Hening Sejenak untuk Menyapa Tuhan

Renungan Harian Misioner
Rabu, 17 Juli 2024
P. S. Alexis

Yes 10:5-7.13-16; Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat 11:25-27

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus, beberapa dari kita mungkin punya pengalaman yang sama dengan saya yang kerap kali jengkel dengan iklan yang muncul ketika membuka konten Youtube. Atau seperti ketika kita sedang mencari sesuatu di laman pencarian internet yang dipenuhi dengan banyak iklan. Sejenak kita dipaksa untuk berhenti dan menunggu untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Tetapi nampaknya hidup tanpa ‘iklan’ rasanya juga akan menjadi hambar. Demikian pula dengan hidup ini, kita perlu berhenti sejenak untuk berdiam dan melihat hal-hal baru di sekeliling, agar kita lebih memahami arti dan makna dari hidup ini. 

Terkadang saya merasa bahwa rutinitas yang berulang dan tanpa henti membuat ruang kosong yang begitu besar untuk memberi waktu pada diri sendiri sejenak berdiam, melakukan dialog dengan diri sendiri. Merenungkan apa yang harus dan perlu disyukuri atau melihat hal-hal kecil yang sudah lewat untuk memahami ada kebijaksanaan Allah dalam setiap peristiwa. Bacaan Injil hari ini, mengajarkan bahwa  orang kecil lebih bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya dibandingkan dengan orang cerdik pandai (Matius 11:25). Dalam refleksi saya pribadi, orang kecil di sini saya pahami bukan tentang ukuran fisik, struktur tatanan sosial masyarakat ataupun kecil dalam hal materi tetapi orang yang merasa kecil di hadapan Tuhan dan senantiasa membutuhkan pertolongan dari pada-Nya. Orang kecil ibarat tidak ada sesuatu yang dapat disombongkan dan tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Hal yang bertolak belakang dengan perkataan Raja Asyur dalam bacaan pertama, “Dengan kekuatan tanganku aku telah melakukannya, juga dengan hikmatku, sebab aku berakal budi; aku telah meniadakan batas-batas antara bangsa, dan telah menjarah harta persediaan mereka, dengan perkasa aku telah menurunkan orang-orang yang duduk di atas takhta” (Yes 10:13). 

Perasaan yang sama juga bisa kita alami jika kita tidak membiasakan diri untuk berhenti sejenak dan berdialog dengan diri sendiri. Dunia saat ini sangat menuntut prestasi, menghargai yang pandai, memberikan ruang dan tempat bagi mereka yang memiliki jabatan, yang memiliki kekayaan materi yang berlimpah, yang memiliki paras cantik dan mempesona, sehingga tanpa sadar kita pun bisa jatuh untuk mengejar hal-hal seperti itu secara terus menerus dengan cara bekerja dan bekerja, dengan mencari dan terus mencari. Ada kalanya, dalam pencarian ini membuat kita menjadi sombong dan tidak dapat lagi merasa kecil di hadapan Tuhan serta tidak memahami kehendak-Nya. Tantangan saya dan Anda sama persis. Kita bisa semakin pandai, bijak dan terkenal tetapi belum tentu memahami apa yang sesungguhnya yang Allah inginkan dalam hidup kita. 

Mari sejenak kita memaksa diri untuk berhenti sebentar, bagaikan iklan yang lewat yang memaksa diri kita untuk berhenti sejenak. Biarkan ruang-ruang pribadi yang kosong itu dipenuhi dengan percakapan pribadi dengan diri sendiri dan dengan Allah, Sang Pemilik Kehidupan. 

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalPelayanan pastoral orang sakit – Semoga Sakramen Pengurapan Orang Sakit menganugerahkan kepada para penerima dan keluarga mereka kuasa Tuhan dan semakin menjadi tanda belas kasih dan harapan bagi semua orang. 

Ujud Gereja IndonesiaPendidikan alternatif – Semoga masyarakat semakin memahami keunikan setiap anak sehingga dapat terbuka pada bentuk-bentuk pendidikan alternatif yang paling sesuai untuk membantu tumbuh dan berkembangnya anak. 

Amin

Tinggalkan komentar