Perjanjian Baru

Renungan Harian Misioner
Minggu, 17 Maret 2024
HARI MINGGU PRAPASKAH V

Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3,4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33

“Perjanjian Baru” berati perjanjian yang dibarui oleh Allah. Fokusnya pada prakarsa Allah (ay. 31). Itu ciri pertama Perjanjian yang baru. Bukan janji dan perjanjian antar-manusia yang penuh ingkar dan khilaf. Bukan perjanjian antar bangsa dan kelompok yang syarat kepentingan dan agenda. Dalam konteks zamannya, Perjanjian Baru ini berkaitan dengan Tanah Perjanjian yang dihuni kembali, dan kota Yerusalem yang dibangun lagi (Yer. 31:27-28, 38-40). Jadi, konteksnya manusiawi dan duniawi, bahkan politis. Iman harus menata relasi hidup bersama secara adil. Iman harus membangun, mengubah dan menerangi masyarakat.

Perjanjian yang diperbarui oleh Allah ini ditujukan kepada segenap Israel (ay.31). Itu ciri kedua. Perjanjian Baru berarti solidaritas yang baru. Tidak ada lagi pemisahan Kerajaan Israel dan Yehuda. Janji Allah itu mempersatukan, bukan memecahkan dan memecah-belah. Jangan lupa, Perjanjian baru ini diikat dengan bangsa yang lagi stress berat di Pembuangan. Jadi, janji Allah itu juga membawa optimisme dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik.

Ketiga, Perjanjian Baru ini terpatri di hati, bukan di loh batu: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka, dan menuliskannya dalam hati mereka”. Ikatan Allah dan umat-Nya tidak lagi bersifat luaran saja, tetapi mendalam; bukan harfiah melainkan batiniah. Bukan sekadar berubah penampilan, tetapi sungguh sikap dan tindakan pertobatan. Ini tidak mungkin sebelum Allah mengubah hati manusia. Dan itu sudah Ia janjikan sebelumnya: “Aku akan memberi mereka hati untuk mengenal Aku bahwa Akulah TUHAN” (Yer. 24:7a). Hukum TUHAN yang terpatri di hati memungkinkan setiap dan segenap Umat Allah menjadi sarana dan saluran kekudusan, keadilan, kesetiaan dan kebenaran TUHAN.

Keempat, hati yang baru itu juga memungkinkan semua umat Allah mengenal Tuhan (ay. 34a). Dalam Alkitab, “mengenal” berarti berelasi, bukan sekadar mengetahui. Mengenal TUHAN berarti sungguh mengalami-Nya dan mencintai-Nya serta berkomitmen untuk hidup demi tujuan dan rencana-Nya. Karena Hukum Tuhan tertulis di hati, maka pengetahuan akan huruf hukum pun terlampaui. Kini tibalah saatnya untuk mengalami dan mengamalkan inti Hukum Tuhan. Perjanjian Baru membawa “pemahaman baru”: relasi yang mendalam, penuh kasih dan komitmen dengan  Allah dan semua agenda-Nya.

Kelima, perjanjian baru didasarkan pada pengampunan total. Allah tidak lagi mengingat dosa manusia (ay. 34b). Dosa dan kesalahan di masa lampau tidak lagi menghantui umat-Nya. Pengampunan ini adalah tindakan sepihak dari Allah sendiri. Dengan aksi sepihak ini, Allah memutuskan lingkaran “dosa dan pengampunan” dalam hidup beragama yang seringkali terus saja dilanggengkan oleh aneka ritual dan kurban.

Kapan Perjanjian Baru itu akan Allah wujudkan?. Allah hanya mengatakan “akan datang waktunya” (ay. 31) dan “setelah waktu itu” (ay. 33). Waktu Allah itu adalah “saat” Tuhan kita Yesus Kristus: hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya menjadi saat Bapa mewujudkan Perjanjian Baru itu. Lewat Perjanjian Baru itulah, Anak memuliakan Bapa, sekaligus Bapa memuliakan Anak, juga memuliakan kita semua sebagai anak-anak-Nya (bdk. Yoh. 12:20-33).

(Hortensius Mandaru – Pembina Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal:Para martir zaman sekarang – Semoga mereka yang mempertaruhkan hidup demi pewartaan Injil di berbagai belahan dunia mengobarkan Gereja dengan keberanian dan semangat misioner mereka.

Ujud Gereja Indonesia: Keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Semoga orang tua dan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus dapat memaknai kehadiran anak mereka sebagai anugerah dan sarana untuk mewujudkan kasih Allah secara istimewa.

Amin

Tinggalkan komentar