Siapa Aku? Apa Panggilanku?

15 September 2024,

Sesi pertama Hari Studi Karya Kepausan Indonesia Regio Jawa di hari kedua diisi dengan sharing kelompok terkait pengalaman outing semalam di Braga. Setiap Dirdios memimpin jalannya sharing. Para peserta dari 7 keuskupan berbaur dalam setiap kelompok. Setelah sharing, dilakukan pleno sharing kelompok. Dalam momen ini setiap kelompok mempresentasikan hasil sharing masing-masing kelompok.

Perasaan yang Bercampur-aduk

Saat berada di jalan Braga semalam, di antara keramaian orang-orang, perasaan para peserta Hari Studi bercampur-aduk, antara senang, penasaran, lelah, sedih, waspada. Jalan Braga yang bebas kendaran dipenuhi oleh orang-orang dengan berbagai kepentingan dan tujuan. Para pengunjung ada yang mencari kesenangan dengan bersantai di bangku-bangku yang tersedia di trotoar, berfoto ria, menikmati penampilan dari berbagai hiburan di sana, namun ada pula yang ke sana untuk mencari nafkah. Inilah fenomena yang ditemukan para peserta.

Apakah Kita Cukup Peduli?

Seorang peserta menyampaikan keprihatinannya: bagaimana perasaan orang-orang yang datang untuk bersenang-senang? Apakah tidak melihat para gelandangan yang hidup di jalan? Ataukah mereka tidak merasa iba? Banyak orang yang datang mencari kesenangan, namun tidak saling bertegur sapa, misalnya keluarga datang bersama, namun asyik dengan diri sendiri dengan bermain HP. Ketidakpedulian ini menjadi salah satu aspek yang dicermati oleh para peserta. Termasuk ketidakpedulian pada lingkungan, seperti ditemukan banyaknya puntung rokok yang dibuang di pot-pot tanaman di pinggir jalan.

Refleksi “Apa yang Kamu Cari?”

Ada sebuah pertanyaan refleksi yang muncul terkait situasi di jalan Braga: apa sebenarnya yang mereka cari? Ketika individu bertemu tetapi tidak bertegur sapa. Ketika orang-orang berpapasan tetapi tidak berjumpa. Para peserta juga menyadari bahwa ada dua situasi kehidupan yang kontradiksi di momen yang sama. Sebagian datang dengan antusiasme untuk mencari kesenangan, sebagian lagi datang demi tuntutan perut dan keberlansungan hidup mereka.

Tindak Lanjut: Misionaris Muda Bisa Buat Apa?

Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai orang muda yang memiliki semangat misioner. Tentu saja, semua harus dimulai dari diri sendiri. Kesadaran untuk bersyukur atas hidup yang Tuhan berikan, lalu kemudian bagaimana bergerak keluar, berjumpa dengan sesama, menularkan spirit misi – belas kasih yang sama. Romo Maman, Dirdios K. Bandung mengatakan: tantangan untuk para peserta muda ini adalah bagaimana menjadikan Gereja menjadi titik atau tempat “berkumpul” seperti situasi jalan Braga.

Orang yang Sangat Mencintai Gereja Katolik

Sesi selanjutnya diisi oleh Albertus Gregory Tan, yang fokus dalam pelayanan untuk membangun Gereja Katolik dan membantu di bidang pendidikan. Albert membagikan kisah perjalanan hidup dan panggilannya hingga bisa menjadi misionaris yang militan seperti sekarang ini. Ia mengingatkan para peserta bahwa untuk menemukan misi Tuhan di dalam hidup ada 3 hal yang harus dilakukan, yaitu: merefleksikan hidup, keluar dari diri sendiri dan berani bertindak. Terkait proses militansi, Albert memberikan tips bahwa para peserta perlu memiliki pengalaman iman dengan Yesus, hidup dalam komunitas yang menjadi support system dan berani bersaksi akan kasih Tuhan.

Sesi ketiga diisi oleh Romo Ernest Justin, SJ, yang merupakan lulusan Psikologi dari Universitas Gajah Mada. Romo meminta para peserta memperhatikan sisi-sisi manusiawi mereka juga jika ingin menjadi militan. Di awal sesi, Romo meminta para peserta menggambarkan identitas diri mereka di kertas.

Identitas Itu Penting

Orang muda memiliki tugas untuk merumuskan siapa diri mereka – identitas mereka. Menurut Romo pencarian terhadap diri yang sejati melibatkan banyak pilihan: relasi, interpersonal, keterlibatan komunitas, panggilan, nilai religius dan moral. Untuk menemukan identitasnya, seseorang harus melakukan eksplorasi dengan terus-menerus mencari dan juga punya komitmen untuk mengubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dinamika evaluasi dan refleksi perlu digunakan terus-menerus agar para peserta bisa menemukan identitas mereka.

(Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Tinggalkan komentar