Renungan Harian Misioner
Kamis Sesudah Rabu Abu, 15 Februari 2024
P. S. Sigfridus, S. Klaudius de la Colombiere
Ul. 30:15-20; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 9:22-25
Bacaan Fakultatif Jesuit: Ef. 3:8-9.14-19; Mzm. 103(102):1bc-2,3-4,8-9,17-18a; Mat. 11:25-30
Kita semua sudah sering mendengar ungkapan “bahwa CINTA itu datangnya DARI MATA TURUN KE HATI”. Tidak jarang, orang menjadikannya gurauan. Padahal maknanya dapat kita resapi dengan sangat mendalam. Cinta yang tumbuh di antara kebanyakan kita itu, bila dimaknai dalam-dalam, adalah sesungguhnya cinta manusiawi. Maka dari itu cinta dapat benar-benar menyentuh panca-indra kita: sejak kita masih bayi sampai akhir hidup kita. Cinta kita sering terpukau pada apa yang kita lihat, atau tertarik pada apa yang kita dengar, serta terjamah oleh apa yang kena pada indra perabaan kita, bahkan bisa terkesan sekali oleh apa yang kita cecap, sampai yang kita hirup melalui pernapasan kita. Memang itulah segi-segi kemanusiaan kita. Lalu kita terbawa untuk mengalami, betapa seluruh diri seorang anak mengasihi Ibu kita, yang memang memasak dengan enak, tetapi juga memangku dan memeluk kita dengan mesra maupun menciumi anak-anaknya dengan lembut sehingga menyanyikan madah indah meliputi segala sesuatu yang meresapi diri seorang manusia. DAYA TARIK: hidup kita menyentuh dan dijamah melalui ‘kontak indra’; dan seterusnya menyebabkan hati dan budi kita terpukau mengatasi segala yang masuk dalam pengalaman hayati. Begitulah Allah menarik kita dalam kita mengagumi cuaca indah, kesegaran udara, kenyamanan tidur dan sampai permenungan perseorangan maupun kebersamaan kita. Tuhan benar-benar melingkupi kita penuh-penuh, sebagaimana dengan Penciptaan segala sesuatu serta Penyelenggaraan setiap lapisannya.
Bacaan I Ef. 3:8-9.14-19 mencerminkan bagi kita pendalaman sentuhan Allah, yang sering mulai dengan yang indrawi, namun merasuki diri kita, menembus pengalaman sederhana serta menyelami ‘darah batin’ sehingga menyebabkan hati kita menikmatinya secara amat mesra. Cinta kasih Allah begitu kaya, sehingga hati-budi-kulit-darah-nafas kita sering kali amat teresapi sampai sulit melupakan pengalaman dalam mimpi, saat duka, ketika sukacita serta dalam pengalaman rohani yang lebih mendalam lagi. Kita bersyukur, karena Paulus dalam Efesus menyadarkan kaitan antara Yang Manusiawi dan Yang Ilahi. DAYA TARIK: Allah, Bapa kita memang sumber segala pengalaman hidup, penyubur rasa di hati, pendalam pikiran dan pembawa kemesraan sampai mendalam.
Injil Mat. 11:25-30 menyegarkan bagi kita pengalaman sejak kecil, masa remaja sampai dewasa: bagaimana Tuhan masuk ke dalam pengalaman harian, meresapi permenungan dan menjiwai kegiatan harian kita, sendiri maupun bersama keluarga dan sesama kita yang lain. Dalam kontak dengan sesama, kita mengalami kasih sayang Allah. Hal itu dialami St. Klaudius de la Colombiere bersama St. Margaretha Allacoque, ketika dua-duanya disentuh hati dan budi mereka oleh Hati Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu, mereka berdua dan bersama banyak orang lain menyebarluaskan Kebaktian kepada Hati Yesus yang Mahakudus, khususnya berhubungan dengan Jumat Pertama. Jamahan Hati Yesus mereka maklumkan kepada sesama kita. DAYATARIK: kini, siapkah kita membagikan Kasih Hati Yesus kepada semua orang? Marilah kita mewariskan Kasih Yesus kepada semua sahabat kita. Kalau di masa Pra-paskah kita mempersiapkan diri menyongsong Hidup Baru dalam Roh (Yoh. 20:22), maka lahir dan batin kita diajak bersiaga menyediakan hati dan budi supaya Roh Ilahi mempersatukan komunitas beriman kita untuk memperoleh peneguhan yang tak henti-hentinya menguduskan.
Refleksi Kita: sejauh manakah Roh Kudus kita sambut dalam beriman kepada Bapa sehingga peresapan Roh seutuhnya menyucikan semua?
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
