Renungan Harian Misioner
Senin, 15 Juli 2024
P. S. Bonaventura
Yes 1:11-17; Mzm 50:-9.16bc-17.21.23; Mat 10:34 – 11:1; atau dr RUybs
Pernyataan Tuhan Yesus “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat. 10:34) merupakan pernyataan yang mungkin mengejutkan para murid-Nya dulu dan kita sekarang ini karena yang kita tahu Yesus adalah Raja Damai. Mengapa Yesus menggambarkan misi-Nya dan kedatangan kerajaan Allah dalam istilah konflik, perpecahan, dan perang? Kita perlu memahami “pedang” yang dibicarakan Yesus di sini bukanlah senjata fisik yang dapat menebas manusia, melainkan sebuah senjata rohani yang menembus inti batin kita untuk mengungkap kerusakan pikiran, niat berdosa, kebohongan serta penipuan setan dan kerajaan kegelapannya. Dalam Kitab Suci, Firman Allah digambarkan sebagai pedang tajam bermata dua yang “menusuk hingga memisahkan jiwa dan roh… membedakan pikiran dan niat hati” (Ibr. 4:12). Kitab Suci juga menggambarkan “Firman Tuhan” sebagai “pedang Roh” yang mempunyai kuasa untuk menghancurkan setiap benteng rohani yang membuat manusia terikat pada dosa, penipuan, dan setan (Ef. 6:17).
Pernyataan Tuhan Yesus ini mengungkapkan misi-Nya. Misi Tuhan Yesus adalah tindakan perang melawan kekuatan spiritual yang menentang kerajaan Allah dan kekuasaan-Nya atas bumi. Yesus mengidentifikasi setan sebagai penguasa dunia ini yang akan diusir-Nya (Yoh. 12:31). Peperangan yang Yesus maksudkan bukanlah konflik duniawi antara individu dan bangsa, tetapi peperangan rohani antara kekuatan setan dan pasukan surga. Apa yang dicari setan? Setan menentang Tuhan dan semua orang yang mengikuti Kristus. Si jahat hanya mempunyai satu tujuan, yakni dominasi penuh atas hati, pikiran, dan kehendak kita demi kerajaannya. Dia akan menggunakan segala cara untuk membawa kita dari kebaikan ke kejahatan, dari kebenaran ke penipuan, dari terang ke kegelapan, dan dari kehidupan ke kematian. Yesus datang untuk berperang melawan kekuatan spiritual itu. Yesus datang ke dunia ini bukan pertama-tama sebagai guru moral. Manusia pada umumnya mengenal moral yang baik dan yang tidak baik. Yesus datang ke dalam dunia untuk menyatakan Allah serta “pola hidup-Nya”. Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa dan membebaskan kita untuk hidup sebagai warga kerajaan Allah yang penuh kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus (Rm. 14:17).
Apa yang seharusnya dilakukan oleh para pengikut-Nya dan apa risiko dari keterlibatan dalam misi Yesus? Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa jika mereka mengikuti Dia, maka hal itu akan merugikan mereka karena mereka harus mengutamakan kerajaan Allah dan menaati firman-Nya, serta pasti akan menimbulkan perpecahan antara mereka yang menerima dan menolak-Nya. Pernyataan Yesus inimengungkapkan bukan apa yang Yesus inginkan terjadi, melainkan apa yang Ia lihat sebagai hasil tak terelakkan dari pesan cinta-Nya. Kasih Tuhan memaksa kita untuk memilih siapa yang paling utama dalam hidup kita. Yesus menantang murid-murid-Nya untuk memeriksa siapa yang mereka kasihi terlebih dahulu dan menjadi yang terutama dalam hidup mereka. Yesus menuntut murid-murid-Nya untuk memberi-Nya kesetiaan yang hanya diberikan kepada Allah, kesetiaan yang lebih tinggi daripada kesetiaan kepada pasangan, keluarga atau sanak-saudara.
Tuntutan Yesus ini tentu berlawanan dengan perasaan manusiawi. Pertanyaannya, mengapa tuntutan itu harus dipenuhi? Jawabannya hanya satu saja, yaitu demi Allah. Berhadapan dengan nilai yang satu ini, apa saja dan siapa saja harus mundur. Mengapa? Ada kemungkinan bahwa keluarga dan teman-teman bisa menjadi musuh kita jika pikiran mereka menghalangi kita dalam melakukan apa yang Tuhan kehendaki dari kita. Yesus menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat menjadi murid-Nya kalau ia tidak mengasihi-Nya lebih daripada ayah dan ibunya sendiri, putra dan putrinya dan bahkan nyawanya sendiri. Kita tentu menyadari dan mengalami betapa sulitnya untuk berlawanan dengan perasaan manusiawi kita. Kita hanya dapat memahami nilai penyangkalan diri total ini hanya dalam hubungan dengan Allah saja. Sejarah Gereja menunjukkan bahwa orang-orang yang mengasihi Allah, senantiasa berada dalam hubungan dengan Allah dan mendasarkan hidup pada Firman sanggup menyangkal diri dan pada akhirnya mengalami sukacita bersama Tuhan, kedamaian dan kehidupan abadi. Marilah kita senantiasa berjuang untuk mengandalkan Firman Allah, yang adalah “pedang Roh” sehingga kita sanggup menghadapi kuasa kejahatan yang bertujuan untuk menjauhkan kita dari Tuhan dan kehendak-Nya.
(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen Universitas Katolik Weetebula, NTT)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Pelayanan pastoral orang sakit – Semoga Sakramen Pengurapan Orang Sakit menganugerahkan kepada para penerima dan keluarga mereka kuasa Tuhan dan semakin menjadi tanda belas kasih dan harapan bagi semua orang.
Ujud Gereja Indonesia: Pendidikan alternatif – Semoga masyarakat semakin memahami keunikan setiap anak sehingga dapat terbuka pada bentuk-bentuk pendidikan alternatif yang paling sesuai untuk membantu tumbuh dan berkembangnya anak.
Amin
