Renungan Harian Misioner
Jumat, 08 November 2024
P. S. Klaudius dkk
Flp 3:17 – 4:1; Mzm 122:1-2.3-4a. 4b-5; Luk 16:1-8
Dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, sang tuan justru memuji bendahara itu. Bukan karena perbuatannya yang jahat, tetapi karena kecerdikannya. Kecerdikan bukan sesuatu yang turun langsung dari langit, melainkan sebuah proses yang lahir dari peristiwa pembelajaran yang sangat panjang.
Proses menjadi cerdik tampaknya muncul dari dalam hati yang paling dalam melalui pertanyaan ini: “Apakah yang harus aku perbuat?” Inilah pertanyaan eksistensial, yang terkadang sangat sulit untuk dijawab, terutama ketika seseorang harus mengambil keputusan yang sangat menentukan hidupnya.
Proses berikutnya adalah kesadaran akan keadaan diri: “Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” Kesadaran ternyata merupakan “momen” yang mahal harganya tetapi sering terlambat kedatangannya. Itulah kesadaran akan kelemahan-kelemahan yang sering tidak tersadari sebelumnya. Kesadaran seperti inilah yang muncul dalam diri si anak bungsu ketika dia merasakan bencana yang melanda hidupnya: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku.” (Bdk. Luk. 15: 17-18).
Barang siapa mencari, ia akan mendapatkan. Inilah kiranya prinsip yang kemungkinan dihayati oleh bendahara itu. Ia menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri: “Aku tahu apa yang akan aku perbuat!”. Inilah kesadaran baru yang didapatnya, yang menjadi ancang-ancang atau rencana akan apa yang diperbuatnya.
Benar saja, bendahara itu langsung bertindak: “Ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya”. Apa yang diperbuatnya? Ia mengurangi jumlah hutang mereka dengan maksud mereka akan membantunya setelah ia dipecat dari jabatannya. Inilah tindakan cerdik yang dipuji oleh tuannya.
Melalui perumpamaan ini, jelas sekali bahwa Tuhan Yesus hendak menanamkan prinsip-prinsip kecerdikan kepada murid-murid-Nya. Mengapa demikian? Karena medan misi yang dihadapi para murid-Nya di kemudian hari sungguh berat, seperti domba di antara serigala, sedangkan para murid-Nya sendiri kemungkinan kurang reflektif, tidak jelas visi misi hidup mereka dan tidak jelas tindakan nyata mereka, atau dalam bahasa Paulus: “Mereka menyia-nyiakan kasih karunia yang ada pada mereka” (2 Kor. 6:1). Semoga siapa saja yang menamakan diri sebagai anak-anak terang, lebih cerdik lagi daripada anak-anak dunia ini: bertindak bijak, cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati dan tidak mati konyol di antara serigala-serigala.
(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Orang tua yang kehilangan anak – Semoga semua orang tua yang berduka karena meninggalnya putra atau putri mereka mendapatkan dukungan dari komunitas dan dianugerahi kedamaian dan penghiburan dari Roh Kudus.
Ujud Gereja Indonesia: Para imam, bruder, dan suster usia lanjut – Semoga para imam, bruder, dan suster usia lanjut tetap menemukan api cinta Tuhan dalam hidup mereka, serta bersedia membagikan inspirasi serta kisah kasih Allah pada generasi muda.
Amin
