Renungan Harian Misioner
Sabtu Sesudah Rabu Abu, 17 Februari 2024
P. Ketujuh Sdr Suci Pendiri Tarekat Hamba-hamba SP. Maria
Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Luk. 5:27-32
Kisah panggilan Lewi (bahasa Yunani: Matius), seorang pemungut cukai, memberitahu kita mengenai misi Yesus bagi kita yang adalah orang berdosa. Ketika Yesus memanggil Lewi untuk menjadi murid-Nya, Dia mengejutkan semua orang, termasuk Lewi sendiri. Para pemimpin agama Yahudi sangat kecewa dengan perilaku Yesus terhadap orang-orang berdosa seperti Lewi. Orang-orang Yahudi secara kasar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu orang-orang Yahudi Ortodoks yang dengan kaku menaati hukum dan semua peraturan, dan kelompok lainnya yang tidak menaati semua peraturan. Kaum Ortodoks memperlakukan kaum ini seperti warga negara kelas dua. Mereka dengan hati-hati menghindari pergaulan, menolak berbisnis dengan mereka, menolak memberi atau menerima apa pun dari mereka, menolak kawin campur, dan menghindari segala bentuk persahabatan dengan mereka, termasuk persahabatan di meja makan. Pergaulan Yesus dengan orang-orang Yahudi “kelas dua”, terutama dengan para pemungut pajak dan orang-orang berdosa, mengejutkan orang-orang Yahudi Ortodoks ini.
Ketika dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti-Nya, Lewi langsung menanggapinya. Ia berdiri dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus (Luk. 5:28). Setelah dipanggil oleh Yesus, Lewi mengadakan suatu perjamuan besar bersama Yesus yang telah menjadikannya sebagai murid. Dia mengundang teman-teman pemungut pajaknya ke pesta di rumahnya. Sebagai pemungut pajak bagi orang Romawi, Lewi mungkin mempunyai reputasi yang buruk di kalangan orang Yahudi. Teman-teman Lewi tentu saja adalah para pemungut pajak dan orang-orang lain yang dipandang sebagai orang berdosa oleh orang Yahudi Ortodoks. Lewi menceritakan kepada kita bahwa banyak pemungut cukai dan orang berdosa lainnya yang makan bersama Yesus dan murid-murid-Nya. Bagi orang Farisi dan ahli Taurat, makan bersama dengan para pemungut pajak dan orang-orang berdosa merupakan tindakan yang memalukan dan dianggap berdosa oleh lembaga keagamaan karena mereka adalah pemimpin yang sangat dihormati, pembela iman Yahudi, dan guru di sinagoga setempat.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mulai menggerutu terhadap murid-murid Yesus, dengan mengatakan, “Mengapa kamu makan dan minum bersama para pemungut cukai dan orang berdosa?” (Luk. 5:30). Mereka mengungkapkan ketidaksetujuan mereka kepada murid-murid Yesus. Ketika orang-orang Farisi menantang perilaku Yesus yang tidak lazim karena makan bersama orang-orang berdosa di depan umum, pembelaan Yesus cukup sederhana: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”(Luk. 5;31). Seorang tabib (dokter) tidak perlu merawat orang yang sehat, melainkan ia mendatangi orang yang sakit. Yesus juga mencari orang-orang yang paling membutuhkan: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:32). Yesus menyatakan diri sebagai “Dokter sejati” yang menyembuhkan tubuh, pikiran dan jiwa. Yesus datang sebagai dokter ilahi dan gembala yang baik untuk merawat umat-Nya dan memulihkan keutuhan hidup mereka.
Apa makna kisah panggilan Lewi bagi kita? Yesus adalah seorang “Dokter rohani” bagi kita. Yesuslah yang berkuasa untuk menyembuhkan hati yang jahat, pikiran yang rusak, dan kehidupan kita yang dihancurkan oleh penyakit dosa. Kita hendaknya senantiasa menyadari bahwa kita adalah orang yang sakit dan berdosa. Yesus pun memanggil kita, bukan karena kita adalah orang benar atau orang yang tidak berdosa, melainkan Dia memanggil kita dalam keberadaan kita sebagai orang berdosa supaya kita bertobat. Pada masa Prapaskah ini, kita diajak untuk menanggapi panggilan Yesus dan mengikuti-Nya sebagaimana Lewi. Gerakan untuk mengikuti Yesus bukanlah gerakan kaki, melainkan gerakan hati dan perubahan hati yang terwujud dalam cara hidup yang benar. Pertobatan merupakan suatu keputusan bahwa cara hidup lama bukanlah jalan ke depan yang baik. Kitalah yang mengetahui bahwa kita telah melakukan atau sedang melakukan kesalahan. Oleh karena itu, jalan baru harus kita tempuh, yaitu jalan pertobatan.
Marilah kita senantiasa menyadari bahwa kita bukanlah orang benar. Kita membutuhkan Yesus karena Dia datang untuk memanggil kita supaya kita bertobat. Yesus telah menyatakan misi-Nya dengan tegas: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi untuk memanggil orang berdosa”. Jangan sia-siakan misi Yesus bagi kita!
(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen Universitas Katolik Weetebula, NTT)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
