Renungan Harian Misioner
Jumat, 12 April 2024
P. S. Sabas dr Goth
Kis 5:34-42; Mzm 27:1,4,13-14; Yoh 6:1-15
Pada hari ini saya memilih menuliskan renungan berdasarkan bacaan pertama yang diambil dari Kis 5: 34-42. Apa alasannya? Karena secara pribadi saya terkagum-kagum oleh keberanian para Rasul, khususnya Paulus dan Yohanes, dalam memberikan kesaksian tentang kebangkitan Yesus. Mereka adalah orang-orang biasa tapi mengapa mereka tanpa gentar memberi kesaksian di depan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat bahkan di depan Imam Agung?
Dalam Kisah Para Rasul 5:32-46 dikisahkan, pada suatu hari Petrus dan para Rasul diadili di depan Mahkama Agama yang dipimpin oleh Imam Besar. Pada waktu itu Imam Besar berkata kepada mereka, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu.Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darahOrang itu kepada kami” (ayat 28). Apa jawaban Petrus dan para Rasul atas pertanyaan itu? Petrus dengan berani memberi jawaban ini: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung Dia pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu,kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia” (ayat 29-32). Jawaban Petrus sungguh mengagumkan! Petrus dan kawan-kawannya berani memberi jawaban seperti ini karena mereka telah dipenuhi dengan Roh Kudus.
Dalam Kisah para Rasul 4:1-22 juga dikisahkan, setelah menyembuhkan orang yang lumpuh kakinya sejak lahir, Petrus dan Yohanes juga dihadapkan pada sidang Mahkamah Agama. Mereka diancam untuk tidak berbicara tentang Yesus yang bangkit. Apa jawaban mereka? Dengan berani Petrus dan Yohanes menjawab: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berbicara tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” (ayat 19). Petrus dan Yohanes tanpa takut dan berani memberi jawaban seperti ini karena mereka sungguh-sungguh telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit!
Dan dalam Kisah para Rasul yang kita renungkan hari ini, dikisahkan, sesudah para Rasul dilepaskan, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus.” (ayat 41). Ini juga aneh: dihina kok merasa gembira? Ya inilah misteri bagi orang-orang mengikuti Kristus. Mereka mengalami kebenaran Sabda Bahagia yang pernah disampaikan Yesus dalam Injil Matius, “Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran,karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku orang mencela dan menganiaya kamu serta menujukan segala fitnah kepadamu. Bersukacita dan bergembiralah,karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (5: 10-11).
Beranikah kita pada zaman ini memberi kesaksian tentang kebenaran di hadapan orang banyak? Kita pantas merasa bangga dengan kesaksian Romo Magnis Suseno di depan Mahkamah Konstitusi akhir-akhir ini. Tanpa takut beliau memberi kesaksian tentang kebenaran. Risikonya bermacam-macam: ada orang yang memberikan pujian, tapi tak jarang yang menghujat. Saya pribadi bersyukur kepada Tuhan karena pada zaman kita ini masih ada pengikut Yesus yang berani memberi kesaksian tentang kebenaran. Romo Magnis berani bersikap seperti itu pasti karena beliau sudah “mengalami perjumpaan” dengan Yesus yang bangkit dan karena beliau dipenuhi dengan Roh Kudus. Apakah Anda dan saya berani memberikan kesaksian serupa? ***
(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Peran perempuan – Semoga martabat dan nilai tinggi perempuan diakui di setiap budaya, dan semoga diskriminasi yang mereka alami di berbagai belahan dunia diakhiri.
Ujud Gereja Indonesia: Kesehatan mental – Semoga masyarakat kita memiliki kepekaan untuk mengenali orang dengan masalah kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa, serta melakukan upaya nyata untuk membantu mereka agar tetap memelihara imannya.
Amin
