Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan III Prapaskah, 07 Maret 2024
P. S. Perpetua dan Felisitas
Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Luk. 11:14-23
Setiap anak, sejak lahir, selalu membuka telinga kepada ayah dan ibunya, mengikuti sentuhan papa dan mamanya. Lebih jauh lagi, anak kecil itu menanti-nantikan komunikasi dari orang tua dan saudari dan saudaranya. Dengan demikian, seluruh hidupnya senantiasa ada dalam lingkup keluarga dan tidak pernah menjauhinya. Saling menyapa serta saling mendengarkan adalah arena hidup bersama dalam suatu keluarga.
Refleksi kita: sejauh manakah kita mengalami persatuan kekeluargaan dalam keluarga? Sejauh apa pula kita membuka telinga dan hati kita kepada Sabda Allah, yang ingin senantiasa menyapa kita, para anaknya yang terkasih?
Bacaan I: Yer. 7:23-28 memperlihatkan dengan amat jelas, bagaimana Allah berkenan berkomunikasi dengan Allah: langsung maupun melalui para utusannya,- seperti para nabi, misalnya Yeremia. Cara pandang itu menyebabkan seseorang selalu ada dalam jalur komunikasi dengan Allah. Jalur itu, kelihatannya hanya nampak apabila kita berdoa atau bernyanyi atau beribadat bersama, tetapi sebenarnya juga mewujud dalam seluruh hidup. Sebab pernapasan dan seluruh panca indra kita merupakan saluran komunikasi yang manusiawi dengan Yang Ilahi. Lukisan Yeremia amat mengesankan bagi anak cucu Abraham-Ishak-Yakub, serta diwariskan kepada kita agar supaya dapat mendidik kita untuk menjaga relasi dekat antara kita orang per orang maupun keluarga dan komunitas kita dengan Allah.
Marilah kita berdoa: Allah yang penuh kasih, kami bersyukur, bahwa senantiasa Kau jamah dan Kau hubungi. Teguhkankah kami dengan daya kasih Roh-Mu, agar senantiasa peka kepada-Mu.
Bacaan Injil: Luk. 11:14-23 memperlihatkan betapa Allah senantiasa berkenan menghubungi manusia, walaupun musuh umat manusia sering kali juga menghalangi relasi itu. Meskipun demikian, Allah mau dengan pelbagai macam cara berkomunikasi dengan anak-anak-Nya. Dari lain sisi, manusia sendiri sering kesulitan menemukan komunikasi Allah dan bahkan sering beranggapan, bahwa hubungan dengan Allah dipandang sekadar semacam relasi kodrati atau pengganggu hidup manusia saja. Oleh sebab itu, pantaslah kalau kita kerap melakukan permenungan untuk merasa-rasakan dan memikir-mikirkan serta pempraktikkan relasi dengan Allah. Oleh sebab itu, tata bicara manusiawi perlu diendapkan manusia, agar semakin lama semakin disambut, sebagai kehendak Allah untuk berkomunikasi dengan kita. Tentu saja, kata, lambang, pikiran dan tindakan manusiawi dapat membawa serta seluruh diri kita kepada Allah; namun kita perlu memohon peneguhan Allah akan kehendak-Nya mengkomunikasikan Diri-Nya dengan manusia.
Marilah kita berdoa: “Allah, Bapa kami, terimakasih atas kasih-Mu. Curahkanlah Roh-Mu, agar menyambut komunikasi-Mu.”
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Para martir zaman sekarang – Semoga mereka yang mempertaruhkan hidup demi pewartaan Injil di berbagai belahan dunia mengobarkan Gereja dengan keberanian dan semangat misioner mereka.
Ujud Gereja Indonesia: Keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Semoga orang tua dan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus dapat memaknai kehadiran anak mereka sebagai anugerah dan sarana untuk mewujudkan kasih Allah secara istimewa.
Amin
