Apakah Aku Akan Tetap Setia pada Tuhan Yesus?

20 Januari 2024

Kegiatan penutupan dan perutusan Penggerak Misi di Keuskupan Tanjung Selor sore hari diisi dengan evaluasi dari para Penggerak Misi. Berbagai kisah mengalir dengan refleksi berbeda akan apa yang dirasakan dan dialami selama mengikuti program Indonesia Bermisi.

Mendekat kepada Sabda Allah

Novriyanti Sisiliana T adalah seorang mahasiswi dan mulai mengikuti program Indonesia Bermisi sejak masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Ia tertarik mengikuti program ini sejak mengikuti retret dari pengurus KKM-KWI. Pada awalnya ia merasa takut, namun seturut perjalanan waktu dan melalui proses mentoring, ia semakin yakin untuk tetap mengikuti Indonesia Bermisi sampai selesai. Perubahan yang dialaminya: sekarang ia rajin membaca Kitab Suci dan berdoa.

Iman Bertumbuh 

Katarina adalah seorang katekis, namun dalam pelayanan terkadang ia merasa lelah, mudah marah dan emosi. Melalui program Indonesia Bermisi, Rina dikuatkan bahwa pelayanan harus dibarengi dengan bantuan Roh Kudus. Ia kemudian menyadari banyak hal terjadi dalam hidupnya sebagai bantuan dari Roh Kudus. Imannya dirasakannya bertumbuh secara luar biasa.  

Pertobatan yang Terus-Menerus

Maria Angelina Kedang sangat bersyukur mengikuti Indonesia Bermisi. Awalnya ia sempat diingatkan teman-teman kerjanya jika keterlibatannya dalam program ini bisa berdampak pada pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan, khususnya pada masa pandemi. Namun dengan bantuan Roh Kudus, ia tetap melanjutkan program. Sebelumnya ia jarang melakukan pengakuan dosa, namun sekarang ia mau pergi melakukan pengakuan dosa. Ia merasa bebannya terangkat dan bersemangat kembali dalam melayani. Ia sadar Tuhan yang menyelenggarakan segalanya. Tugasnya hanya menjalani pelayanan dengan sebaik mungkin. Ia pun sudah memulai program sahabat misi. 

Seperti Natanael diajak Filipus

Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, Bill Fredy Bungko bisa terlibat dalam Indonesa Bermisi karena ajakan dari 2 temannya: Oshi dan Rina. Sejak ikut program ini, Bill mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan dalam Gereja. Sebelum ikut Indonesia Bermisi, ia belum tahu banyak tentang tentang Kitab Suci. Namun, sekarang ia selalu membaca Kitab Suci dan akhirnya terlibat sebagai lektor di Gereja. 

Buka Hati – Siap Belajar

Oshi Polina mengaku susah membuka diri terhadap siapa saja. Awalnya ia terlibat di kegiatan Gereja sebagai bagian dari Komsos, lalu ia menjadi Ketua OMK di Malinau. Namun ia belum memiliki pemahaman yang mendalam tentang Gereja. Dalam mengikuti program Indonesia Bermisi, Oshi akhirnya pelan-pelan bisa membuka diri kepada orang lain dan bersyukur dalam program ini ia bisa belajar banyak hal. 

Kerinduan Mencari Tuhan

Sebelum mengikuti program Indonesia Bermisi, Catrine Gelu Hengky merasa hidup dalam dosa. Namun Catrine merasa bebas dan bebannya diangkat karena dalam program Indonesia Bermisi ia dianjurkan untuk mengaku dosa. Hal menggembirakan lainnya ialah Catrine kini lebih sering membaca Kitab Suci, suka mendengarkan lagu rohani, dan mencari sumber-sumber rohani seperti podcast rohani dan banyak hal baik lainnya.

Tetap Setia Hingga Akhir

Tidak semua Penggerak Misi merasa sukses dan berhasil setelah mengikuti Indonesia Bermisi. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Hendrikus Fean Putra merasa sebagai produk gagal dari program ini. Ia mengaku awalnya sangat bersemangat, namun memasuki tahun kedua semangatnya mulai menurun. Namun, ia tetap berusaha mengikuti program hingga selesai. 

Katarsis – Pemurnian Panggilan Misi

Romo Nur meneguhkan para Penggerak Misi bahwa wajar jika dalam pelayanan tidak selalu bersemangat. Ada momen di mana kita akan merasa jauh dari Tuhan. Begitu pun ada momen di mana kita merasa sangat dekat dengan Tuhan. Pengalaman-pengalaman ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan bisa saja karena kehendak Tuhan. Romo berharap bahwa pengalaman-pengalaman baik maupun kurang baik yang dialami oleh para Penggerak Misi ini bisa menjadi katarsis (pemurnian), menjadi momen bertanya “apakah aku akan tetap setia pada Tuhan?” Romo menyarankan agar para Penggerak Misi tetap berdoa dalam keadaan apapun, entah dalam masa sulit dan masa senang. “Teruslah berdoa.”

(Ignasius Lede – Komisi Karya Misioner KWI)

Tinggalkan komentar