Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa V, 08 Februari 2024
P. S. Hieronimus Emilianus, S. Yosefina Bakhita
1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4,35-36,37,40; Mrk. 7:24-30
“Benar, Tuhan. Namun, anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
(Markus 7:28)
Bacaan Injil Markus 7:24-30 yang kita dengarkan hari ini mengisahkan suatu peristiwa saat Yesus mengunjungi daerah Tirus, yang merupakan wilayah non-Yahudi. Saat berada di Tirus, Yesus sebenarnya hendak menepi dan tidak menonjolkan diri, namun, seorang perempuan Siria, yang juga seorang non-Yahudi, mendekati Yesus dan memohon agar Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan.
Perempuan Siria ini menunjukkan iman yang luar biasa kepada Yesus. Meskipun bukan dari kalangan orang Yahudi, dia percaya bahwa Yesus memiliki kekuatan untuk menyembuhkan anaknya. Atas dasar kepercayaannya ini, perempuan ini dengan tulus berlutut di kaki Yesus. Setelah bersujud di kaki Yesus dan memohon agar anaknya disembuhkan, Yesus pun tidak segera membebaskan anaknya dari kerasukan setan. Yesus sempat menolak, namun penolakan Yesus tidak mengendorkan niat perempuan Siro-Fenisia ini untuk memohon agar anaknya dibebaskan dari kuasa jahat: “Benar, Tuhan. Namun, anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
Perempuan Siro-Fenisia ini sadar bahwa sebagai bangsa bukan Yahudi, belum saatnya dia merasakan mukjizat Tuhan, namun dia tidak meminta lebih. Perempuan ini hanya meminta sedikit kebaikan Tuhan, percikan berkat bagai remah-remah roti yang jatuh dari meja. Remah-remah berkat itu saja sudah cukup baginya agar anaknya dapat sembuh. Tekad Perempuan Siro-Fenisia ini mengajarkan kita untuk tetap tekun dalam doa dan tidak kehilangan harapan, meskipun mungkin terasa Tuhan tidak segera menjawab doa dan permohonan kita.
Meskipun Yesus awalnya menolak, tetapi Yesus akhirnya tergerak dan membebaskan anak perempuan itu dari kuasa setan. Di sini kita melihat bahwa kasih Yesus melampaui batasan suku. Tindakan kasih Yesus ini mengajarkan kita untuk melihat setiap orang sebagai saudara dan saudari kita, serta untuk membuka hati dan melayani sesama tanpa memandang perbedaan.
Dalam hidup beriman, kita juga sering melambungkan doa dan permohonan kepada Tuhan untuk ujud-ujud tertentu. Kadang harapan dalam doa kita itu terwujud dan kadang belum. Apa yang kita lakukan saat rasa-rasanya doa-doa kita hanya menguap bersama kata-kata yang kita ucapkan? Apakah kita patah semangat dan berhenti berdoa? Atau, kita terus berdoa sampai tidak sadar bahwa kita menyelipkan sebuah permohonan dalam doa-doa itu? Lamanya menanti jawaban doa kadang-kadang membuat kita merasa tidak ada gunanya berdoa lebih lama lagi. Namun, belajar dari kisah perempuan Siro-Fenisia yang bersukacita ketika menemukan anaknya sudah dibebaskan dari roh jahat, kita diajak untuk tetap tekun dan gigih dalam doa-doa kita serta percaya bahwa Yesus akan mengabulkannya.
Misi kita hari ini: miliki iman yang teguh dengan bertekun dalam doa dan terbuka terhadap sesama tanpa membeda-bedakan.
(Ignasius Lede – Komisi Karya Misioner KWI)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
