Bagaimana Tanggapan Kita Akan Belas Kasih Allah?

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan II Prapaskah, 02 Maret 2024
P. S. Simplisius

Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk.15:1-3.11-32

Selalu ada hal yang membuat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada Yesus. Bagi mereka, apapun yang dilakukan Yesus adalah suatu hal yang layak dikritik. Kali ini Yesus dikritik karena kedekatan-Nya dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Para pemungut cukai dan orang berdosa sesungguhnya mengikuti Yesus dalam pelayanan-Nya, dengan perasaan rendah hati dan takut akan ditolak oleh-Nya; perasaan yang timbul dari anggapan orang Yahudi yang merasa dirinya saleh, dan menempatkan pemungut cukai sebagai orang berdosa. Bagi orang Farisi sendiri, bergaul dengan orang berdosa, dapat mencemarkan diri dan ‘tertular’ kedosaan mereka.

Atas tindakan mereka itu, Yesus merasa perlu menjelaskan maksud kedekatan-Nya dengan para pendosa itu dengan menceritakan tiga buah perumpamaan mengenai sesuatu ‘yang hilang.’ Perumpamaan pertama tentang domba yang hilang, ingin menunjukkan pemeliharaan Allah atas orang berdosa yang malang dan terpisah dari kawanannya. Bagian ini sekaligus menegur orang-orang Farisi yang justru menjauhkan diri dari orang berdosa yang berasal dari kawanan mereka, sesama orang sebangsanya sendiri. Berbeda dengan Yesus yang menjadi Gembala yang datang untuk mencari dan menyelamatkan para pendosa yang tersesat itu. Perumpamaan kedua tentang perempuan yang mencari dirham yang hilang, mengandung pesan yang sama. Intinya, kedua perumpamaan ini lebih menyoroti tindakan sang gembala dan usaha si perempuan; keduanya mencari sampai menemukan yang hilang, untuk menunjukkan inisiatif Allah yang belaskasih-Nya dihadirkan dalam diri Yesus yang mengundang pada pertobatan. Undangan inilah yang menggerakkan mereka yang tersesat untuk berbalik kembali.

Perumpamaan ketiga bertujuan sama dengan kedua perumpamaan sebelumnya, yaitu untuk menunjukkan betapa sukacitanya Allah ketika orang-orang yang berdosa, mau bertobat. Kisah tentang seorang ayah dengan dua orang anak ini dimulai ketika si anak bungsu menuntut harta warisannya dengan tidak sopan. Ia meminta bagian warisannya dengan memperlakukan orang tuanya seolah-olah sudah mati. Sang ayah tidak menolak, bahkan ketika anak itu menjual seluruh bagiannya untuk mendapatkan uangnya, sang ayah pun tidak menunjukkan keberatannya. Sampai akhirnya anak bungsu itu ‘pergi ke negeri yang jauh’ untuk hidup berfoya-foya serta menghabiskan hartanya; suatu gambaran akan manusia yang menjauhkan diri dari penyelenggaraan Allah karena merasa dirinya sudah cukup mapan untuk mengatur hidup dan hartanya sendiri. Inilah saat di mana manusia jatuh ke dalam keadaan dosa, karena meninggalkan Allah sumber segala kebaikan dan kehidupan.

Kehidupan dosa yang dijalani anak bungsu ini membawanya jatuh ke dalam kemelaratan yang menyeretnya lebih jauh pada perbudakan (pekerjaan menjaga babi) dan kecemaran (makan makanan yang diperuntukkan untuk babi). Keadaan ini membangkitkan kesadaran dan ingatannya akan rumah bapanya. Ia menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk pulang, mengakui pelanggaran dan ketidaklayakannya sebagai anak, dan akan meminta pekerjaan sebagai seorang upahan saja. Di luar dugaannya, sang ayah yang telah melihatnya dari jauh, dan tergerak oleh belas-kasihnya, berlari mendapati anak bungsunya. Dan setelah mendengarkan pengakuan dosa dari anaknya itu, sang ayah bukan saja menerimanya kembali, tetapi juga mengembalikan segala ‘kehormatan’ si bungsu itu sebagai anak yang dikasihinya. Kisah pertama dalam perumpamaan yang ketiga ini menggambarkan Allah Bapa yang belas kasih-Nya berlimpah mendahului setiap orang berdosa yang mau mengakui kesalahannya.

Kemarahan si anak sulung atas perlakuan ayahnya kepada sang adik, memperlihatkan kejatuhannya ke dalam dosa kesombongan karena merasa dirinya telah menanam kebaikan dan ketaatan kepada bapanya. Sang bapa kemudian menyadarkan anak sulungnya itu bahwa sebagai anak yang patuh dan selalu tinggal bersama ayahnya, ia sudah turut memiliki harta kekayaan keluarga. Kenyataan itu seharusnya menjadi keberuntungan yang menjadi sumber sukacita baginya. Tetapi ia malahan berlaku seperti seorang upahan yang iri hati atas kemurahan hati bapanya. Demikian digambarkan manusia yang terlalu bangga karena taat beragama. Ia sulit menghayati bahwa hidup dalam kasih Allah seharusnya memberi sukacita yang tidak terikat pada kewajiban untuk menuntut ganjaran. Si sulung adalah gambaran orang yang tidak pernah peduli akan kasih Allah yang senantiasa menyertainya. Kehadiran tokoh anak sulung ini memang ditujukan untuk menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang tidak senang dengan pertobatan orang-orang berdosa, disamakan dengan si anak sulung yang protes atas tindakan yang dilakukan ayahnya kepada sang adik. Tepat sekali situasi si anak sulung ini yang merasa telah setia menemani ayahnya jika disandingkan dengan orang-orang Farisi yang selalu merasa hidup mereka sudah dalam kebersamaan dengan Allah. Peran mana yang Anda hidupi? (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Para martir zaman sekarang – Semoga mereka yang mempertaruhkan hidup demi pewartaan Injil di berbagai belahan dunia mengobarkan Gereja dengan keberanian dan semangat misioner mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaKeluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Semoga orang tua dan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus dapat memaknai kehadiran anak mereka sebagai anugerah dan sarana untuk mewujudkan kasih Allah secara istimewa. 

Amin

Tinggalkan komentar