Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan II Prapaskah, 28 Februari 2024
P. S. Hilarus
Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28
Dalam perikop Injil yang kita baca dan renungkan hari ini, Yesus berbicara kepada kedua belas murid-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat. 20:18-19). Dalam Injil Matius, Yesus telah memberitahukan hal serupa kepada para murid-nya sebanyak dua kali, yaitu pada Mat. 17:22-23 dan Mat. 16:21-23.
Saat para murid mendengar pemberitahuan yang pertama (Mat. 16:21-23), Petrus – salah satu murid Yesus, tidak rela mendengar bahwa Gurunya akan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh. Maka ia menarik Yesus dan menegor Dia, katanya, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Apa reaksi Yesus? Yesus marah dan ganti memarahi Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Pada saat pemberitahuan kedua (Mat. 17:22-23), Penginjil Matius tidak melaporkan apa yang terjadi di antara para murid Yesus kecuali menuliskan bahwa “hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.”
Kita bisa memahami reaksi Petrus dan para murid Yesus yang lain yang mengalami kesedihan mendengar bahwa Guru mereka akan mengalami banyak penderitaan dari para tokoh agama waktu itu dan akhirnya dibunuh. Ketika mereka menyaksikan bahwa apa yang dikatakan Yesus itu terjadi, mereka lari tunggang-langgang dan meninggalkan Yesus seorang diri. Dan setelah Yesus mati dan dikuburkan, mereka mengurung diri dalam sebuah ruangan karena ketakutan (lih. Yoh. 20:19). Pada saat itu, para murid belum mengerti sama sekali kata-kata Yesus yang menyusul di belakang kata “akan menderita dan dibunuh”, yaitu: “pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Baru setelah Yesus menampakkan diri-Nya setelah kebangkitan-Nya, para murid mengingat kembali kata-kata Yesus itu dan memahaminya.
Pesan apa yang bisa kita tarik dari kisah di atas? Pertama, Yesus tahu dan menyadari sepenuhnya bahwa Dia akan ditolak, diolok-olok dan akhirnya dibunuh di Yerusalem. Namun, Ia tidak melarikan diri dari penderitaan dan kematian yang akan menimpa diri-Nya. Ia setia pada tugas perutusan yang diberikan Bapa-Nya yaitu menebus dosa manusia. Betapa besar cinta Yesus kepada kita! Apa balasan kita? Mau tetap tinggal dalam keadaan berdosa? Kedua, pada saat kita mengalami penderitaan, kita perlu belajar untuk setia pada tugas perutusan kita seperti yang dilakukan Yesus. Kita perlu hati-hati: banyak orang lari dari penderitaan dan meninggalkan tugas perutusannya bahkan meninggalkan Yesus! Kita harus selalu ingat: bila kita tetap bersama Yesus pada saat menderita, kita akan bangkit bersama Dia! Ketiga, sebagai murid-murid Yesus, kita diundang untuk berempati dan solider pada saudara-saudari kita yang menderita, karena dengan menemani dan menolong mereka, kita melakukannya untuk Yesus (Mat. 25:40). ***
(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
