Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa VI, 12 Februari 2024
P. S. Marina
Yak. 1:1-11; Mzm. 119:67,68,71,72,75,76; Mrk. 8:11-13
Sebelum hari ini, kita telah berjumpa dengan kisah pemberian makan kepada para pengikut Yesus. Mereka sudah kelaparan setelah tiga hari mendengarkan pengajaran Yesus dan kelihatannya sudah kehabisan persediaan makanan. Sebelum roti-roti dan ikan dibagikan, Yesus menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Ucapan syukur ini adalah tanda bahwa sesungguhnya Allah adalah sumber anugerah yang memenuhi kebutuhan hidup manusia. Bagi mereka yang telah percaya dan setia mencari makanan rohani dari Yesus, akan diberi anugerah makanan jasmani melalui mukjizat Yesus yang senantiasa berbelas kasih. Tanda atau mukjizat ini menunjukkan otoritas kenabian Yesus.
Setelah membagikan makanan itu, Yesus pun naik perahu ke daerah bernama Dalmanuta, suatu lokasi yang tidak diketahui letak tepatnya, tapi tentunya berseberangan dengan tempat pembagian roti dan ikan itu. Gambaran ini menunjukkan suatu kenyataan bahwa selalu ada sisi lain yang berseberangan dalam hidup kita. Seperti tampak dalam teks, sekali lagi muncullah orang-orang Farisi yang mengajak Yesus berdebat. Mereka meminta tanda dari surga, mukjizat atau nubuatan yang akan digenapi dalam waktu dekat; mungkin dengan demikian mereka mau percaya bahwa Yesus adalah nabi yang turun dari surga. Permintaan ini tidak serta-merta memperlihatkan keinginan mereka untuk bertobat dan percaya kepada Yesus, mengingat sebelumnya mereka pernah menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari setan (lih. Mrk. 3:22).
Permintaan tanda dari surga sesungguhnya sudah mereka saksikan ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dengan turunnya burung merpati dan Suara yang yang terdengar ‘dari langit yang terkoyak’ (bdk. Mrk. 1:11). Tanda itu seharusnya sudah cukup. Namun orang-orang Farisi memang hanya berniat mencobai Yesus, sebab nantinya ketika Yesus dipaku di atas kayu salib pun mereka menghendaki sebuah tanda baru, “Jika Dia bisa turun dari salib, maka kami akan percaya kepada-Nya.” Kedegilan hati mereka tidak akan membuka mata mereka untuk memahami kasih Allah. Keinginan mereka adalah kepuasan diri sendiri. Apapun yang akan dilakukan Yesus tidak akan membuat mereka percaya, dan hal ini merupakan penolakan terhadap kemesiasan Yesus.
Yesus menolak permintaan orang-orang Farisi itu. Dia mengeluh dalam hati-Nya, keluhan yang mendalam yang mempertanyakan: “sampai kapankah Dia akan bersabar atas ketidakpercayaan manusia?” (bdk. Mrk. 9:19). Sebutan ‘angkatan ini’ selalu bercorak negatif, dan bukan berarti hanya satu angkatan itu saja, tetapi segala angkatan sampai kepada angkatan kita juga, yang memang seringkali masih mencari tanda karena ketidakpercayaan kita. Menjadi aktual ketika Terjemahan Baru-II merevisi sebutan ‘angkatan ini’ dengan ‘orang-orang zaman ini,’ karena dengan demikian, siapa pun yang membacanya, pada saat itu juga segera termasuk dalam kelompok yang dikeluhkan oleh Yesus ini. Kitalah yang sesungguhnya dikeluhkan oleh-Nya.
Yesus menyatakan bahwa kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda. Bersamaan dengan penolakan ini, Yesus meninggalkan mereka. Ia membiarkan orang-orang Farisi ini bersikukuh dengan khayalan mereka. Yesus naik kembali ke perahu dan bertolak (kembali) ke seberang. Di sanalah Dia menunggu kita, bersama-sama dengan semua orang yang keras hati, dengan tetap memberi diri-Nya kepada kita sampai mata kita semua terbuka dan melihat-Nya dengan benar.
Demikianlah dalam Injil Markus, setelah kisah ini Yesus tidak lagi membuat tanda atau mujikzat, selain dua kali penyembuhan mata dan satu kali pengusiran roh dari seorang anak yang bisu. Ini mesti menjadi peringatan bahwa seorang murid seharusnya lebih meminta kemampuan untuk melihat begitu banyak tanda yang sesungguhnya sudah hadir ditengah-tengah mereka.
Tanda terakhir Allah bagi kita nanti adalah pemberian Anak-Nya dalam Roti Ekaristi yang dibagikan itu. Yesus dalam roti-Nya sudah memberi kepada kita tanda yang paling nyata: Dia sendiri menjadi sumber kehidupan dengan memberikan nyawa-Nya bagi kita. Maka masalahnya bukan Yesus memberikan tanda-tanda baru, melainkan kita dituntut untuk membuka mata kita dan mengarahkan pandangan kita untuk melihat belas kasih Allah yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena belas kasih Allah itu sesungguhnya adalah Kristus sendiri yang telah menjadi Roti Hidup bagi kita. Dengan melihat tanda-tanda itu, kita akan sampai pada iman yang percaya, mengakui-Nya, merasakan kasih-Nya dan hidup daripada-Nya. (ek)
(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
