ALLAH yang Mengasihi Bukan yang Pilih Kasih

Renungan Harian Misioner
Minggu, 11 Februari 2024
HARI MINGGU BIASA VI

Im. 13:1-2,45-46; Mzm. 32:1-2,5,11; 1Kor. 10:31 – 11:1; Mrk. 1:40-45

Agama Yahudi pada zaman Yesus menekankan prinsip tahir-najis. Mengimani TUHAN yang Mahakudus, berarti juga mengupayakan hidup yang kudus. Demi menjaga kekudusan, semua yang najis harus dijauhi. Semua yang halal dan haram didaftar dan dipetakan. Semua ‘batas’ dan ‘pintu’ diawasi dan dijaga, baik tubuh manusia (seperti kulit dan mulut) maupun gerbang kota dan batas wilayah. Batas-batas kelompok dan komunitas pun dijaga lewat perkawinan sesuku dan seagama. Penyakit kulit menjadi bukti bahwa batas tubuh tidak terjaga, sehingga cairan tubuh dapat keluar, padahal seharusnya berada di dalam. Ini dianggap menajiskan, bukan hanya orang tersebut tetapi juga sesamanya. Karena itu, seorang kusta harus dijauhkan dan menjauhkan diri. Dia tidak boleh berpartisipasi dalam ibadat maupun kehidupan sosial (Ul. 28:27). Sebelum ketahirannya dipulihkan (lewat upacara dan penyembuhan), orang itu berstatus marginal: dipinggirkan secara sosial dan keagamaan. Agama yang menganut sistem tahir-najis cenderung tidak adil, karena meminggirkan siapa saja yang dicap “najis”. Pokoknya, kesucian harus dijaga, kenajisan dan orang najis harus dijauhi. Semuanya itu diyakini sebagai  Hukum TUHAN!

Si kusta dalam Injil hari ini tidak mau selamanya menjadi korban.  Ia melawan dan bersuara. Itu pesan si kusta: Jangan pernah diam dan membiarkan ketidakadilan! Ia datang menghadap Yesus dan bersuara, padahal itu dilarang Hukum Taurat, yang hanya mengizinkan orang kusta berteriak untuk mengingatkan orang untuk menjauhinya (Im. 1:45-46). Inisiatif si korban penindasan sosial-keagamaan ini langsung ditanggapi Yesus. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh si najis itu. Dengan itu, Yesus juga melanggar Taurat (Im. 5:3; Bil. 5:2). Tetapi Yesus tidak peduli. Hukum agama yang merendahkan manusia pasti bukan berasal dari TUHAN! Bagi Yesus, agama harus didasarkan pada belas kasih. Yesus hari ini menampilkan wajah keibuan Allah sebagai TUHAN yang maha-rahim. Dalam agama belas kasih, kekudusan tidak perlu lagi diproteksi dengan pelbagai aturan tahir-najis, tetapi harus dibagi lewat pelbagai sentuhan dan tindakan kasih. Sentuhan kasih Tuhan menjadi sarana berbagi kekudusan. Si kusta menjadi sembuh dan tahir. Tempatnya dalam masyarakat dipulihkan: dari seorang yang hidup di pinggiran menjadi pribadi yang diakui dan diperhitungkan. Ia diterima kembali menjadi anggota penuh Umat Allah. Yesus menghadirkan Allah yang merangkul bukan Allah yang meminggirkan manusia, Allah yang mengasihi bukan yang pilih kasih! 

Yesus dengan keras meminta orang itu untuk tidak berkoar-koar tentang mukjizat yang dialaminya. Mengapa? Karena kerajaaan Allah sering dipersempit sebagai kebugaran ragawi dan kesejahteraan jasmani belaka. Yesus inginkan kita berfokus bukan pada penyembuhan, tetapi pada keterbukaan untuk menerima kedaulatan Allah dalam diri dan dunia. Dampaknya pasti akan nyata: kita beragama tanpa mengharamkan sesama. Belas kasih akan merombak pelbagai batas dan tembok pemisah yang sering dibuat dan diperbanyak manusia. Kekudusan Allah harus diekspansi, bukannya diproteksi dalam kesalehan pribadi dan kesempitan kelompok kita sendiri.

(Hortensius Mandaru – Pembina Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan. 

Ujud Gereja IndonesiaPemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum. 

Amin

Tinggalkan komentar