas bukit. Apa yang akan dilakukan-Nya? Biasanya Yesus akan berdoa (bdk. Mat. 14:23). Bukit atau gunung adalah tempat doa, pertemuan mesra Yesus dengan Allah, Bapa-Nya. Dan hari ini, di tempat itu, Yesus melakukan panggilan-Nya yang kedua dalam tulisan Markus. Panggilan yang pertama, adalah panggilan untuk menjadi penjala manusia; panggilan ini mengandung tuntutan untuk mengikuti Dia dengan segera dan meninggalkan segalanya demi Dia (lih. Mrk. 1:16-20). Sedangkan panggilan kedua hari ini, dilakukan-Nya untuk menetapkan kedua belas rasul.
Tidak banyak syarat yang dipakai oleh Yesus untuk memilih. Dia tidak memilih yang paling kuat, yang wajahnya menarik dan rupawan, perawakannya tinggi atau semampai, yang pandai atau terkenal, dan syarat-syarat lain yang biasa kita pikirkan. Sebaliknya Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dia menetapkan pilihan-Nya berdasarkan kerelaan hati orang yang dipanggil, yang menurut pertimbangan-Nya cocok untuk dipanggil dan yang sudah ditentukan-Nya sesuai dengan pelayanan yang disediakan-Nya bagi orang-orang yang bersangkutan sebagai anugerah yang berasal dari diri-Nya sendiri (bdk. Yoh. 15;16; Yer. 1:5-7; Yes. 49:6).
Dan yang menarik adalah, mereka yang dipanggil itu pun datang kepada-Nya! Dia berhasil memanggil orang-orang itu agar memisahkan diri mereka dari antara kerumunan orang banyak dan mendekati-Nya. Mungkin beberapa dari mereka memang sudah punya keinginan untuk datang kepada-Nya karena berharap dapat ‘memerintah bersama’ Dia, ketika mereka masih mempunyai anggapan yang salah tentang seorang Mesias. Dan ketika akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah memiliki motivasi yang salah, mereka tidak menyesal telah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Dia. Tapi yang pasti, Yesus tidak pernah menginginkan keikutsertaan yang terpaksa, tetapi karena rela hati.
Kemudian Yesus menetapkan dua belas orang, yang disebut-Nya rasul. Mereka dipilih dari berbagai latar belakang dan kebanyakan orang ‘biasa’. Di antaranya adalah nelayan, pemungut cukai dan pejuang kemerdekaan bangsa Yahudi. Tidak mudah bagi mereka untuk hidup bersama-sama dengan latar belakang yang berbeda-beda. Untuk itulah Yesus menetapkan tugas mereka yang pertama yaitu: menyertai Dia.
Sebagai murid, kedua belas orang itu harus belajar bukan dari pengajaran-Nya saja, tetapi juga dari kehidupan Yesus, gaya hidup dan kesabaran-Nya hari demi hari. Bukan hanya belajar suatu pelajaran tertentu, melainkan mengikuti Dia ke mana pun Dia pergi, bercakap-cakap dengan Dia, dan melihat kesaksian hidup Yesus yang akan mengajar mereka semua. Semua ini ditetapkan Yesus supaya setelah waktu yang cukup lama, mereka akan mampu menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang telah dirancangkan-Nya bagi mereka dan memampukan mereka untuk mengajar orang lain.
Kesiapan mereka dalam mengikuti Yesus dalam tugas yang pertama itu akan membuat mereka siap untuk melakukan tugas yang kedua dan ketiga, yaitu: memberitakan Injil dan mengusir setan. Tugas ini tidak mudah, tetapi Tuhan Yesus memperlengkapi mereka dengan kuasa untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir setan. Maka, ketika mereka mengikuti Yesus, mereka pun dapat melihat sendiri kebenaran-kebenaran mukjizat yang dilakukan-Nya dan dapat menjadi saksi bahwa kuasa yang dilakukan Yesus ketika membuat mukjizat adalah benar Kuasa Allah sendiri.
Jumlah yang ditetapkan sebagai rasul adalah dua belas orang, kelihatannya sesuai dengan jumlah suku-suku Israel. Tapi jumlah ini dijadikan ukuran bagi para pemimpin umat perdana, sehingga jumlah dua belas itu pun digenapkan kembali setelah Yudas Iskariot tidak bersama-sama dengan para rasul lainnya lagi. Jumlah ini pun tetap selama-lamanya mendapat penghormatan di sorga (bdk. Mat. 19:28). Urutan nama mereka disebut tidak sama seperti yang ada dalam Injil lain, tetapi nama Petrus selalu ditempatkan pada urutan pertama, sedangkan Yudas Iskariot selalu pada urutan terakhir.
Kita adalah murid-murid Yesus yang tidak masuk dalam bilangan kedua belas rasul tersebut, tetapi prinsip panggilan kita sebagai murid Kristus tetap sama, yaitu untuk: menyertai Dia, diutus memberitakan Injil dan mengusir setan. Kita pun dipanggil sesuai dengan pribadi kita masing-masing, Yesus mengenali nama kita masing-masing yang unik dan berbeda satu pribadi dengan lainnya. Kita juga diminta untuk hidup bersekutu dalam Yesus, mengikuti Dia dan belajar daripada-Nya, sampai akhirnya menerima pengutusan-Nya serta melakukan pelayanan pewartaan Injil dengan kuasa dan otoritas yang diberikan oleh Yesus. Panggilan pertama mungkin sudah kita lakukan, tetapi bagaimana dengan panggilan selanjutnya, apakah sudah kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya? (ek)
(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Karunia keberagaman dalam Gereja – Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk mengenali anugerah berbagai karisma dalam komunitas Kristiani dan menghargai kekayaan berbagai tradisi dan ritus dalam Gereja Katolik.
Ujud Gereja Indonesia: Keluarga muda – Semoga keluarga-keluarga muda menemukan ruang pribadi yang intim dan penuh cinta llahi di tengah kesibukan kerja, rumah tangga dan peran dalam Gereja dan masyarakat.
Amin
