Menjadi Pengikut atau Pengkhianat?

Renungan Harian Misioner
Jumat, 22 November 202
P. S. Sesilia

Why 10:8-11; Mzm 119:14.24.72.103.111.131; Luk 19:45-48; atau dr RUybs

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang aktivitas Yesus setelah tiba di Yerusalem. Dalam perikop sebelumnya (Luk. 19: 28-44) diceritakan bahwa saat masuk kota Yerusalem Yesus dielu-elukan oleh penduduk kota itu. Begitu tiba di kota ini, masuklah Yesus ke Bait Allah dan mulai mengusir semua pedagang di situ.

Untuk memahami tindakan Yesus itu, kita perlu mengerti konteks sosio-keagamaan pada zaman itu. Bait Allah yang berada di Yerusalem adalah pusat keagamaan seluruh bangsa Israel. Penduduk Israel yang tersebar di mana-mana datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban bakaran. Penduduk yang berasal dari luar Yerusalem tidak mungkin membawa bahan persembahannya dari kota mereka masing-masing. Situasi ini dimanfaatkan oleh para pedagang untuk mendapatkan keuntungan. Mereka menjual barang-barang yang biasa digunakan untuk persembahan di Bait Allah. Maka Bait Allah menjadi semacam pasar. Melihat situasi seperti ini, marahlah Yesus dan mulai mengusir para pedagang sambil berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku akan menjadi rumah doa. Namun, kamu menjadikannya sarang penyamun.” Kemarahan Yesus dilatarbelakangi oleh kecintaan-Nya akan Bait Allah sebagai rumah doa dan bukan sebagai tempat berjualan yang tentu saja dipenuhi oleh orang-orang yang hanya ingin mencari keuntungan semata (baca: penyamun!).

Diceritakan pula dalam bacaan Injil hari ini bahwa tiap-tiap hari Yesus mengajar di Bait Allah. Yang menarik untuk kita cermati adalah sikap para pendengar-Nya. Penginjil Lukas melaporkan bahwa “seluruh bangsa itu terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia” (ayat 48). Di sisi lain, “imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia” (ayat 47). Realitas yang sama sekali berlawanan! Dari sini kita bisa mengajukan pertanyaan, “Mengapa ‘orang-orang penting’  itu mau membinasakan Yesus?” Karena mereka merasa kepentingannya terancam: imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat khawatir kalau kehadiran Yesus sebagai Guru yang dikagumi oleh para pendengar-Nya akan menggusur kedudukan dan peran mereka.

Bagaimana sikap kita terhadap Yesus pada zaman ini? Apakah kita setia menjadi pengikut Yesus dan selalu mendengarkan Dia atau kita juga ‘membunuh’ (baca: mengkhianati) Yesus gara-gara kita ketakutan posisi atau kedudukan kita di masyarakat atau di tempat kerja terancam hanya gara-gara kita sebagai pengikut Yesus? Kalau kita memilih sikap kedua, kita identik dengan para pembunuh Yesus! Semoga kita diberi anugerah oleh Allah untuk memilih sikap pertama: setia menjadi pengikut-Nya apa pun resikonya. Dengan demikian kita akan menerima keselamatan kekal. ***

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalOrang tua yang kehilangan anak – Semoga semua orang tua yang berduka karena meninggalnya putra atau putri mereka mendapatkan dukungan dari komunitas dan dianugerahi kedamaian dan penghiburan dari Roh Kudus. 

Ujud Gereja Indonesia: Para imam, bruder, dan suster usia lanjut – Semoga para imam, bruder, dan suster usia lanjut tetap menemukan api cinta Tuhan dalam hidup mereka, serta bersedia membagikan inspirasi serta kisah kasih Allah pada generasi muda. 

Amin

Tinggalkan komentar