Renungan Harian Misioner
Selasa dalam Oktaf Paskah, 02 April 2024
P. S. Fransiskus dari Paula
Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5,18-19, 20,22; Yoh 20:11-18
Kerap kita dalam Minggu sesudah Paskah penuh kegembiraan dan memusatkan perhatian kepada Allah, yang membangkitkan Sang Putra dari wafat di Kayu Salib. Memang, hal itu amat tepat. Sebab, persembahan Diri Sang Putra, wafat di Salib, pantas kita syukuri dengan atau tanpa nyanyian Alleluia. Sementara itu, seluruh cerita Gereja Perdana senantiasa mengingatkan kita, adanya dosa-dosa, menyebabkan Guru Nasaret harus wafat, agar kerahiman Bapa dimuliakan atas kemurahan hati-Nya. Betapa kita berdoa: Tuhan, terima-kasih ya.
Bacaan I adalah kesaksian awal dari Murid Tuhan, yang indah: Kis. 2:36-41 sungguh mengesankan karena kita ingat, bahwa sebelum ayam-jantan berkokok tiga kali, Petrus sudah terang-terangan di depan umum menyangkal Sang Guru. Dalam bacaan ini, Simon mau menghadapi lawan-lawan Tuhan yang garang itu dengan kesaksian yang menantang: tentulah karena sudah dianugerahi Roh Kudus untuk bertobat. TOBAT PASKAH ini amat mengesankan dan melimpahkan kesaksian, sehingga Hidup-yang penuh ketabahan-baru dianugerahkan kepada Murid Tuhan, maka karunia Paskah itu memperlihatkan partisipasi orang-orang yang sudah pernah berdosa, dan kemudian bertobat: selanjutnya ia boleh ikut merayakan Paskah. Artinya, ia dilewatkan (Pessah-Paskah) dari hukum sehingga disingkirkan dari ancaman disisihkan dari cinta-kasih Allah sehingga ikut diselamatkan. Banyak orang, yang di zaman Gereja Perdana, mencontoh Simon, Paulus dan kemudian seperti Agustinus dan banyak pendosa-pendosa besar, telah dilingkupi Roh untuk dimurnikan (bukan atas jasanya sendiri, tetapi karena Spirit Ilahi). Oleh sebab itu, Paskah diperuntukkan bagi semua orang; termasuk mereka yang hidupnya pernah berciri kekurangan, kelemahan, pengingkaran kepada Allah. Berapa banyak orang (juga sekarang) yang ikut berteriak-teriak, tinggalkan Tuhan, pilihlah kekerasan, ambillah kursi kedudukan untuk menguasai harta dan lalu menyembah berhala, berupa uang, ilmu, materi, ekonomi, politik dst. Namun dirahmati untuk mencicipi anugerah Paskah. Syukur Tuhan.
Bacaan Injil dari Yoh. 20.11-18 memperlihatkan Maria Magdalena yang menangis kehilangan Tuhan. Kerap dosa kita tipiskan menjadi tindakan mencolok; terlupakan bahwa dosa adalah bahwa hati kita ditutup dari cinta Allah. Maka Maria Magdalena didatangi Sang Terbangkitkan dan diutus mewartakan Yesus, yang mempunyai hidup baru demi pewartaan cinta pada sesama. Iman yang membukakan hati untuk menyambut kasih Tuhan itu membuahkan pengutusan, sesuai dengan Rencana Allah.
Refleksi kita: siapkah kita membuka hati dan menyambut pengutusan dari Sang Terbangkitkan? Sebab, buah Paskah Perdana diberikan kepada perempuan, yang dipertobatkan Tuhan itu dan menjadi utusan bagi para Utusan. Siapkah kita menjadi utusan, yang dihasilkan oleh ketaatan Tuhan Yesus dengan wafat?
Marilah kita merayakan Paskah dengan mendengarkan pesan itu juga dan mewartakan Kebangkitan Tuhan: bersama-sama membarui hidup sebagai sesama keluarga Allah; saling mendukung untuk Allah. Lengkapilah seruan ALLELUIA dengan “Pakailah kami, Tuhan”.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Peran perempuan – Semoga martabat dan nilai tinggi perempuan diakui di setiap budaya, dan semoga diskriminasi yang mereka alami di berbagai belahan dunia diakhiri.
Ujud Gereja Indonesia: Kesehatan mental – Semoga masyarakat kita memiliki kepekaan untuk mengenali orang dengan masalah kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa, serta melakukan upaya nyata untuk membantu mereka agar tetap memelihara imannya.
Amin
