Setia Diutus

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa IV, 01 Februari 2024
P. S. Severus

1Raj. 2:1-4,10-12; MT 1Taw. 29:10,11ab,11d-12a,12bcd; Mrk. 6:7-13

Setiap anak pasti pernah diutus Ibunya mengantar sesuatu (kue, roti, lemper, dsb) kepada Nenek atau Bapaknya yang sedang berkarya. Dia kemudian akan ditanyai, apakah pengutusan itu sudah dilaksanakan dan disampaikan kepada alamatnya. Dengan demikian, sifat SETIA DIUTUS adalah bagian dari hidup kekeluargaan. Sikap itu amat penting dalam HIDUP BERSAMA di kampung atau bertetangga. Kita semua gembira, bila mempunyai generasi muda, yang SETIA DIUTUS. Sebab sifat itu menyebabkan anak itu akan pantas menjadi penerus keluarga atau cocok untuk dipekerjakan dalam kerjasama apapun. Dia bisa diandalkan dalam keluarga. Kita semua sadar, bahwa dengan bersikap demikian, kita mengikuti jejak Tuhan Yesus, Sang Putra, yang setia diutus oleh Bapa di surga untuk menyatu dengan manusia. 

Refleksi Kita: sejauh manakah kita SETIA DIUTUS, dalam urusan kecil maupun besar? “Tuhan, inilah saya: siap Kau utus. Berilah Roh Kudus-Mu, supaya saya dapat Kau utus untuk pelbagai macam tugas-tugas”. 

Bacaan I: 1 Raj. 2:1-4.10-12: Tindakan yang dikisahkan dalam bacaan pertama ini amat biasa terjadi yaitu pesan terakhir dari orang tua yang akan segera dipanggil oleh Tuhan. Kata-kata akhir itu umumnya akan amat diingat-ingat oleh anak-cucu: sebagai warisan berharga. Sering kali kita hanya mengingat pesan akhir seputar pembagian warisan atau segi materiil lain; padahal sesungguhnya, seluruh hubungan kesetiaan itu merupakan ‘tanda dan saran’ cinta kasih dan bakti yang kita pelihara baik-baik dalam keluarga besar seluruhnya. 

Refleksi Kita: Alkitab itu warisan berharga dari leluhur. Kita junjung tinggi juga? Kita baca dan pasti kita laksanakan? 

Bacaan Injil: Mrk. 6: 7-13: Beberapa Rasul dari ‘generasi pertama’ kita ingat, sebagai Utusan Tuhan dengan tugas jelas dan luhur, seperti Petrus, Yohanes, Matius, dsb. Generasi berikut, sering disebut 70 Murid, diberi tugas untuk mewartakan Kabar Gembira. Mereka diharapkan menjadi murid yang SETIA DIUTUS. Atas pelayanan mereka itulah, kita memperoleh lanjutan pewartaan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, kita boleh amat bersyukur kepada mereka, karena diberi teladan yang amat indah. Sekarang ini, kita juga masih senantiasa diingatkan pada anugerah diutus mewartakan Kabar Gembira Tuhan Yesus Kristus. Hal itu kita lakukan selaras dengan batas-batas hati-budi-aksi kita. Namun semuanya perlu kita laksanakan dengan ujud termulia, yaitu: agar Rencana Allah terlaksana. Jadi, semuanya demi Kemuliaan Tritunggal Yang Maha Kudus. Oleh karena itu, marilah kita berdoa: “Terimakasih Tuhan bahwa dilibatkan dalam Pengutusan Ilahi yang agung. Sudilah mencurahkan Roh Kesetiaan untuk meneguhkan kami. Pada akhirnya, satukanlah kami dengan Sang Putra. Perkenankanlah kami mewartakan dan meneguhkan generasi kami selanjutnya, untuk selalu SETIA DIUTUS demi Kemuliaan-Mu, Tuhan.”

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan. 

Ujud Gereja IndonesiaPemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum. 

Amin

Tinggalkan komentar